Jangan Langsung Ikut Ribut: Penawaran Cara Membaca Kontroversi Syekh al-Albani

Bulan Agustus hingga September ini, sebagian umat Islam di Indonesia diributkan oleh masalah yang ngangkat sensi beberapa golongan, yakni tentang status Shekh al-Albānī. Isu ini awalnya muncul dari ceramah Ust. Adi Hidayat yang menolak penempelan gelar Ahl l-Hadīth kepada Shekh al-Albānī. Tapi ada rumor bahwa gelar ini disematkan ke Habib ʿUmar al-Hafīzh. Abis itu mah terus merambat kepada perdebatan sektarian yang udah bikin jemu, sebenarnya. Golongan A nolak ujaran ini, aliran B ngebantah dan setuju aja, masing-masing bawa dalil, dan ada juga yang cuma “nggih” atau bahkan ngelontarin hinaan satu sama lain, mau ke tokohnya, atau pembelanya. 

Kami ngerasa kalau ribut semacam gini emang umum. Padahal mah, kita udah punya jutaan informasi yang ada dalam genggaman kita lewat “Shekh al-Intirnītī.” Kita tinggal verifikasi masalah ini dengan nyari sumber paling otoritatif, bukan? Kayaknya ngga sesederhana gitu, deh, karena kalau liat fatwa masing-masing golongan, kok sama-sama meyakinkan, ya? 

Sebenernya masalahnya mah beda persepsi soal istilah satu dengan yang lain, kok.

Daripada pusing mikirin ngikut yang mana sambil nelen pendapat yang sesuai keyakinan gitu aja, mending kita coba telusuri sendiri dengan memanfaatkan “Shekh al-Intirnītī” ini. Nah, tulisan ini nyoba buat nawarin langkah-langkah yang minim sensi, dan lebih menitikberatkan pada penelusuran data yang sistematis. Tujuannya biar kita ngga lagi bingung ketika dihadapkan dengan kontroversi serupa, dan, syukur-syukur bisa lebih bijak dalam berinteraksi sesama umat. Metodenya diadaptasi dari buku “Seni Membaca/How to Read a Book” karya Adler & van Doren (2025), ditambah analisis genealogis ala mbah Foucault atau Shekh Walid Saleh (2004). 

Mulai dari Nentuin dan Ngumpulin Data

Kalau ngekor ke metode Pak Adler & van Doren, kita identifikasi dulu apa yang dipahamin oleh Ust. Adi Hidayat soal masing-masing istilah, jangan sok ngehakimi dulu. الناس أعداء ما جهلوا. Karena istilahnya ngerujuk ke dua tokoh dalam sumber yang berbeda, kita kumpulin dulu setiap kali istilah terkait ini disebutin. 

Data apa, sih, yang dimaksud?

Ini tergantung, ya. Kata bukunya, tentuin dulu aja genre dari data tersebut. Kalau diterapin ke masalah kontemporer yang ngelibatin tokoh gini, coba cek dulu peran/role beliau ketika membahas isu tertentu. Da’i ya lewat ceramah, kalau guru dari dokumentasi pengajaran, terus akademisi bisa lewat tulisan. Ust. Adi Hidayat lagi berperan sebagai da’i, jadi kita kumpulin berbagai ceramah yang dianggap relevan dengan istilah Ahl l-Hadīth. 

Habis itu, kita kumpulin semua ceramah ke dalam satu kantong data buat ngeidentifikasi setiap momen Ust. Adi Hidayat nyampein istilah tersebut atau yang berkaitan. Kita tandain ceramahnya, tanggalnya, pengertian istilahnya, sampai segala tambahan yang penting, misal kepada tokoh mana istilah tersebut dikaitkan. Habis itu, catet dulu aja, buat selanjutnya dianalisis.

Analisis Konsep Istilah Menurut yang Bilang, Simpen Dulu Dalilmu

Sekarang kita udah ngumpulin data yang diperlukan buat tahap awal. Balik lagi ke Pak Adler & van Doren, buat nganalisis apa kata penulis (kalau di sini mah pembicara), kita sepakatin dulu, rempugin pemahamannya dari sumber yang dia sampein. Bisa jadi, konsep dia dengan pemahaman kita atau orang lain itu beda jauh, kan?

Data ceramah sama catetan tiap istilah tadi kita artikulasikan dengan jelas, dan itu jadi bukti tentang apa yang dipahami penutur. Jadi sebelum kita bilang apa-apa soal pemahaman kita, jelasin dulu apa yang dipahami Ust. Adi Hidayat soal Ahl l-Hadīth dan Bāhith l-Hadīth. Kalau dari data yang kami temuin, ternyata muncul istilah lain yang ngga bisa disingkirkan, yakni Muhaddīth, sehingga ada tiga term yang nggak bisa dicampuradukkan. Seenggaknya, Muhaddīth itu punya tiga kriteria khusus, yaitu hafal 100.000 hadith beserta sanadnya, paham isinya, dan mengerti jalur sanad, kemudian dikonfirmasi lewat talaqqi dengan gurunya. Mafhum mukhalafah-nya, karena dikontrasin dengan Muhaddīth, berarti Bāhith l-Hadīth gapunya ketiga atau salah satu dari syarat yang disebutin tadi, mungkin juga dengan Ahl l-Hadīth.

Oke, inget ya, ini menurut Ust. Adi Hidayat, karena kita ngga bisa bilang lebih dari apa yang tercantum dari bukti. Makin bagus lagi kalau hasil ini bisa kita verifikasi, karena kebetulan, beliau masih hadir di antara umat. Hasil ini kita pegang buat tahap selanjutnya.

Bandingin sama Kata Ahli Sezaman, Jangan Sok Tau Dulu

Sehabis jelas konsep dan perbedaan antara Ahl l-Hadīth dengan Bāhith l-Hadīth tadi, kita bisa maju ke tahap selanjutnya, yaitu komparasi sezaman. Kita main aman dulu, dengan nentuin batas waktu sezaman, karena satu istilah bisa berevolusi dari masa ke masa. Buat isu Ust. Adi Hidayat, ambil definisi dua istilah tadi dari beberapa ahli yang mewakili standing point masing-masing, soalnya, persepsi mereka masih bisa berbeda, meskipun udah masuk ranah komunitas ilmiah. 

Kita coba ambil beberapa aliran sebagai tumpuan. Buat riset sederhana, kita ambil empat sampai enam pendapat yang kontras atau seenggaknya punya posisi yang berbeda. Kalau hasil pemetaan kami, seperti dari al-Ghummarī (2008) sampai al-Uthaymin (2016), hasil yang muncul adalah empat posisi: yang menolak penyematan gelar, yang menyetujui, dan yang moderat, sisanya tawaqquf. Empat posisi ini punya dalil masing-masing juga, yang bisa kita simpulkan pakai metode sebelumnya. Beberapa argumentasi ini kita tempatkan sebagai arah tunjuk untuk tahap genealogis.

Nyari Akar Masing-Masing Posisi

Bayangin kalau istilah yang kita cari itu Roma, dan beberapa pendapat tadi adalah bandara di tiap kota yang nyambung ke sana. Habis itu, kita cek tiap bandara, mereka ini nerima pesawat dari negara mana aja? Nah, analisa genelaogis mirip kayak begitu. Tiap posisi yang udah kita tentuin bisa jadi pijakan untuk kembali ke pendapat ulama klasik. Harusnya mereka punya dalil sendiri yang diambil dari pendapat terdahulu, kan, soalnya pengetahuan akademik nggak mungkin tiba-tiba muncul tanpa ada yang diskusiin sebelumnya.

Seperti langkah sebelumnya, setiap referensi mu’tabar yang dipake tiap pendapat perlu kita tempatin sesuai alur, kaya dari dahan, ke batang, terus ke akar. Wajar banget kalau nanti kita nemu perbedaan pendapat kontemporer dengan ulama klasik yang jadi referensi mereka, karena mereka melakukan sintesis pendapat dari berbagai kitab yang dikumpulkan. Sarjana tersebut dapat bekerja melalui suatu proses sintesis dan rekonstruksi, di mana berbagai pendapat terdahulu diseleksi, diorganisasi, dan ditempatkan dalam suatu kerangka interpretatif baru (Kuhn, 1970). Dalam tradisi, fenomena evolusi pendapat tadi dibahas dalam konsep Continuity and Change (Asad, 2003).

Sehabis itu, kita bisa petakan dan bandingkan ulang setiap pendapat klasik tersebut, di bawah nama masing-masing posisi yang tadi kontemporer dengan Ust. Adi Hidayat. Beberapa data ini akhirnya bisa kita pake buat mengevaluasi perbedaan pendapat di lingkup modern soal shekh al-Albānī ini.

Kalau dari kami, istilah Ahl l-Hadīth dan Bāhith l-Hadīth punya perkembangan, evolusi tertentu, bahkan indikator yang ngga sepenuhnya disetujui dari ulama klasik sekali pun. Ini hasil analisa yang bisa dipertahanin dan jadi pertimbangan kuat ketika ada yang bertanya soal ceramah Ust. Adi Hidayat, kan?

Langkah Ringkasnya dan Tujuannya

Panjang? Lumayan. Oke, biar kami coba runtutin dengan singkat, biar bisa temen-temen pakai.

  1. Tentukan jenis data yang akan dipakai dengan mempertimbangkan genre.
  2. Kumpulkan setiap data yang relevan dari genre tersebut.
  3. Identifikasi setiap kemunculan istilah yang berkaitan dengan tema penelusuran.
  4. Buat ringkasan konseptual berdasarkan bukti dari penulis utama.
  5. Bandingkan ringkasan dengan beberapa definisi dari ahli yang berdekatan atau membahas isu yang serupa.
  6. Petakan setiap hasil pendapat dengan indikator yang jelas.
  7. Lacak akar pendapat yang menjadi rujukan setiap posisi dengan memperhatikan alur dan latar.
  8. Perhatikan perkembangan konsep setelah memetakan rujukan-rujukan tadi.
  9. Bandingkan ulang dalam sajian data yang mudah dibaca.
  10. Tetapkan kesimpulan sebagai bahan evaluasi isu awal.

Kita itu hidup di era dengan informasi melimpah. Kondisi ini bisa kita pake untuk dinikmatin selewat dengan ikut marah-marah atau melakukan penelaahan sistematis dan punya kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan. Moga-moga, lewat tawaran pendekatan ini, kita bisa lebih bijak dan hati-hati dalam menanggapi isu tertentu, sekaligus ngelatih cara berpikir kita. So, mari kita level-up tingkatan taqlid kita!

Referensi

Adler, M. J., & van Doren, C. (2025). How to Read a Book: The Classic Guide to Intelligent Reading. Simon & Schuster Australia.

Al-Ghumari, M. bin S. (2008). Taujih al-Inayah li al-Ta’rifi Ilmi al-Hadith Riwayatan wa Dirayatan. Maktabah Qahirah.

Asad, T. (2003). Formations of the Secular: Christianity, Islam, Modernity. Stanford University Press.

Kuhn, T. S. (1970). The Structure of Scientific Revolutions (2nd, Enlarge ed.). The University of Chicago Press.

Hidayat, A. [Lukman Hakim Official]. (2026, September 1). Ustadz Adi Hidayat : Syaikh Al-Albani Bukan Ahli Hadits? [Video]. Youtube. https://youtube.com/shorts/RIw2JJ1DOso?si=tcS32Fh7lQEV8Gzs

al-Uthaymin, S. F. [ALUthaymeen]. (2016, September 11). Liqo’i [40 min 46]  al-Muhaddits wa al-Fakih – Asy-Syaikh Ibn Utsaimin – Masyru’ kibari al-Ulama [Video]. Youtube. https://youtu.be/jmYw1NBKrhs?si=JfnIAzJvbQXFtbqD

Saleh, W. A. (2004). The Formation of the Classical Tafsīr Tradition: the Qurʼān commentary of al-Thaʻlabī (d. 427/1035). Brill.

Seorang penulis dengan spektrum tema yang chaotic dan sulit dicari kaitannya. Kalau mengecek scholar, mungkin ketemu benang merahnya yang ngga merah amat: dari kajian Quran, filsafat, psikologi, hingga sastra. Simpel aja, sebenernya, kan mereka bilang kalau "Quran adalah mukjizat kebahasaan," maka sebagai akademisi, proposisi ini perlu saya uji, dong? Tulisan digunakan si penulis sebagai perlawanan atas kebosanan dalam hidup, kalau lagi hoki, sekalian terhadap status quo dalam dunia intelektual. "Bertafakur sejam lebih baik daripada beribadah 60 tahun," dalil dalam Kitab Nashāih al-'Ibād yang jadi justifikasi penulis untuk menghindari berbagai kajian siraman qalbu. Argumen yang sama-sama menyebabkan orang gamau mendekat karena takut murtad.