Bodyisme: Agama Baru Abad 21

Beberapa waktu lalu, saat menunggu anak saya pulang sekolah, seperti kebanyakan “manusia modern”, saya membuka media sosial untuk sekadar “scrolling.” Di sana, beragam konten bermunculan, tak luput konten tentang kebugaran, olahraga, serta tips menjaga kesehatan tubuh begitu melimpah.

Tubuh barangkali menjadi ikon zaman ini, semacam perwujudan pepatah kuno yang sudah kita dengar sejak bangku SD: mens sana in corpore sano—dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ia tampil sebagai simbol kehidupan modern: kuat, berumur panjang, bersemangat, dan tak gentar menghadapi usia tua.

Bagi saya yang sempat tumbuh di lingkungan pesantren, fenomena ini terasa agak janggal. Dulu, tubuh tidak pernah mendapat perhatian sebesar itu—(mungkin ini hanya semacam subjektif saya karena menjadi santri yang agak jarang melakukan olahraga). Hampir seluruh energi diarahkan pada tahdzib al-nafs—penyucian jiwa. Olahraga belum menjadi prioritas, apalagi diet atau latihan beban. Puasa dan tirakat memang lazim dilakukan, tetapi bukan dalam bingkai “obsesi” fisik. Tubuh lebih sering dipandang sebagai sesuatu yang fana, rapuh, bahkan kadang sebagai beban karena berkelindan dengan nafsu, kelemahan, dan kefanaan. Fokus utamanya selalu pada ruhani, bukan jasmani.

Kenyataannya, dunia hari ini tampak bergerak ke arah bodyisme yang sebaliknya. Tubuh justru menjadi pusat perhatian. Ia harus dirawat, dibentuk, dihitung, bahkan dipamerkan. Dalam banyak hal, modernitas bisa disebut sebagai peradaban tubuh. Tubuh modern bukan lagi tubuh alami, melainkan tubuh yang disiplin, diatur, dilatih, dan diawasi. Dari rumah, sekolah hingga rumah sakit, dari militer hingga ruang olahraga—tubuh adalah objek yang diatur.

Industri kebugaran menjadi bukti. Gym tumbuh di mana-mana, kelas yoga tidak sekadar aktivitas fisik, tetapi bagian dari gaya hidup modernitas. Suplemen, vitamin, hingga program diet dipasarkan dengan motivasi yang menjanjikan kesuksesan, kebahagiaan, bahkan cinta. Tubuh tak lagi sekadar tubuh, ia berubah menjadi “modal simbolik”. Tubuh ramping dan bugar dianggap status sosial sekaligus bukti kedisiplinan moral. Sebaliknya, kegemukan hampir selalu dicap sebagai kelemahan pribadi—seakan-akan tubuh berlemak adalah hasil kemalasan, bukan konsekuensi dari faktor sosial atau biologis.

Meski demikian, modernitas tidak bergerak satu arah. Di tengah glorifikasi tubuh ideal, sempat lahir pula gerakan tandingan seperti “body positivity”. Mereka menolak standar tunggal kecantikan dan kesehatan, menegaskan bahwa tubuh manusia adalah keragaman, bukan sekadar angka atau ukuran. Gerakan ini mencoba membongkar monopoli definisi tubuh ideal. Namun problematisnya, meski menolak standar dominan, mereka tetap menjadikan tubuh sebagai pusat perhatian. Pada akhirnya, tubuh masih berada di pusaran wacana obsesif yang sama.

Jika abad ke-20 menjadikan tubuh sebagai komoditas, maka abad ke-21 adalah abad tentang tubuh yang menjadi data. Kita berada pada era quantified self, saat kehidupan dilacak, diukur, dan dipetakan oleh perangkat. Smartwatch menghitung langkah, merekam detak jantung, mengukur kalori, hingga menganalisis tidur. Aplikasi seperti Strava menjadikan olahraga bukan hanya pengalaman pribadi, melainkan juga ritus sosial. Lari pagi tidak lagi sekadar aktivitas, tetapi juga momen berbagi jalur, kecepatan, dan pencapaian diri. Tubuh direpresentasikan lewat grafik, angka, dan statistik.

Di satu sisi, teknologi digital memang membantu manusia lebih sadar kesehatan. Orang lebih terdorong untuk bergerak, menjaga pola tidur, atau mencapai target langkah harian. Tubuh yang dulu jarang diperhatikan saat ini lebih bisa dipantau setiap saat. Namun sisi lainnya, tubuh juga direduksi menjadi data. Tidur hanya dianggap tidur berkualitas hanya jika smartwatch memberi skor tinggi. Lari terasa berdampak saat hanya jika tercatat di Strava. Pengalaman jasmani yang seharusnya penuh rasa justru menyusut menjadi angka-angka.

Tubuh modern juga berfungsi sebagai “penanda” identitas sosial. Tubuh bugar dipandang sebagai bukti keseriusan, tanggung jawab, bahkan kesuksesan. Ia dipahami sebagai “modal moral” siapa yang sehat dianggap lebih produktif, lebih layak diakui. Sebaliknya, tubuh gemuk, sakit, atau jarang berolahraga sering dicap sebagai kegagalan pribadi. Padahal, tubuh tidak sepenuhnya berada di bawah kendali individu. Genetika, kondisi ekonomi, akses makanan sehat, hingga lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh itu sendiri. Tetapi narasi dominan membuat tubuh tampak seperti proyek individu, yang jika gagal hanya berarti satu hal. Manusia itu kurang disiplin.

Media sosial memperkuat tren ini. Tubuh tidak lagi hanya dilihat, tetapi juga dipertontonkan. Foto dan video olahraga, tangkapan layar aplikasi kebugaran, hingga pencapaian 1.000-10.000 langkah per hari dibagikan untuk konsumsi publik. Tubuh menjadi bagian dari performa identitas. Kita bukan hanya hidup dengan tubuh, tetapi juga menampilkannya. Di ruang digital, tubuh berubah menjadi arena kompetisi. Siapa yang lebih sehat, lebih kuat, lebih konsisten.

Jika agama-agama tradisional dan spiritualisme menekankan bahwa jiwa adalah inti dan tubuh hanyalah kendaraan, maka modernitas sedang memuja tubuh. Keduanya tampak berlawanan, namun sama-sama lahir dari kecemasan yang sama akan kefanaan. Agama menjanjikan kehidupan setelah mati; “bodyisme” menjanjikan umur panjang, tubuh sehat, dan penundaan usia tua. Agama dan spiritualisme menuntun manusia menuju keselamatan jiwa, bodyisme mengarahkan manusia pada keselamatan tubuh. Keduanya menjadi jawaban berbeda atas pertanyaan yang sama. “Bagaimana menghadapi keterbatasan, penderitaan, dan kematian”.

Lantas, apakah kita benar-benar mencintai tubuh? atau hanya mencintai bentuk tubuh tertentu yang ditentukan oleh industri, dan norma sosial? Apakah cinta itu lahir dari kesadaran, atau sekadar hasil paksaan luar? Bisa jadi, tubuh modern adalah tubuh heteronom: dipantau, diatur, dan dimaknai dari luar. Kita merasa mencintai tubuh, padahal yang kita cintai adalah versi tubuh yang dipaksakan oleh tren, industri, dan aplikasi kebugaran.

Tantangan manusia modern abad ke-21 adalah bagaimana mencintai tubuh tanpa menjadi budak standar eksternal. Bagaimana menjaga kesehatan tanpa terjebak obsesi angka dan pencapaian. Bagaimana berlari karena tubuh ingin berlari dan bergerak, bukan karena aplikasi menuntut target. Bagaimana tidur nyenyak karena lelah, bukan demi “tidur berkualitas.”

Mencintai tubuh berarti menerima tubuh sebagai bagian integral dari kemanusiaan, bukan sekadar proyek teknis. Tubuh adalah medium pengalaman—tubuh yang merasakan jalan basah, tubuh yang berlari, tubuh yang sekaligus fana namun penuh makna.