Ekoteologi di Sekolah: Iman yang Ramah Lingkungan

Di tengah riuh zaman yang memuja kemajuan, kita kerap lupa: bumi bukanlah tambang tanpa ujung, bukan pula tong sampah raksasa yang siap menelan dosa kolektif kita. Krisis iklim hari ini bukan sekadar badai di cakrawala, ia adalah cermin retak dari kerakusan manusia—nikel, emas, batu bara dikeruk habis; hutan ditebang atas nama investasi, sungai diperlakukan seperti selokan rumah tangga. Lalu kita mengeluh ketika banjir datang menggulung halaman.

Ironisnya, kita menyebut diri beriman, namun masih menutup mata pada jeritan alam. Padahal dalam Nilai Dasar Pergerakan PMII, ada yang disebut hablu minal ‘alam—hubungan dengan alam. Hubungan yang semestinya dirawat, bukan diabaikan. Karena, bukankah Al-Qur’an telah menegaskan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya” (QS. Al-A’raf: 56)?

Ekoteologi hadir sebagai jembatan antara iman dan realitas ekologis. Lynn White (1967) menggugat teologi yang abai pada alam, seraya mengingatkan: krisis ekologis adalah krisis spiritual. Seyyed Hossein Nasr (1996) pun menegaskan, “Kerusakan ekologis adalah akibat dari hilangnya kesadaran sakral dalam memandang alam.” Lalu, bagaimana kita mengembalikan kesadaran itu?

Jawabannya: pendidikan. Sekolah adalah ladang paling subur untuk menanamkan cinta pada bumi. Visi Kementerian Agama tentang Go Green Madrasah adalah langkah awal, tetapi tanpa kesadaran guru, siswa, dan pemangku kepentingan, visi itu hanya akan menjadi slogan di papan pengumuman.

Buya Hamka pernah mengingatkan, “Iman yang benar tidak hanya tercermin dalam shalat, tetapi juga dalam akhlak menjaga alam sekitar” (Hamka, 1982). Bahkan jauh sebelumnya, Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan amanah manusia sebagai khalifah bukan sekadar memimpin, tetapi merawat kehidupan. Jika kesadaran ini tak tertanam di ruang kelas, bagaimana kita berharap generasi mendatang tidak mengulangi kesalahan yang sama?

Namun, mengapa sekolah menjadi penting? Karena sekolah adalah ruang formasi akal dan nurani. Jika kesadaran ekologis tidak hadir di sana, anak-anak akan mewarisi budaya konsumtif yang justru mempercepat kehancuran. Lihatlah gaya hidup siswa kita: minuman dalam plastik sekali pakai, jajanan bersampah, hingga kebiasaan membeli barang tanpa memikirkan limbahnya. Semua ini adalah cermin dari kurikulum yang gagal menanamkan nilai ekologis.

Lebih jauh, transformasi ini tidak hanya tugas guru IPA atau guru agama. Ia harus menjadi visi bersama: kepala sekolah, komite, hingga orang tua. Mengapa? Karena pendidikan ekologis akan gagal jika di sekolah diajarkan “hemat energi”, tetapi di rumah lampu dibiarkan menyala sepanjang malam. Jika di sekolah diajarkan cinta pohon, tetapi di rumah orang tuanya menebang tanpa berpikir.

Paradigma spiritual dalam ekologi harus kembali dihidupkan. Kita lupa bahwa setiap tetes air, setiap helai daun, adalah ayat Tuhan yang terbentang (ayat kauniyah). Al-Qur’an berulang kali menyebut alam sebagai tanda kebesaran-Nya. Tetapi apakah kita membacanya dengan iman, atau sekadar lewat seperti iklan di jalan raya? Inilah kritik utama ekoteologi: iman kita kehilangan kaki ketika berhadapan dengan realitas lingkungan.

Di titik inilah agama punya kekuatan moral untuk mengubah peradaban. Jika khutbah Jumat hanya bicara tentang surga dan neraka tanpa menyentuh sampah dan banjir, maka kita sedang gagal membaca konteks. Jika guru agama hanya bicara soal pahala dan dosa tetapi lupa mengaitkannya dengan lingkungan, maka kita hanya sedang mencetak generasi yang saleh di masjid, tetapi abai di taman sekolah.

Karena itu, konsep Green Curriculum harus lahir bukan sekadar dari Kementerian, tetapi dari kesadaran teologis. Apa artinya? Setiap mata pelajaran—IPA, IPS, bahkan Matematika—dapat menanamkan kesadaran ekologis. Biologi mengajarkan rantai makanan, guru agama mengaitkan dengan amanah menjaga makhluk. IPS mengulas tentang ekonomi hijau. Matematika menghitung karbon dari aktivitas manusia. Pendidikan tidak lagi sekadar soal angka kelulusan, tetapi soal masa depan bumi.

Jika semua ini dilakukan, kita tidak hanya membentuk siswa cerdas, tetapi juga generasi yang punya akhlak ekologis. Sebuah generasi yang sadar bahwa menjaga bumi adalah ibadah, bahwa menanam pohon adalah sedekah jariyah, bahwa memungut sampah adalah amar ma’ruf. Inilah wajah pendidikan Islam yang kita harapkan: bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga penjaga bumi.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita renungkan: Jika iman tak menyelamatkan alam, lalu apa yang akan? Sebelum semuanya menjadi sekadar nostalgia tentang pepohonan yang pernah kita miliki, mari kita mulai dari ruang kelas—dari tangan-tangan kecil yang kelak mewarisi bumi.