Gus Dur, Perubahan IAIN, dan UIN

Bila membuka laman resmi Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid di alamat www.uingusdur.ac.id, tersimpan jejak historis perjalanan kampus sebagai Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan. Jejak digital ini menjadi penanda transformasi penting dalam sejarah pendidikan tinggi keislaman di Kota Santri dan sekitarnya.

IAIN Pekalongan resmi beralih status menjadi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2022. Pengukuhan perubahan status ditetapkan pada 8 Juni 2022, menandai babak baru pengembangan institusi yang berakar dari lahirnya Fakultas Syariah Bumiayu hingga berkembang menjadi UIN.

Transformasi ini dilandasi semangat untuk terus tumbuh dan berusaha menjawab kebutuhan masyarakat, baik di Kota Batik maupun wilayah sekitarnya. Perubahan status bukan semata perubahan nomenklatur, melainkan penegasan visi pengembangan keilmuan yang lebih luas dan relevan dengan tantangan zaman.

Teladan yang Menginspirasi

Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Zaenal Mustakim, menegaskan ihwal penamaan kampus dengan nama Gus Dur memiliki makna mendalam. Nama cucu dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dipilih sebagai ikhtiar menyerap spirit perjuangan KH Abdurrahman Wahid sebagai guru bangsa yang menjadikan Islam sebagai inspirasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gus Dur dikenal konsisten membela kaum minoritas, kelompok marginal, dan mereka yang tertindas. Menurutnya Gus Dur adalah teladan dalam mendialogkan Islam dan negara dalam bingkai kemajemukan Indonesia.

Basis keilmuan yang dikembangkan Gus Dur mencerminkan harmonisasi antara rasionalitas dan spiritualitas. Nilai ini sejalan dengan visi keilmuan UIN Gus Dur yang mengupayakan keseimbangan antara akal, indera, dan intuisi; agama dan sains; tradisionalisme dan modernisme.

Dengan meyakini, perubahan nama dan status kampus akan memantik semangat progresivitas sivitas akademika. Ke depan, UIN Gus Dur bertekad meningkatkan akses, mutu, dan relevansi pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Penguatan sumber daya manusia, pengembangan sarana dan prasarana, serta perluasan kerja sama nasional dan internasional menjadi bagian dari strategi membangun daya saing global. (www.uingusdur.ac.id dan NU Online Senin, 13 Juni 2022 | 06:00 WIB)

Kunci Transformasi IAIN Menjadi UIN

Warisan pemikiran dan keteladanan Gus Dur selama ini memang menjadi inspirasi bagi pengembangan UIN yang berani membela minoritas, menerima perbedaan, dan menjadi pusat perjuangan gagasan keislaman yang humanis.

Memang tidak banyak yang menyadari bahwa Gus Dur, semasa menjabat Presiden Republik Indonesia, memainkan peran kunci dalam transformasi IAIN menjadi UIN di Indonesia.

Saat refleksi pada Haul ke-15 Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid di Pesantren Tebuireng, Jombang, Menteri Agama Nasaruddin Umar menuturkan proses perubahan IAIN menjadi UIN telah berlangsung sejak awal 2000-an. UIN pertama di Indonesia adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Mei 2002, disusul UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Juni 2004.

Menag Nasaruddin mengisahkan pada awalnya Gus Dur sempat ragu menyetujui perubahan ini dikhawatirkan fakultas-fakultas keagamaan akan tergerus oleh ilmu umum. Namun, melalui dialog reflektif tentang universalitas Islam, Gus Dur pada akhirnya diyakinkan dahsatnya kekuatan Islam. Dengan analogi yang samudra yang diharapkan menjadi wadah universitas untuk menampung keberagaman ilmu.

“Saat saya menjadi Direktur Eksekutif perubahan IAIN menjadi UIN Jakarta, waktu itu saya menjabat sebagai Pembantu Rektor IV. Gus, tolong tanda tangani ini? Gak mungkin, ngapain. Jadi Gus Dur tidak setuju perubahan IAIN menjadi UIN. Sama dengan Nurcholish Madjid/Cak Nur, ngapaian, itu akan membuat habis Fakultas agamanya ditelan ilmu umum,” cerita Menag Nasaruddin Umar.

“Saya menjawab. Islam itu Universal. Ketika Sekoah Tinggi itu seperti empang, ketika Institut seperti danau, kalau Univesitas itu seperti Samudra. Karena Islam itu Universal. Maka Universitas itu lah yang mewadahi Universal Islam,” jelas Menag Nasaruddin.

“Kalau tidak ada Gus Dur, maka tidak akan ada UIN,” tegas Menag Nasaruddin. Tanda tangan Gus Dur menjadi kunci lahir dan berkembangnya UIN-UIN di Indonesia hingga saat ini. (www.kemenag.go.id)

Bukan Sekadar Haul

Spirit perjuangan ini harus terus dihidupkan melalui berbagai momentum refleksi. Untuk Haul Gus Dur ke-16 bertajuk “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat.” Ketua Pelaksana Haul, Alissa Wahid, menegaskan haul bukan sekadar seremoni doa dan tahlil, melainkan ruang refleksi kebangsaan.

Bagi Alissa, setelah 16 tahun kepergian Gus Dur, banyak cita-cita kerakyatan yang belum sepenuhnya terwujud. Dengan menyoroti berbagai kebijakan yang belum berpihak kepada rakyat, termasuk dalam konteks bencana banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatra.

Peristiwa ini mencerminkan kegagalan kebijakan yang tidak melibatkan dan tidak berpihak kepada rakyat. “Haul Gus Dur harus menjadi ruang muhasabah bersama, apakah kehidupan berbangsa dan bernegara benar-benar menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat,” ujarnya. (NU Online Rabu, 17 Desember 2025 | 16:30 WIB)

Nilai kemanusiaan, keberpihakan kepada rakyat, dan keberanian berpikir melampaui sekat-sekat formal yang terus diwariskan Gus Dur itu perlu dirawat, dipelihara demi menjaga keuatuhan NKRI.

Kini, segala prinsip dan nilai berusaha dihidupkan kembali melalui lembaga pendidikan, termasuk UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, sebagai ikhtiar menjaga Islam tetap hadir sebagai rahmat bagi semesta.