Aku dilahirkan sebagai puisi, bukan sebagai tubuh yang patuh pada hantu yang bernama moralitas, melainkan sebagai getar yang tak pernah selesai untuk dibaca.
Sejak pertama napas menyentuh udara, aku bukan hanya sekedar menangis, melainkan bait yang pecah di antara keheningan.
Ibuku mungkin mengira aku adalah anak seperti pada umumnya, daging dan darah yang kelak belajar berjalan.
Namun diam diam aku tumbuh sebagai metafora yang menolak untuk di seragamkan.
Dunia mencoba menjadikanku prosa: rapi, sistematis, taat pada titik dan koma. ia menyodorkan definisi, menawarkan makna yang sudah disiapkan, menyuruhku menjadi kalimat yang mudah dimengerti.
Tapi aku dilahirkan sebagai puisi yang liar dan retak, kadang juga tidak masuk akal.
Aku mencintai jeda lebih dari jawaban. aku memeluk ambigu seperti saudara aku sendiri.
Di dalam diriku, kata-kata saling bertabrakan, melahirkan cahaya atau luka. ah kadang juga keduanya hadir sekaligus.
Jika suatu hari kalian tak mampu memahamiku, itu bukan urusanku. barangkali aku hanya terlalu penuh dengan keterasingan.
Aku dilahirkan sebagai puisi yang tidak indah, getir, dan selalu mempertanyakan langit tanpa berharap jawaban.
Dan bila kelak aku harus kembali pada tanah, biarlah aku pulang sebagai bait terakhir yang menggantung tanpa titik yang jelas.
Sebab hidupku bukan cerita yang harus selesaikan, melainkan larik yang terus bergetar di antara ada dan ketiadaan.






