Selarik Munajat Syakbaniyyah dalam Lensa Aristoteles, Plotinus, Wittgenstein, dan Austin

Walahan bi-Dzikrika ila Dzikrika

إِلٰهِي وَأَلْهِمْنِي وَلَهًا بِذِكْرِكَ إِلَىٰ ذِكْرِكَ

Ilahi, ilhamkanlah kepadaku walah—ekstasis rindu—dengan dzikir-Mu menuju dzikir-Mu.


Ketakhinggaan dalam Satu Larik

Di antara banyak teks doa dalam khazanah spiritual Islam, Munajat Syakbaniyyah menempati posisi istimewa. Ia bukan sekadar permohonan, melainkan medan pengalaman—tempat bahasa, eksistensi, dan cinta Ilahi saling bertaut. Salah satu lariknya, “walahan bi-dzikrika ila dzikrika”, tampak sederhana, bahkan secara sepintas terasa repetitif. Namun justru di dalam pengulangan inilah tersimpan pusaran makna yang nyaris tak bertepi.

Tulisan ini berangkat dari keyakinan bahwa teks spiritual besar selalu melampaui satu disiplin. Karena itu, selarik ini akan kita baca dengan membuka dialog lintas tradisi: Aristoteles dengan filsafat gerak dan aktualitas, Plotinus dengan metafisika kembalinya jiwa, Wittgenstein dengan batas-batas bahasa, dan J. L. Austin dengan teori ujaran performatif. Bukan untuk “menguasai” teks doa dengan filsafat, tetapi untuk membiarkan teks itu memantulkan dirinya dalam cermin-cermin pemikiran yang berbeda.

Walah: Ekstasis sebagai Keruntuhan Subjek

Kata walahan (وَلَهًا) berasal dari akar w-l-h, yang dalam bahasa Arab menunjuk pada kehilangan akal karena cinta, kebingungan yang melumpuhkan, atau kerinduan yang membakar. Yakni, huzn yaghlibu ‘ala al-‘aql—kesedihan yang mengalahkan rasio.

Dalam perspektif filsafat klasik Barat, kondisi ini terasa asing. Epistemologi modern—sejak Descartes—bertumpu pada subjek yang sadar, stabil, dan reflektif. Namun walah justru menandai runtuhnya subjek. Ia bukan puncak kontrol, melainkan puncak keterlepasan.

Di sini, kita menemukan resonansi dengan Plotinus. Dalam Enneads, Plotinus menggambarkan momen ketika jiwa kembali kepada Yang Satu (epistrophe). Pada saat itu, subjek tidak lagi “melihat” Yang Satu sebagai objek. Ia larut. Plotinus bahkan menegaskan bahwa dalam persatuan tertinggi, “yang melihat dan yang dilihat menjadi satu.” Walah dalam Munajat Syakbaniyyah beroperasi pada horizon yang sama: ekstasis sebagai negasi dualitas.

Dzikir: Dari Aktivitas Menuju Keadaan

Secara etimologis, dzikir berarti mengingat atau menyebut. Namun Al-Qur’an sendiri memperluas maknanya: “Fadzkuruni adzkurkum”—ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian. Di sini, dzikir bukan monolog, melainkan relasi resiprokal.

Tradisi irfan Islam membedakan dzikir lisan, dzikir hati, dan dzikir sirr. Frasa “bi-dzikrika ila dzikrika” dengan jelas mengisyaratkan gradasi ontologis: dari dzikir sebagai alat menuju dzikir sebagai keadaan. Dari melakukan dzikir menuju menjadi dzikir.

Dalam istilah Aristoteles, ini bisa dibaca sebagai peralihan dari kinesis menuju energeiaKinesis adalah gerak menuju tujuan; energeia adalah aktualitas yang sudah hadir. Dzikir awal adalah gerak—upaya, latihan, pengulangan. Dzikir akhir adalah aktualitas—kehadiran penuh, tanpa jarak. Maka “menuju dzikir” bukan berarti berpindah tempat, melainkan mengintensifkan keberadaan.

Struktur Bahasa sebagai Peta Metafisika

Secara gramatikal, frasa ini membentuk struktur yang sangat khas:

  • Walahan: keadaan eksistensial
  • Bi-dzikrika: dzikir sebagai instrumen
  • Ila dzikrika: dzikir sebagai tujuan

Ini menciptakan sebuah lingkaran hermeneutik: dzikir dipakai untuk sampai pada dzikir. Dalam logika formal Aristotelian, struktur semacam ini bisa dianggap petitio principii—berputar pada premis yang sama. Namun dalam logika mistis, ini justru merupakan tautologi yang produktif.

Di sinilah konsep mise en abyme relevan: struktur yang memuat dirinya sendiri secara rekursif. Dzikir yang mengantar kepada dzikir yang lebih dalam, yang kembali mengantar kepada dzikir yang lebih hakiki—sebuah spiral, bukan lingkaran datar.

Austin: Dzikir sebagai Ujaran Performatif

Di titik ini, pemikiran J. L. Austin memberi kunci yang sangat penting. Austin membedakan antara constative utterance(ujaran deskriptif) dan performative utterance (ujaran yang melakukan tindakan). Ketika seseorang berkata “Aku berjanji,” ia tidak sedang melaporkan janji—ia sedang menciptakan janji.

Dzikir sepenuhnya berada di ranah performatif. Ketika seorang hamba mengucap “La ilaha illa Allah”, ia tidak sedang menyampaikan informasi teologis. Ia sedang melakukan eksorsisme ontologis: menyingkirkan ilah-ilah palsu dari ruang batin dan menegakkan tauhid di dalam diri.

Dengan lensa Austin, “bi-dzikrika” adalah tindakan ujaran, sedangkan “ila dzikrika” adalah keadaan dunia yang dihasilkan oleh tindakan itu. Dzikir bukan tentang benar atau salah secara proposisional, tetapi tentang berhasil atau tidaknya sebuah transformasi eksistensial.

Plotinus: Kembali Tanpa Perpindahan

Plotinus berbicara tentang epistrophe—kembalinya segala sesuatu kepada Yang Satu. Namun kembalinya ini bukan perjalanan spasial. Ia adalah intensifikasi realitas. Jiwa tidak pergi ke tempat lain; ia menjadi lebih “nyata.”

Inilah yang terjadi dalam “bi-dzikrika ila dzikrika.” Dzikir awal dan dzikir akhir menunjuk pada realitas yang sama, tetapi dengan kepadatan wujud yang berbeda. Seperti tawaf di Ka‘bah: berputar di titik yang sama, tetapi setiap putaran adalah pendakian.

Wittgenstein: Batas Bahasa dan Bahasa Doa

Wittgenstein dalam Tractatus menulis kalimat terkenal: “Wovon man nicht sprechen kann, darüber muss man schweigen.” Tentang apa yang tak dapat dibicarakan, kita harus diam. Bagi Wittgenstein, bahasa memiliki batas, dan melampaui batas itu berarti jatuh ke dalam nonsens.

Namun Munajat Syakbaniyyah justru berdiri di wilayah “yang tak terkatakan.” Ia tidak berusaha menjelaskan Tuhan, tetapi menunjuk kepada-Nya melalui paradoks, pengulangan, dan tautologi. Dalam fase akhir pemikiran Wittgenstein (Philosophical Investigations), bahasa dipahami sebagai language-game. Doa adalah permainan bahasa yang tidak tunduk pada logika deskriptif, tetapi pada logika hidup.

“Dzikir menuju dzikir” adalah permainan bahasa spiritual: ia tidak informatif, tetapi transformatif.

Gerak Tanpa Finalitas

Aristoteles mengajarkan bahwa setiap gerak memiliki tujuan (telos). Namun dalam dzikir, tujuan itu terus bergeser. Setiap “sampai” justru membuka “menuju” yang baru. Ini adalah gerak tanpa finalitas—bukan karena sia-sia, tetapi karena tujuannya adalah Yang Tak Terbatas.

Di sinilah walahan menemukan tempatnya: kegilaan spiritual bukan deviasi, melainkan konsekuensi logis dari mengejar Yang Tak Berhingga dengan wadah yang terbatas.

Dzikir sebagai Kehidupan

Akhirnya, selarik “walahan bi-dzikrika ila dzikrika” mengajarkan bahwa dzikir bukan ritual yang terpisah dari hidup. Ia adalah cara berada. Ketika dzikir menjadi energeia, seluruh hidup berubah menjadi doa: bekerja, memberi, mencintai—semuanya menjadi dzikir.

Maka doa ini, pada dasarnya, adalah permohonan agar:

  • dzikir menjadi kontinu,
  • dzikir menjadi intens,
  • dan dzikir melahirkan kerinduan untuk liqā’.

Dan di titik itu, bahasa pun berhenti menjadi kata. Ia menjadi kehadiran.

Wa mā tawfīqī illā billāh, ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi unīb.

Pakar Teknologi Informasi Komunikasi/TIK dari Bandung. Lulusan Waseda University, Jepang dan ITB. Mengabdi sebagai Dosen di STEI ITB sejak puluhan tahun silam. Juga, meneliti dan berbagi visi dunia TIK kepada ribuan profesional TIK dari ratusan BUMN dan Swasta sejak hampir 20 tahun lalu.