Seorang kawan pernah berujar, “Orang itu memang rajin ibadahnya, tapi kok tidak peka dengan tetangganya.”
Kalimat sederhana itu mengingatkannya pada penggalan materi Komika Pandji Pragiwaksono dalam Mens Rea yang sempat menuai pro dan kontra, hingga viral: “Orang yang rajin salat belum tentu orang baik. Dia hanya rajin salat.”
Padahal, ungkapan ini sejatinya akrab dalam percakapan sehari-hari. Kita sering mendengar, bahkan mengucapkannya sendiri sambil berseloroh, “Ibadahnya rajin, tapi kok sosialnya tidak saleh?”
Justru menjadi kritik halus terhadap kesalehan yang berhenti pada ritual, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi kepedulian sosial.
Mengeja Indeks Kesalehan Umat Beragama 2025
Dalam konteks inilah, Indeks Kesalehan Umat Beragama (IKsUB) Tahun 2025 menjadi menarik untuk dicermati. IKsUB yang dirilis Senin 19 Januari 2026 ini memberikan gambaran tentang sejauh mana nilai-nilai keagamaan tidak hanya dihayati secara personal, melainkan dapat diwujudkan dalam kehidupan sosial masyarakat.
Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI mencatat IKsUB 2025 berada pada angka 84,61 dengan predikat “Sangat Tinggi.” Capaian ini menunjukkan kuatnya internalisasi nilai-nilai keagamaan dalam perilaku masyarakat, baik pada ranah individual maupun sosial.
Survei IKsUB 2025 dilaksanakan oleh BMBPSDM Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (P3M) Universitas Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstandar, dengan metode Multistage Random Sampling with Quota untuk menjamin keterwakilan wilayah dan keseimbangan gender.
Sebanyak 3.441 responden terlibat dalam survei ini, dengan margin of error ±1–2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei berlangsung pada periode 1 September–30 November 2025.
IKsUB 2025 mengukur dua dimensi utama. Dimensi Individual mencatat skor 87,21, dan Dimensi Sosial berada pada angka 82,00. Pada Dimensi Sosial, sejumlah subdimensi turut dinilai, mulai dari kepedulian dan solidaritas sosial (84,22), relasi antarmanusia (82,49), etika dan budi pekerti (89,94), pelestarian lingkungan (79,90), ketaatan pada pemerintah (86,90), etika digital (79,78), sampai pelestarian budaya (70,78).
Dimensi Individual meliputi subdimensi ideologi (89,89), ritualistik (84,73), pengalaman spiritual (87,90), dan kecerdasan emosional (86,61).
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pembangunan Bidang Agama Kementerian Agama RI, Arfi Hatim, menjelaskan IKsUB dapat menjadi salah satu rujukan penting untuk melihat sejauh mana nilai-nilai esensial ajaran agama benar-benar dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.
“Survei ini mencakup berbagai aspek interaksi dan tanggung jawab sosial, seperti kepedulian, kebhinekaan, etika, hingga pelestarian budaya dan lingkungan. Aspek-aspek tersebut menilai sejauh mana nilai-nilai keagamaan tercermin dalam perilaku sosial sehari-hari” (www.kemenag.go.id dan www.bmbpsdm.kemenag.go.id)
Ragam Ekspresi Keberagamaan Seseorang
Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan mengamalkan keberagamaannya. Ada dimensi keberagamaan yang bersifat sangat personal dan tidak kasatmata (esoteris), karena bersemayam di wilayah hati yang tak terjangkau penilaian orang lain. Namun, ada pula ekspresi keberagamaan yang tampak secara lahiriah (eksoteris) dan dapat disaksikan oleh publik.
Dalam Islam, seluruh perilaku kesalehan yang mendekatkan diri kepada Tuhan masuk dalam kategori takwa. Takwa dapat diibaratkan sebagai jalan besar (syariat) menuju Allah, yang di dalamnya terdapat banyak lorong dan jalan kecil (sabil) yang bisa ditempuh sesuai kemampuan dan pilihan masing-masing individu.
Menjadi pribadi yang sepenuhnya sempurna dan utuh (kaffah) dalam menjalankan seluruh perintah Tuhan secara ideal tentu bukan perkara mudah. Setiap manusia memiliki keterbatasan dan kelebihannya. Tentunya, yang selama ini bisa dilakukan dengan berusaha meniti jalan Tuhan sesuai dengan kapasitas, potensi, dan komitmen masing-masing.
Keragaman jalan menuju Tuhan inilah yang melahirkan beragam ekspresi keberagamaan di tengah masyarakat. Dalam Islam, terdapat ritual-ritual yang bersifat seragam, seperti salat menghadap ke arah Kabah, yang orientasi batin sepenuhnya tertuju kepada Allah Yang Maha Esa. Umat Islam sepakat dalam rukun iman dan rukun Islam, termasuk keyakinan terhadap kerasulan Nabi Muhammad dan kebenaran Al-Qur’an.
Namun, dalam pelaksanaan perintah Tuhan, terutama dalam konteks ibadah social, bentuk dan pilihannya sangat beragam. Amal saleh tidak terbatas pada satu jenis (satu cara). Ibadah-ibadah sunah pun menyediakan ruang yang sangat luas untuk dipilih dan diamalkan sesuai kemampuan. Salat sunah, misalnya, jumlah dan ragamnya banyak, demikian pula keutamaan membaca Alquran yang terbuka setiap waktu.
Ibadah sosial memiliki spektrum yang luas, mulai dari sekadar tersenyum, mendoakan, menolong sesama, hingga bersedekah. Semua itu menjadi bentuk kesalehan yang dicintai Allah. Dalam menjelankan aktivitas sehari-hari seperti mencari ilmu, bekerja menjemput rezeki, mengabdi di ruang public, di bidang politik dapat bernilai ibadah. Selama niat, tujuan, dan cara yang ditempuh sesuai dengan nilai-nilai agama.
Tak kalah mulianya untuk para pendidik yang dengan penuh kesungguhan membimbing anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berbudi. Pahala bagi mereka sungguh besar dan berkelanjutan. Semua ini menegaskan tentang ekspresi kesalehan beragama sejatinya sangat beragam.
Tak ada alasan bagi siapa pun untuk merasa paling bertakwa, paling benar, paling saleh, lalu meremehkan dan menyalahkan keberagamaan orang lain. Pasalnya, setiap orang memiliki peluang, kesempatan, dan bentuk pengabdian yang berbeda-beda. Tidak seorang pun terbebas dari kesalahan dan dosa. Justru di situlah kabar gembira tentang kasih sayang Tuhan yang Maha Pengampun.
Jika keselamatan di akhirat semata-mata ditukar dengan amal perbuatan, niscaya amal manusia tak akan cukup untuk “membeli” surga. Surga adalah anugerah, yang hanya dapat diraih karena rahmat dan ampunan Allah, Sang Pemilik hak prerogatif atasnya.
Keragaman cara berpikir dan mengekspresikan agama tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang menonjol dalam ibadah sosial, namun tidak terlalu kuat dalam ritual. Ada yang dermawan dengan hartanya, ada pula yang bersedekah dengan tenaga, ilmu, doa. Untuk mereka yang turun ke jalan menyuarakan aspirasi sosial dalam melakukannya dengan niat ibadah.
Pada level paling dalam, wilayah niat dan keikhlasan, tidak ada manusia yang mampu menilai bobot amal seseorang. Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Tugas negara dan kewajiban umat beragama adalah menjaga etika sosial, ketertiban ruang publik, kedamaian dan kerukunan bersama.
Setiap orang berhak mengekspresikan keberagamaannya. Selama tidak melanggar hak orang lain dan tidak mengganggu ketertiban, kedamaian dan kenyamanan publik. (Komaruddin Hidayat, 2019: 61–63)
Iman Sosial, Kesalehan nyata
Ihwal pentingnya kesalehan sosial yang ditulis Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), dimuat Kedaulatan Rakyat (18 Maret 2025), berangkat dari gagasan tentang iman sosial, keimanan yang tidak berhenti pada keyakinan batin, tetapi harus menjelma dalam kesalehan yang nyata.
Jika keimanan adalah sinar, maka kesalehan sosial merupakan pendaran cahayanya. Bila kasih sayang adalah bahasa semesta, maka berbagi adalah huruf-huruf sucinya.
Sejatinya, ikhtiar keberagamaan tidak cukup berhenti pada sikap bersimpuh di hadapan-Nya, justru mesti berlanjut pada kesediaan berbagi dan menghormati sesama dengan cinta-Nya (QS. An-Nisa: 86).
Islam menegaskan tangan yang memberi lebih mulia daripada tangan yang meminta (HR. Muslim No. 1033). Termasuk, kata-kata yang baik lebih bernilai daripada sedekah yang disertai cemoohan (QS. Al-Baqarah: 263).
Dunia yang dibangun di atas kepedulian sosial menjadi cerminan surga yang dirindukan. Di sanalah kehidupan menjelma sebagai ruang penghambaan kepada Sang Pencipta. Semua ini harus dijalani dengan bahagia, dalam spirit kesetaraan, pelayanan, dan penghormatan kepada liyan.
Mari kita renungkan dua petuah Gus Dur tentang kebaikan, kemanusiaan lebih utama dari identitas (keimanan) agama dan suku. “Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu” Saatnya “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.”







