KH. Q. Ahmad Syahid, Burung, dan Perjalanan Spiritual

Saat masih tsanawiah dan mondok di al-Falah, saya kerap memperhatikan kegiatan Ayah (Ajengan Syahid) di luar jadwal mengaji. Salah satunya adalah hobi memelihara burung. Jika saya melewati teras rumahnya untuk keluar gerbang pesantren, saya selalu melihat burung pada sebuah sangkar besar. Juga di dalam rumah, ada cukup banyak burung yang disimpannya. Saya tak mengerti, kenapa burung menjadi hewan yang disayanginya. Bukan ular, bukan kucing, bukan pula ikan cupang seperti yang saya punya.

Baru ketika saya keluar pondok, melanjutkan pendidikan di Aliyah al-Musaddadiyah dan perguruan tinggi, saya menemukan kitab-kitab, terutama kitab tasawuf, yang menjadikan burung sebagai permisalan agung. Misalnya ‘Mantiq al-Thair‘ karya Fariduddin Aththar dan ‘Risalah al-Thair‘ gubahan Ibn Sina.

Attar bercerita tentang perjalanan burung-burung menuju rajanya yang bernama Simurgh. Menurut beberapa pengamat, burung-burung itu adalah simbol dari jiwa-jiwa manusia, sedangkan Simurgh adalah perlambang Tuhan. Namun, sebelum sampai tujuan (Tuhan), burung-burung ini harus melewati tujuh lembah yang melelahkan: cinta, makrifat, perpisahan, kesatuan, keheranan, kefakiran, dan kehancuran. Akibatnya, ada burung yang sampai tujuan, ada yang kembali pulang ke bumi dengan seribu macam alasan.

Kemudian, Ibnu Sina pun menggunakan simbol burung dalam kitab ‘Risalah al-Thair‘. Lagi-lagi, burung di sini merupakan lambang jiwa manusia. Ibn Sina menceritakan, bahwa ada sekawanan burung yang turun ke bumi. Mereka ditangkap seorang pemburu, dimasukkan dalam sangkar, dan diberi kenikmatan tiada tara. Burung-burung ini merasa hanya dunia sangkar inilah yang terbaik. Sampai satu saat, ada suara yang memanggil-manggil burung-burung itu, menegaskan bahwa sangkar itu bukanlah tempat sejati mereka. Maka di sinilah perjalanan spiritual manusia, untuk keluar dari jebakan dunia, dimulai!

Selanjutnya, mari kita masuk dalam kalam teragung, yakni al-Quran. Di dalamnya, burung merupakan perlambang akal. Kecerdasan. Pengetahuan. Misalnya, al-Quran bercerita “perang saudara” anak-anak Nabi Adam. Segera setelah membunuh saudaranya sendiri, yaitu Habil, Qabil kebingungan. Ia tak tahu cara yang layak untuk mengebumikan jenazah Habil. Seekor gagak kemudian mendarat dengan membawa bangkai gagak lain. Dia mengais tanah dan menggali liang, lalu memendam bangkai gagak yang dibawanya.

Setelah menyaksikan adegan itu dan mengambil pelajaran darinya, Qabil mengikuti teladan sang gagak. Ia menggali tanah, lalu mengubur jenazah Habil. Itulah peristiwa penguburan jenazah pertama yang dilakukan dalam sejarah umat manusia. Ternyata, salah satu avian paling cerdas itu adalah guru yang mengajari manusia bagaimana memuliakan manusia lain yang telah mulih ka jati mulang ka asal. Ironis tetapi luar biasa: manusia belajar menjadi manusia justru dari gagak yang merupakan binatang.

Al-Quran juga mengisahkan hubungan Nabi Sulaiman dengan burung hud-hud kesayangannya. Konon, yang dimaksud hud-hud dalam al-Quran adalah burung pelatuk, salah satu burung terpintar. Hud-hud terbang melintasi angkasa negeri yang dipimpin seorang perempuan dan menyembah matahari. Dia melaporkan hasil “observasi”-nya kepada Nabi Sulaiman.

Sang Nabi lalu mengutus hud-hud sebagai diplomat dengan misi menyerahkan surat kerajaan kepada sang ratu. Alih-alih berisi perintah takluk dan maklumat perang, surat tersebut pada dasarnya mengandung pesan damai: bismillah al-rahman al-rahim. Dengan demikian, dalam cerita ini, di samping menandakan kecerdasan, burung juga mengisyaratkan perdamaian, rahmat, dan cinta.

Bagi saya pribadi hari ini, kesenangan Ajengan Syahid dalam memelihara burung, ada sangkut pautnya dengan perlambang. Bahwa sejatinya, melalui dunia pesantren, beliau sedang mengasuh dan memelihara jiwa-jiwa manusia (santri), untuk melakukan sebuah perjalanan spiritual, perjalanan akal, dan perjalanan cinta, menuju Tuhan!

Wallahu A’lam bishawwab..