Jejak Darah di Karbala: Tragedi Husain dan Memori Sejarah Perlawanan (2)

Zaid bin Ali dan Spirit Perlawanan: Membangun Imamah Zaidiyah di Yaman dan Kebangkitan Houthi

Sepeninggal Ali Zainal Abidin, mayoritas pengikut Syiah memandang Muhammad al-Baqir sebagai imam yang sah dan mewarisi garis spiritual Ahlul Bait. Namun dari sisi lain, muncul tokoh yang tak kalah kharismatik: Zaid bin Ali, putra dari Zainal Abidin sekaligus saudara kandung Muhammad al-Baqir. Zaid dikenal sebagai sosok pejuang, seorang ulama revolusioner yang meyakini bahwa diam terhadap kezaliman adalah bentuk penghianatan terhadap risalah kenabian. Ia tidak bisa tinggal diam melihat kekuasaan tiran Bani Umayyah yang terus menindas dan menyimpang dari nilai-nilai keadilan Islam.

Suatu ketika, saat Zaid berkampanye di Yaman, ia ditanya oleh salah seorang pengikutnya tentang pandangannya terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman, ia menjawab dengan jujur bahwa menurutnya mereka adalah orang-orang baik dan berjasa bagi Islam. Namun jawaban itu justru membuat sebagian pengikutnya kecewa, dan mereka berkata, “Nahnu rafadlna”—kami menolakmu. Maka sejak saat itu, muncullah dua arus dalam tubuh pengikut Zaid: satu mengikuti ajaran yang diajarkan Zaid, yang kemudian dikenal sebagai Zaidiyah; sementara satu lagi berkembang sebagai Rafidlah, yang sangat ekstrim menolak legitimasi tiga khalifah sebelum Ali.

Sebagai catatan, Zaid mengangkat senjata melawan penguasa saat itu dan melakukan pemberontakan di Kufah, namun gerakan tersebut gagal dan berujung pada kematiannya. Meski gugur secara tragis, semangat Zaid hidup dalam pengikut-pengikutnya yang setia. Kemudian mazhab Zaidiyah perlahan berkembang dan mengakar di wilayah Yaman bagian utara, terutama karena keterbukaan mereka terhadap tradisi Sunni dalam bidang fikih dan politik.

Momentum penting datang pada abad ke-3 Hijriah ketika seorang keturunan Nabi, al-Hadi ila al-Haqq Yahya, datang ke Yaman dan mendirikan imamah Zaidiyah di wilayah Sa’dah. Sejak saat itu, Zaidiyah menjelma menjadi kekuatan politik dan spiritual yang dominan di Yaman bagian utara selama berabad-abad. Meskipun kekuasaan mereka sempat pasang surut, spirit perlawanan dan keilmuan terus dijaga melalui jaringan madrasah, ulama, dan pesantren yang berakar kuat di pedalaman.

Lompatan sejarah berikutnya terjadi di abad ke-20, ketika seorang tokoh Zaidiyah bernama Hussein Badreddin al-Houthi mulai menyerukan kebangkitan baru melawan dominasi pemerintah Yaman yang didukung oleh kekuatan asing dan berhaluan Sunni Salafi. Gerakannya yang semula berbasis pendidikan dan dakwah akhirnya berubah menjadi gerakan militan setelah Hussein dibunuh pada 2004 oleh pemerintah Ali Abdullah Saleh.

Sejak saat itu, pengikutnya yang disebut Houthi (al-Ḥuthiyyun) berkembang menjadi kekuatan militer dan politik yang berpengaruh. Mereka mengambil banyak doktrin dari Zaidiyah klasik, terutama tentang perlawanan terhadap kezaliman dan pentingnya kepemimpinan Ahlul Bait, meskipun dalam praktiknya mereka juga menyerap unsur-unsur ideologi politik kontemporer seperti anti-imperialisme dan nasionalisme Arab.