I‘tikaf Masyarakat Perkotaan: Sebuah Paradoks

Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, jalan-jalan menuju masjid besar menjadi sungai manusia. Mobil diparkir hingga ke bahu jalan, tikar digelar rapat seperti petak-petak sawah, dan tubuh-tubuh bersandar di tiang-tiang masjid yang megah. Ada yang datang dari kota lain, bahkan dari provinsi yang berbeda. Mereka ingin merasakan “malam yang lebih sakral,” berharap keberkahan yang lebih dekat dengan langit.

Namun pada saat yang sama, masjid kecil di gang-gang perumahan tetap sunyi. Lampunya menyala, karpetnya bersih, imamnya setia datang setiap malam, tetapi safnya tetap jarang.

Fenomena ini bukan sekadar masalah jarak geografis. Ia adalah gejala spiritual sekaligus sosiologis yang layak direnungkan. Mengapa manusia modern sering mencari Tuhan di tempat yang jauh, sementara rumah-Nya yang paling dekat justru jarang disapa?

Dalam tradisi Islam, i‘tikaf bukanlah perjalanan keramaian. Ia justru merupakan perjalanan kesunyian. Secara etimologis, i‘tikaf berarti al-luzūm wa al-habs,menetap dan menahan diri. Dalam praktiknya, seseorang tinggal di masjid untuk mengosongkan diri dari hiruk-pikuk dunia dan mendekatkan hati kepada Allah.

Menurut al-Ghazali, hakikat ibadah bukanlah gerakan lahiriah semata, tetapi kehadiran hati (hudur al-qalb). Ia menulis bahwa “Ibadah yang kosong dari kehadiran hati hanyalah tubuh tanpa ruh.” Dalam perspektif ini, i‘tikaf seharusnya menjadi latihan sunyi, bukan festival spiritual. Namun realitas masyarakat modern sering mengubahnya menjadi pengalaman kolektif yang penuh keramaian, seakan-akan keberkahan bisa diukur dari jumlah manusia yang hadir.

Mengapa banyak orang memilih masjid besar? Jawabannya tidak hanya religius, tetapi juga psikologis dan sosiologis. Emile Durkheim menjelaskan bahwa pengalaman religius sering diperkuat oleh apa yang ia sebut collective effervescence, yakni perasaan spiritual yang muncul dari keramaian dan kebersamaan ritual. Dalam keramaian, seseorang merasa imannya “terangkat.” Tangisan orang lain menular, doa bersama terasa lebih khusyuk, dan suasana emosional menjadi lebih kuat.

Namun Durkheim juga mengingatkan bahwa emosi kolektif tidak selalu identik dengan kedalaman spiritual. Ia bisa menjadi pengalaman sosial yang kuat, tetapi belum tentu pengalaman batin yang mendalam. Dalam konteks i‘tikaf modern, fenomena ini tampak jelas; orang-orang mencari suasana religius yang intens, bukan selalu kedekatan batin yang sunyi.

Ada paradoks yang menarik. Seseorang rela menempuh puluhan kilometer untuk i‘tikaf di masjid besar, tetapi tidak datang ke masjid yang berjarak dua menit dari rumahnya. Padahal dalam tradisi tasawuf, kedekatan dengan Tuhan tidak pernah diukur oleh jarak ruang.

Jalal ad-Din Rumi menulis dalam salah satu puisinya; “Mengapa engkau mencari Tuhan di Ka‘bah yang jauh, sementara Dia lebih dekat daripada urat lehermu?” Dalam perspektif sufistik, perjalanan spiritual yang sejati adalah perjalanan ke dalam diri, bukan perjalanan geografis. Masjid besar tidak lebih suci daripada masjid kecil. Yang membuatnya hidup adalah hati manusia yang beribadah di dalamnya.

Selain itu, ada pula dimensi lain yang jarang dibicarakan: simbolisme sosial dalam ibadah. Dalam masyarakat modern, tempat ibadah tertentu sering menjadi simbol prestise religius. Beribadah di masjid yang terkenal dapat memberi rasa identitas spiritual tertentu, seakan-akan seseorang menjadi bagian dari pengalaman religius yang “lebih istimewa.”

Ibn Arabi mengingatkan bahwa dalam perjalanan spiritual terdapat bahaya riya’ halus. Ia bukan sekadar pamer ibadah, tetapi keinginan untuk merasakan diri lebih religius daripada orang lain. Menurutnya, ego manusia dapat menyelinap bahkan dalam ibadah yang paling sakral. Keramaian spiritual kadang menyembunyikan keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang “besar.” Padahal dalam tasawuf, kedekatan dengan Tuhan sering terjadi justru dalam kesunyian yang tidak terlihat.

Fenomena i‘tikaf massal di masjid besar juga menunjukkan krisis relasi komunitas lokal. Masjid lingkungan seharusnya menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat. Di sanalah hubungan antar tetangga dibangun, doa-doa dipanjatkan bersama, dan solidaritas sosial dipelihara.

Namun ketika masyarakat lebih memilih masjid jauh daripada masjid dekat, yang hilang bukan hanya jamaah, tetapi juga rasa memiliki terhadap ruang spiritual bersama. Alasdair MacIntyre menekankan pentingnya komunitas moral lokal dalam membangun praktik kebajikan.

Tanpa komunitas yang hidup, praktik religius bisa berubah menjadi aktivitas individual yang terpisah dari tanggung jawab sosial. Masjid yang sunyi bukan sekadar bangunan kosong, ia adalah simbol hubungan sosial yang mulai retak.

Para sufi sejak lama mengajarkan bahwa kesunyian adalah sekolah jiwa. Dalam tradisi khalwat (retret spiritual), seorang murid justru diminta menjauh dari keramaian agar dapat mendengar suara hatinya sendiri.

Benar kata Abd al-Qadir al-Jilani, bahwa: “Manusia yang ingin dekat dengan Allah harus belajar duduk bersama kesunyian, karena di situlah rahasia hati dibukakan.” Dalam cahaya pemikiran ini, i‘tikaf bukan sekadar tidur di masjid semalam suntuk, melainkan proses pengosongan diri dari kesibukan dunia dan dari kebisingan ego. Kadang-kadang, masjid kecil di ujung gang justru lebih cocok untuk itu, karena di sana tidak ada keramaian yang mengalihkan perhatian.

Barangkali masalahnya bukan pada masjid besar, karena keramaian ibadah juga memiliki keindahannya sendiri. Masalahnya adalah ketika manusia lupa bahwa Tuhan tidak tinggal hanya di tempat yang ramai.

Masjid dekat rumah adalah ruang spiritual yang paling jujur. Di sana tidak ada lampu sorot, tidak ada ribuan jamaah, tidak ada aura “peristiwa besar.” Yang ada hanya karpet yang sederhana, para pemain inti yang setia, dan beberapa orang yang datang karena cinta kepada Tuhan. Dan mungkin justru di tempat seperti itu i‘tikaf menemukan maknanya yang paling dalam. Bukan sebagai perjalanan menuju keramaian religius, tetapi sebagai perjalanan pulang ke dalam hati.

Sebuah lirik dari lagu Panji Sakti, mungkin cocok sebagai penutup tulisan ini, “Bantu aku mencintai jalan pulang, demi bertemu dengan-Mu, Lumbung Keabadian. Bantu aku merindukanmu, tanpa apa, tanpa aku, hanya Engkau.”

Wallahu a’lam