(Tulisan Ini Dijadikan Epilog untuk Kumpulan Puisi “Aku Memilih Teras” (2015) karya Fajar M. Fitrah).
Membaca puisi-puisi Fajar M. Fitrah dalam sekumpulan puisi Aku Memilih Teras, seakan-akan kita dibawa ke dalam pemandangan alam yang riuh dan menyenangkan, tetapi terkadang juga begitu hening dan menyedihkan. Sebagian besar topik yang dieksplorasi oleh Fajar M. Fitrah (selanjutnya FMF) memang banyak menyangkut alam. Hal ini dicirikan oleh banyaknya diksi perihal alam seperti laut, samudra, ombak, karang, burung, daun, pohon, kumbang, angin, hujan, dan senja.
Namun, bukan berarti di balik objek-objek alam yang dihadirkan oleh penyairnya hanya berfungsi sebagai citraan suasana yang tanpa isi: sajak yang hanya sekadar membicarakan benda-benda. Objek-objek alam yang dihadirkan oleh FMF dalam puisi-puisinya adalah medium transformasi gagasan atau ide penyair dalam bentuk yang konkret—walaupun bersifat metaforis. Misalnya, salah satu kata atau frasa yang sering muncul dalam puisinya adalah diksi tentang laut seperti “ombak” “angin”, “perahu”, “karang”, “pantai”, dan “pohon kelapa”, terutama dalam puisi Asmaraloka, Perempuan Yang Melayarkan Doa, dan Samudra Waktu.
Dalam hal ini, saya akan mencoba menganalisisnya dengan perspektif semiotika, dengan menggunakan pendekatan Michael Rifattere mengenai pembacaan semiotik terhadap puisi. Dimulai dari perkataan Rifattere sebagai premis dasar atas teori semiotik puisinya bahwa “puisi mengekspresikan konsep dan sesuatu secara tidak langsung.” Ketidaklangsungan ucapan atau pengekspresian konsep yang tidak langsung ini disebabkan oleh tiga hal: displacing of meaning (penggantian arti), distorting (penyimpangan), dan creating of meaning (penciptaan arti), yang juga menentukan produksi tanda (sign production) dan produksi teks (text production).
Karena penyimpangan itulah unsur-unsur tanda (sign) dalam puisi sering tidak sesuai dengan tata bahasa normal, yang diistilahkan Rifattere sebagai “ketidakgramatikalan” (ungrammatical). Sehingga, untuk memahami sebuah puisi, atau agar mengerti konsep puisi yang diekspresikan sebuah puisi, pembaca dituntut mengungkapkan sistem pemaknaan tingkat kedua, setelah proses pembacaan tingkat pertama.
Pembacaan pertama, seringkali dikatakan sebagai “pembacaan heuristik” (heuristic reading). Pembacaan ini bersifat mimetik, yakni sekedar memeriksa konvensi bahasa dalam puisi; mengindentifikasi kiasan, makna kata, relasi antar-kata, retorika, dan unsur-unsur tidak gramatikal yang terpecah, dan belum menyatu. Setelah itu, dibutuhkan pembacaan tingkat kedua, “pembacaan retroaktif” (retroactive reading), pembacaan ini lebih bersifat semiotik. Dalam hal ini, pembaca dituntut melakukan penafsiran yang didasari asumsi bahwa keseluruhan teks puisi merupakan perluasan dari struktur tematik yang signifikansinya terwujud dari transformasi “matriks”.
Menurut pemahaman Rifattere, matriks merupakan aktualisasi struktur atau konsep abstrak yang mendasari puisi, bersifat hipotesis, dan merupakan turunan dari model yang berupa kata atau kalimat pendek yang sering tidak hadir dalam teks puisi.
Rifattere mengistilahkan hal ini sebagai “inti” atau pusat puisi. Lebih lanjut lagi, menurut Rifattere “puisi adalah hasil dari transformasi matriks”, melalui ekspansi dan konversi tektstual yang memanfatkan rangkaian tanda-tanda representasional. Sedangkan matriks sendiri hanya mungkin dikenal dari “hipogram” (perkiraan, sistem deskriptif, dan kompleks tematik) sebagai kebiasaan yang muncul dari ekspresi-ekspresi penandaan. Implikasi dari cara pembacaan ini adalah untuk menemukan pernyataan tunggal yang ditransformasikan pada sebuah teks puisi. Matriks tidak hadir secara langsung dalam puisi, melainkan aktualisasinya berupa kata atau kalimat yang menjadi model dan kemudian mengalami perluasan menjadi teks.
***
Di bagian awal kumpulan puisi Aku Memilih Teras terdapat puisi berjudul “Asmaraloka”. Dari gaya bahasanya, puisi ini bertumpu pada frasa metaforis antara penyair dengan pemandangan laut yang dilihatnya. Pada puisi ini, saya akan mencoba melakukan pembacaan secara bergantian antara pembacaan heurestik dan hermeneutik.
ASMARALOKA
pantai, pagi manis
sepi terhisap ombak-ombak tipis
karang gerigis. Beberapa kumbang
memanggul cangkang berkilau
bagai mutiara, seperti cinta
berbaris ritmis dan riang
di istana pasir
seorang gadis melayarkan tangis
ke dermaga badai. Sunyi terkurung
angin melengkung seperti tangan
pemandu orkestra, putih dan gemulai
mengajak pohon-pohon kelapa melambai
ranting-ranting bakau mengundang
perahu dan rindu nelayan
berpurnama-purnama diperam garam
sesekali camar bersorak. Langit cerlang
awan-awan semarak
airmata dan gelap dikemas rapi
dalam peti mimpi. Seorang gadis
ombak tipis dan nuansa melankolis
pagi manis, pantai adalah kekasih
yang mengecup hati tertutup
2014
Puisi ini berkisah tentang kondisi yang dilihat penyair di sekitarnya. Kata “pantai”, “pagi”, “ombak’, dan “kumbang”, “gadis”, “istana pasir”, “camar”, “pohon kelapa” merujuk pada citraan suasana yang penyair lihat dan rasakan. “Pantai” merujuk pada tempat yang berada di pinggir laut, hal ini diperkuat dengan kata “ombak”. Sementara diksi “pagi” lebih merujuk pada indikasi waktu.
Apa yang dilihat oleh penyair ketika pagi di pantai dalam rangkaian beberapa fenomena alam, antara lain: 1) Sepi terhisap ombak-ombak tipis; 2) Kumbang….. yang seperti cinta berbaris ritmis dan riang; 3) Di istana pasir, seorang gadis yang melayarkan tangis ke dermaga; 4) Angin yang gemulai, mengajak pohon kelapa melambai; 5) Mengundang perahu dan nelayan; 6) Sesekali camar bersorak dan langit cerlang awan-awan semarak.
Pada bait pertama, merujuk makna keindahan yang penyair rasakan karena kata “pantai” memiliki refrensinya secara nyata. Dalam hal ini, saya akan merujuk pada Peirce yang mengklasifikasikan tiga jenis tanda, yaitu ikons, indeks, dan terdapat tanda konvensional sebagai simbol. Kata “pantai” pada bait pertama, tidak hanya memiliki kapasitas ikonis (similiaritas) dan indeksidal (kausalitas), tetapi bisa saja berarti simbol (interpretatif) dari kebahagiaan.
Makna “kebahagiaan” tanda pantai di sini lebih ditekankan maknanya oleh konvensi pemaknaan. Kita tahu ketika di “pantai” waktu pagi hari, mungkin terasa lebih segar dan menyenangkan untuk bermain dan berenang, misalnya. Hal itu diperkuat lagi dengan kata “manis”yang berarti menawan hati yang juga sejajar dengan kata kebahagiaan. Selanjutnya, arti simbolik “kebahagiaan” pada tanda pantai bisa disejajarkan juga dengan arti “keindahan”, “ketenangan”, dan “ketentraman”, pada signifikansi mutiara. Signifikansi jadi lebih ekuivalen oleh kata cinta dan riang yang jika dikombinasikan dengan signifikasi pantai dan mutiara.
Hanya saja, imaji yang dihadirkan cenderung tumpat-pedat. Terutama ketika hadir kata kumbang yang pada hemat saya teramat dipaksakan. Apakah mungkin di pantai ada seekor kumbang? Bisa saja ya atau tidak. Biasanya, binatang-binantang yang lebih berhubungan dekat dengan pantai adalah ikan, kerang laut, bintang laut, camar, dan ubur-ubur, sementara kumbang cenderung identik dengan taman. Akan tetapi, jika dilihat dalam pemaknaan konvensional, kata kumbang yang identik dengan taman cenderung merepresentasikan “keindahan” atau “kebahagiaan”.
Pada bait selanjutnya, suasana “kebahagiaan” masih hadir di dalamnya. Namun, lebih dicirikan dengan personifikasi /seorang gadis/, /melayarkan tangis/, /ke dermaga badai/, dan /angin melengkung/, /seperti tangan/, /pemandu orkestra,/, /putih dan gemulai/, /mengajak pohon-pohon kelapa melambai/. Melayarkan bisa menjadi verba kiasan atas “membuang”, “mengembarakan”, “melemparkan”, atau “melupakan” tangis. Sementara angin bisa jadi sebagai nomina kiasan atas “keteduhan”, “ketenangan”, “kemungkinan”, “harapan”, atau “jalan”. Heterogenitas makna angin ini dibentuk oleh pemahaman simbolik, antara lain: 1) Ada istilah “angin baik” atau “angin buruk” yang seolah-olah membawa harapan; 2) Angin selalu bergerak ke suatu tempat atau tujuan; 3) Jika secara kontekstual, angin bisa berarti kesempatan bagi nelayan untuk melaut.
Jika dikombinasikan dengan frasa tangan pemandu orkestra bisa berarti sebuah gerakan yang berirama, teratur, dan gemulai. Orkestra berhubungan dengan musik, dan memang, hampir semua orang menyukai musik. Sementara bila merujuk pada kata angin dan disepertikan dengan frasa tangan pemandu orkestra, bagi saya memang cenderung sulit untuk dibayangkan. Hal ini disebabkan oleh permainan frasa metaforis yang bertingkat, serta analisis objek yang (mungkin saja) kurang intens. Kemudian, frasa pohon-pohon kelapa merujuk pada “keteduhan”, sehingga kekaburan makna yang hadir pada frasa sebelumnya terwujud kembali pada frasa selanjutnya.
Kemudian, pada bait ketiga suasana “kebahagiaan” masih hadir di dalamnya dalam bentuk personifikasi. Pada bait ketiga personifikasi ditunjukan dengan adanya frasa /sesekali camar bersorak./ /langit cerlang/, /awan-awan semarak/. Frasa sesekali camar bersorak adalah personifikasi dari imaji pendengaran. Bersorak bisa menjadi verba kiasan atas “keriuhan”, “teriakan”, atau bahkan “kegembiraan”, bersorak biasanya identik dengan perayaan, dan perayaan dekat dengan kegembiraan. Hal ini diperkuat dengan hadirnya frasa langit cerlang, yakni langit yang memancarkan cahaya terang. Setelah sesekali camar bersorak seakan-akan langit pun cerlang dan awan-awan semarak. Semarak secara denotatif berarti berseri, kemegahan, dan keelokan, yang juga sejajar dengan kata “kebahagiaan”.
Sementara pada bait keempat, suasana kebahagian pun hadir dalam bentuk yang sama. Personifikasi ditunjukan dengan adanya frasa /air mata dan gelap/, /dikemas rapi/, /dalam peti mati/ juga repitisi hadir dengan frasa /pagi manis/. Selain itu, penyair cenderung menghadirkan ironi sebagai penekanan suasana batin yang penyair alami. Hal ini dicirikan dengan klausa atau kalimat /pantai adalah kekasih yang mengecup hati tertutup/. Yang menarik dalam bait terakhir ini adalah ironi yang dihadirkan cenderung dominan dan juga berhasil. Frasa air mata dan gelap dikemas rapi dalam peti mimpi dan frasa terakhir sebagai konklusi, pantai adalah kekasih yang mengecup hati tertutup. Merepresentasikan kondisi alam bawah sadar penyair.
Petanda pantai hadir kembali dan dikombinasikan dengan frasa hati tertutup.Secara pemaknaan konvensional hati tertutup berarti “kesedihan”, “rapuh”, “gelap”, dan “keputusasaan”. Seakan-akan dalam kesedihannya, keputusasaannya, penyair mendapatkan pencerahan ketika ia melihat pantai di waktu pagi hari. Pantai diibaratkan penyair sebagai kekasihnya yang datang dan mengecup hati penyair yang sedang sedih, sehingga ia kembali bergembira atau “bahagia”. Hal ini sesuai dengan judul puisinya, Asmaraloka, yang berarti dunia (alam) cinta kasih.
Dengan demikian, dalam konteks puisi FMF, penutur mengutarakan kebahagiaanya ketika penyair melihat suasana pantai. Dari pemahaman seperti ini tampak jelas bahwa puisi berjudul “Asmaraloka” merupakan turunan dari matriks kebahagiaan, yang berkolerasi dengan kerelaan, kontemplasi atau perenungan. Pusat makna ini ditekankan oleh dua hal yang sama-sama memiliki potensi sebagai tanda puitis. Pertama, pantai sebagai tanda kebahagiaan, yang diletakan pada bait pertama dan terakhir. Kedua, frasa pagi manis sebagai tanda sesuatu yang menawan hati, sesuatu yang baru, yang juga hadir pada bait pertama dan terakhir.
***
Pada puisi yang berjudul Perempuan Yang Melayarkan Doa, sistem semantik yang merujuk citraan tentang laut (atau alam) kembali hadir di dalamnya. Dalam sajak ini, permainan frasa metaforis dan imaji yang tumpat-pedat juga cenderung dominan seperti puisi yang telah dibahas sebelumnya. Frasa metaforis seperti samudra waktu, dan bulan daging kelapa, juga jala musim, seakan-akan menjadi ciri khas dalam puisi-puisi FMF. Memang, hal tersebut menjadi sangat seksi dalam perpuisian modern. Akan tetapi, itupun menanggung resiko yang bisa saja terjatuh pada frasa-frasa gelap atau obscure.
PEREMPUAN YANG MELAYARKAN DOA
perempuan yang setia melayarkan doa
pada buih-buih yang berderu
menuju samudra waktu
di bawah bulan daging kelapa
di sela-sela jala musim
matanya menjadi dermaga
lapuk dan berlumut
namun tatapannya
setajam cakar camar
tak henti menelusup ke juru
mencabik bumantara biru
perempuan itu yakin doanya berlabuh
di ulu sukma seseorang
yang mengarung samudra waktu
dalam dirinya terpancang tugu
mercusuar, tersusun dari pukal hari
dan mimpi: di senja bening, dari arah hening
dengan kapal cahaya, seseorang tiba
mengalungkan emas dan sampur sutra
pada kecemasan seorang perempuan
di bawah bulan daging kelapa
di sela-sela jala musim
perempuan itu setia melayarkan doa
sembari meyakin-yakinkan diri
: seseorang yang tiba dari samudra waktu
adalah anakku sekalipun berkalbu batu
2012
Sajak di atas, sebenarnya sama dengan sajak sebelumnya; sajak yang bertutur atau bercerita tentang seseorang. Tokoh dalam sajak ini pun tidak memiliki identitas yang jelas, atau cenderung disamarkan. Kita bisa menganggap, bahwa mungkin saja perempuan yang hadir dalam sajak di atas adalah kekasih atau ibunya penyair, atau bahkan bisa saja alusi. Maka untuk mengetahui hal itu dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Pada bait pertama, peristiwa yang dihadirkan oleh penyair cenderung melankolis /perempuan yang setia melayarkan doa/, /pada buih-buih yang berderu/, /menuju samudra waktu/. Kata melayarkan kembali hadir dalam sajak ini, barangkali penyair sengaja memilih diksi melayarkan untuk lebih menekankan makna “pengembaraan”, “perjalanan”, atau “perjumpaan”. Sementara diksi doa menjadi nomina kiasan atas “permohonan”, “harapan”, “penyerahan”, dan “pujian”. Secara konvensional kata doa memiliki pemaknaan simbolik yang cenderung statis; biasanya berhubungan dengan hal-hal yang transendental atau Tuhan, agar memperoleh keselamatan atau berkah dalam hidupnya di dunia.
Sementara kata redupilkasi buih–buih biasanya identik dengan lautan. Jika dikaitkan dengan kata doa bisa saja berarti keberulangan atau terus-menerus. Secara leksikal buihberarti gelembung-gelembung kecil pada permukaan cair atau dapat dikatakan “busa”. Di laut buih-buih selalu terjadi berulang-ulang bersamaan ombak yang menderu menuju pantai. Selanjutnya, frasa samudra waktu adalah kombinasi dari petanda samudra yang berarti lautan yang besar atau luas, sedangkan petanda waktu berarti satuan matematis yang terdiri dari detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun, serta merujuk pada masa kini, masa lalu atau masa depan.
Merujuk pada frasa samudra waktu berarti keluasan atau tak terjangkauan waktu oleh manusia. Waktu selalu menjadi hal yang misterius, yang abstrak dan terkadang tak masuk akal untuk manusia. Sehingga dalam ketidakberdayaannya itu untuk menjelajahi atau melampaui waktu, tokoh perempuan dalam sajak di atas, hanya mampu melayarkan doanya yang terus berulang (yang entah untuk siapa) dan hanya mampu menunggusampai doanya terkabulkan oleh Tuhan, sebab perempuan itu sadar akan keterbatasannya sebagai manusia. Maka dalam bait pertama ini terdapat suasana “penantian’ dan “harapan”.
Pada bait selanjutanya, cenderung bertumpu majas simile, yakni perumpamaan yang mempertautkan dua hal yang secara sebenarnya berbeda tapi dianggap sama. Simile dalam puisi ini dicirikan oleh kata menjadi dan setajam yang bisa disejajarkan dengan istilah “seperti” atau “bagai” /matanya menjadi dermaga/ dan /tatapannya setajam cakar camar/.
Namun, sebelum lebih lanjut lagi membahas frasa-frasa pada bait kedua, saya akan lebih dulu membahas frasa bulan daging kelapa yang cenderung menarik perhatian saya. Kita tahu, bulan pada umumnya ada yang berbentuk bulat, sabit, dan lain-lain. Sedangkan saat terang bulan akan berwarna putih keperakan atau bahkan putih seperti purnama bulan. Sementara daging kelapa, secara pemaknaan konvensional berarti “kesegaran”, apabila merujuk ke bentuknya berarti berwarna “putih”, “lembut”, “harum”, dan “tipis”.
Maka dikaitkan dengan frasa /bulan daging kelapa/ bisa saja berarti “bulan purnama” atau sedang “terang bulan”. Ketika bulan purnama, cahaya yang dipancarkannya cenderung putih dan sangat terang sepertihalnya daging kelapa. Dalam hal ini, penyair mengumpamakan cahaya bulan purnama dengan daging kelapa yakni berwarna “putih”. Yang menarik dari puisi-puisi FMF adalah penggunaan frasa metaforis yang sangat dominan dalam puisi-puisinya.
Hal ini mengingatkan saya pada sajak-sajak Ahmad Faisal Imron. Sajak-sajak Ahmad Faisal Imron pun banyak menggunakan frasa-frasa metaforis seperti pohon-pohon bersayap (Dongeng), nisan berjanggut (Kota Lama), dan tubuh tapiokamu (Tamu), dalam kumpulan sajak Langit Lemburawi (2012). Frasa-frasa Ahmad Faisal Imron yang cenderung simbolis dan surealis, juga banyak ditemukan pada puisi-puisi Fajar M. Fitrah. Selain itu bentuk atau pola sajaknya juga cenderung sama; tipografi, rima dan irama, enjabemen. Barangkali, pola perpuisan FMF banyak dipengaruhi oleh Ahmad Faisal Imron.
Kemudian, pada larik selanjutnya, /di sela-sela jala musim/ kata musim sengaja dipilih penyair untuk menekankan suasana “penantian” dan “harapan” yang hadir pada bait sebelumnya. Musim merupakan indikasi waktu. Waktu yang dimaksud adalah di sela-sela jala musim. Musim merujuk pergantian waktu tertentu yang bertalian dengan keadaan iklim. Sementara, metafor jala punya beberapa arti. Jala berarti alat untuk menangkap ikan yang berupa jaring bulat. Jala merujuk pada musim, yang berarti pergantian iklim yang baik untuk menangkap ikan. Hal ini diperkuat oleh frasa sebelumnya /bulang daging kelapa/ atau bulan purnama. Para nelayan, akan pergi menangkap ikan di saat bulan terang. Sebab, dalam kondisi bulan terang, hujan tak turun, dan badai pasti tak ada, angin pun berhembus kencang di lautan, sehingga baik untuk berlayar. Hal ini menandai pergantian waktu.
Kata matanya berarti tatapan atau kewaspadaan, bahkan harapan. Sementara kata dermaga menjadi nomina kiasan atas “penantian”, “perjumpaan”, dan “pengharapan”. Secara leksikal dermaga berarti tembok rendah yang memanjang di tepi pantai menjorok ke laut di kawasan pelabuhan. Sehingga dalam frasa ini mengasumsikan adanya penantian. Matanya menjadi dermaga berarti dalam penantiannya dia terus diam menatap, kaku namun waspada. Suasana penantian, diperkuat oleh frasa selanjutnya. Tatapannya juga merujuk pada mata, jika diartikan /tatapanya setajam/ /cakar camar/ berarti penglihatannya terus waspada tajam seperti cakar camar yang /tak hentimenelusup ke juru/, /mencabik bumantara biru/. Juru memiliki pemaknaan yang kompleks. Namun, secara kontekstual bisa berati; 1). Arah mata angin yang bergerak ke suatu tempat. 2). Menjorok ke depan atau melihat ke ujung sana. Sementara, bumantara berarti “angkasa biru”. Maka, frase itu “berarti melihat ke ujung angkasa atau laut biru, dengan pandangan yang tajam dan waspada”. Hal ini juga menunjukan adanya “penantian” dan “harapan”.
Pada bait selanjutnya, citraan suasana penantian dan keyakinan ditandai oleh kalimat /perempuan itu yakin doanya berlabuh/, /di ulu sukma seseorang/, /yang mengarung samudra waktu/. Setelah beberapa waktu ia berdoa, kini ia pun yakin doanya akan sampai pada seseorang yang ia tunggu. Larik, selanjutnya menujukan adanya suasana “penantian” dan “harapan” dicirikan oleh larik /dalam dirinya/, /terpancang tugumercusuar/, /tersusun dari pukal hari/,/dan mimpi/. Tugu mercusuar bisa berarti “kekokohan”, “kekuatan”, “ketabahan”. Tugu dan mercusuar adalah nomina kiasan, tugu berarti tiang besar dan tinggi yang dibuat dari batu.
Sementara mercusuar menara yang dibangun di pantai, yang memancarkan sinar isyarat pada malam hari untuk membantu navigasi. Tugu mercusuar ini juga merujuk pada pukal hari. Pukal berarti gumpalan atau bongkah, dalam hal ini berarti bongkahan hari. Dan mimpi bisa saja memiliki pemaknaan “harapan” “khayalan”, dan “dibayangkan”. Pada kalimat tersebut dapat diartikan seperti ‘perempuan itu telah lama menunggu, hingga ia menjadi tabah dan kuat seperti tugu mercusuar yang dibuat dari penantiannya dari hari ke hari (pukal hari) sehingga terbawa mimpi.
Mimpi perempuan itu, diilustrasikan oleh frasa /di senja bening,/ /dari arah hening/, /dengan kapal cahaya/,/seseorang tibamengalungkan emas/, /dan sampur sutra/, /pada kecemasan seorang perempuan/. Citraan susasana yang dihadirkan oleh penyair cenderung begitu tenang dan indah. Terutama dengan adanya bunyi eufoni yang cenderung memperkuat impresi. Jika, dilihat dari kalimat tersebut, perempuan itu menantikan seseorang ketika senja beningdengan menggunakan kapal cahaya dan membawakannya oleh-oleh berupa emas dan sampur sutra, yang mengakhiri kecemasaannya. Hal ini menunjukan adanya suasana “penantian” dan “harapan”.
Kemudian, pada bait ini, suasana penantian hadir dalam bentuk repetisi /dibawah bulan daging kelapa/, /di sela-sela jala musim/, /perempuan itu setia melayarkan doa/, /sembari meyakin-yakinkan diri/. Seperti yang telah saya katakan di atas, bahwa perempuan itu hanya menunggu dan berdoa, serta sembari meyakin-yakinkan dirinya.Namun, ada hal yang menarik dari bait ini yang menunjukan sebagai inti gagasan pada puisi Perempuan Yang Melayarkan Doa, yang sejak awalsangat membuat saya penasaran. Puisi ini seakan-akan sengaja menghadirkan enigma: tanpa identitas tokoh aku-lirik dan kau-lirik yang jelas. Sehingga, saya sedikiti curiga bahwa puisi ini sarat dengan alusi yang merujuk pada tokoh atau peristiwa tertentu. Kecurigaan saya semakin kuat ketika di bait terakhir ditandai oleh larik, /seseorang yang tiba dari samudra waktu/, /adalah anakku sekalipun berkalbu batu/.
Saya beranggapan bahwa puisi ini berangkat dari kisah rakyat yang tersohor di daerah Sumatra Barat, yaitu Malin Kundang. Perempuan yang ada dalam tokoh puisi di atas adalah Ibu Malin yang terus menanti kedatangan anaknya bernama Malin. Namun kedatangan anaknya itu tak kunjung tiba. Bahkan, ketika anaknya Malin itu datang, ia malah tidak mau mengakui ibunya. Sehingga, ia dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Akan tetapi, hal ini sulit sekali diidentifikasi. Sebab tokoh dan peristiwa yang hadir begitu samar: Siapakah perempuan itu? Siapakah seseorang yang ia tunggu, yang berkalbu batu itu? Adakah ia perempuan juga, atau sebaliknya?
Jika anggapan saya benar, maka FMF telah sampai pada kematangannya sebagai penyair. Bagi saya, puisi di tangan FMF menjelma seperti sebuah permainan. Permainan yang membawa saya pada pelbagai kemungkinan; antara keriuhan dan keheningan, kehadiran dan ketidakhadiran. Oleh sebab itu, puisi dengan ambiguitasnya, mampu membebaskan saya (dan mungkin juga kita) dari banalitas keseharian yang lebih sering dihadirkan oleh negara atau sistem ekonomi-politik yang korup. Sepertihalnya puisi-puisi FMF yang sederhana namun memiliki kedalaman makna. Puisi yang berjudul Asmaraloka dan Perempuan Yang melayarkan Doa adalah kedua puisi yang menunjukan adanya hal itu.
Daftar Pustaka:
- Fitrah, Fajar. Aku Memilih Teras. 2015. ASAS UPI.
Rifattere, M. Semiotics of Poetry. 1978. Bloomington & London: Indiana University Press.
Danesi, Marcel. (2011). Pesan, Tanda dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenal Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.
Imron, Ahmad Faisal. Langit Lemburawi. 2012. Jakarta: KataKita.







