Mengapa Orang yang Tidak Membaca Lebih Mudah Dikendalikan? Fakta, Teori, dan Sejarahnya

Banyak orang hari ini bilang, “Aku nggak suka baca buku, yang penting kan update.” Padahal yang sering terjadi, bukan update—tapi keteteran. Jempol memang lincah, tapi kepala jarang diajak mikir agak jauh. Scroll jalan terus, tapi pemahaman jalan di tempat. Lucunya, kita hidup di zaman paling kaya informasi sepanjang sejarah, tapi juga zaman paling gampang ketipu. Bukan karena orang-orang makin bodoh, melainkan karena makin jarang mau duduk sebentar dan membaca dengan serius. Penelitian literasi global sudah lama nunjukkin: orang yang terbiasa membaca teks panjang jauh lebih tahan terhadap hoaks dan provokasi. Otaknya kebal drama.

Ada teori psikologi yang bilang begini: orang yang jarang membaca itu gampang puas sama jawaban pendek. Judul berita sudah dianggap isi, potongan video sudah dianggap kebenaran. Keith Stanovich menyebut ini efek bola salju yang rajin baca makin tajam, yang malas baca makin ketinggalan. Bukan karena yang satu lebih pintar, tapi karena yang satu latihan mikir, yang satu latihan scrolling. Sejarah juga nggak kalah nyeleneh. Pernah kepikiran kenapa penguasa-penguasa galak itu alergi buku? Nazi bakar buku, rezim otoriter doyan sensor bacaan, penjajah dulu males banget bikin rakyatnya pinter baca. Soalnya buku itu berisik—bikin orang nanya, curiga, dan susah nurut. Orang yang baca banyak biasanya ribet kalau disuruh percaya mentah-mentah.

Sekarang bukunya nggak dibakar, tapi dikalahkan sama notifikasi. Ironis, tapi efektif. Riset MIT Media Lab pernah nemuin kalau berita bohong nyebar lebih cepat dari berita beneran. Alasannya sederhana: orang yang jarang baca panjang lebih gampang kepancing emosi. Yang rajin baca biasanya berhenti sebentar, mikir, terus nanya, “Ini masuk akal nggak, sih?”

Ada sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, yang bilang membaca itu modal sosial. Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat bertahan hidup. Orang yang banyak baca biasanya lebih pede ngomong, lebih rapi mikir, dan lebih susah dibodohi. Bukan karena sok pinter, tapi karena punya cadangan kata dan ide buat melawan omong kosong.

Masalahnya, banyak orang ngerasa nggak baca juga nggak apa-apa. Hidup jalan terus, kerja tetap ada. Benar. Tapi pelan-pelan, tanpa sadar, kita mulai hidup dari pikiran orang lain. Opini dipinjam, emosi dipancing, keputusan diambil karena ikut-ikutan. Di titik ini, kita nggak kalah cepat kita kehilangan arah. Membaca memang nggak bikin hidup langsung beres. Tapi setidaknya, membaca bikin kita tahu kapan lagi dibohongi, kapan lagi dimainin, dan kapan harus bilang, “Bentar, ini kayaknya nggak beres.” Dan di zaman yang isinya teriak semua, orang yang bisa mikir pelan justru punya keunggulan. Kalau dunia ini lomba lari, membaca bukan bikin kita ngebut. Tapi bikin kita tahu ke mana harus lari.

Berusaha suka membaca. Maksudnya, saya memang suka baca buku, teks, nota kaki, bahkan kemasan snack kadang dibaca sambil mikir “ini pesan tersiratnya apa ya?” Menulis buat saya bukan soal rapi atau enak, tapi soal bikin kepala orang gerak, tersadar, atau paling nggak tersenyum miris karena merasa, “Ah, iya juga ya.”