Rumah di Antara Dua Cahaya: Perjalanan Estetika dari Batin Al-Ghazali Menuju Akal Ibnu Rusyd

Bagi seorang kurator, seniman, sekaligus pengelana sejarah, melihat sebuah karya seni sering kali terasa seperti membaca surat rindu atau naskah visual yang tak kunjung selesai. Ada sesuatu yang selalu tertinggal di balik sapuan warna atau guratan garis; sebuah kerinduan manusia untuk menyentuh yang melampaui dirinya. Di tengah hiruk-pikuk dunia seni hari ini yang sering kali bising oleh pasar dan haus akan pengakuan, saya sering kali merasa perlu untuk menepi sejenak, mengajak bicara dua sosok yang pemikirannya telah menjadi kompas bagi kebudayaan Islam, yaitu Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.

Pertemuan kedua tokoh ini dalam ruang seni bukan sekadar perdebatan teologis yang dingin, melainkan sebuah pelukan hangat bagi kemanusiaan kita yang sering kali retak antara keinginan untuk bersujud dan dorongan untuk merdeka.

Al-Ghazali Membaca Seni sebagai Keheningan dan Zikir Visual

Kita sering mendengar nama Al-Ghazali dikaitkan dengan pembatasan. Namun, jika kita membacanya dengan hati yang terbuka, ia sebenarnya adalah seorang penjaga arah yang sangat mencintai keindahan. Al-Ghazali paham betul bahwa manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh dzauq—rasa yang tak tersentuh oleh logika. Baginya, seni bukanlah musuh kebenaran, melainkan jembatan menuju “Rumah Tuhan”.

Namun, Al-Ghazali memberikan sebuah pengingat yang sangat manusiawi, yaitu seni harus memiliki navigasi. Hidup ini adalah perjalanan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, sebuah tawaran diksi Islami untuk lanskap seni rupa yang lebih sering memakai istilah katarsis. Maka, seni rupa atau musik bagi Al-Ghazali layaknya cermin. Jika cermin itu kita gunakan hanya untuk mengagumi wajah sendiri seperti: memuja ego, mencari ketenaran, atau memamerkan kemahiran teknis semata, maka seni itu telah kehilangan fungsinya.

Al-Ghazali bertanya kepada kita para seniman: “Apa yang tersisa di batinmu setelah karya ini selesai?” Jika yang muncul adalah keheningan, refleksi, dan rasa kecil di hadapan Sang Maha Indah, maka karya itu adalah ibadah. Di sinilah Al-Ghazali memindahkan pusat estetika dari sekadar mata lahiriah ke mata batin (bashirah). Ia mengajak kita untuk tidak sekadar “melihat” yang tampak, tapi “merasakan” yang ada di baliknya. Seni baginya adalah cara kita melatih batin agar tidak lagi tuli terhadap bisikan kebenaran.

Ibnu Rusyd Menawarkan Kemerdekaan Akal dan Jembatan Imajinasi

Di seberang jalan, Ibnu Rusyd berdiri dengan senyum intelektualnya. Sebagai filsuf yang merajut antara wahyu dan rasio, ia menawarkan perspektif yang membebaskan. Jika AlGhazali menjaga agar kita tidak hanyut dalam ego, Ibnu Rusyd menjaga agar kita tidak lumpuh dalam ketakutan.

Bagi Ibnu Rusyd, berkesenian adalah bentuk syukur atas anugerah akal. Ia melihat imajinasi (khayal) bukan sebagai fantasi liar yang menyesatkan, melainkan sebagai anugerah ilahi yang memungkinkan manusia memahami hakikat dunia. Di sinilah letak kemerdekaan seniman. Ibnu Rusyd memberikan legitimasi bahwa menafsirkan realitas, bereksperimen dengan simbol, dan menggunakan bahasa metafora adalah hakikat dari martabat manusia sebagai khalifah di bumi.

Ia memetakan masyarakat dalam lapisan-lapisan pemahaman, dan ia menempatkan seni di wilayah khaṭābī, yaitu wilayah di mana kebenaran disampaikan lewat rasa, emosi, dan cerita. Bagi Ibnu Rusyd, seni adalah medium kultural agar nilai-nilai luhur tidak hanya menjadi milik para pemikir di menara gading, tapi bisa dinikmati dan dihayati oleh semua orang melalui imajinasi yang merdeka.

Ahmad Sadali Lahir Untuk Melukis Doa dalam Retakan

Pergulatan antara batin Al-Ghazali dan rasio Ibnu Rusyd ini menemukan bentuknya yang paling puitis pada sosok Ahmad Sadali. Melihat lukisan Sadali adalah sebuah pengalaman “mengalami batas”.

Secara fisik, kita melihat bidang-bidang yang retak, tekstur yang kasar, dan lelehan warna yang tampak acak dengan pendekatan abstrak formalisme. Ini adalah personifikasi dari manusia yang rapuh, yaitu sebuah pendekatan yang sangat Ghazalian. Sadali seolah ingin berkata bahwa manusia adalah makhluk yang retak, penuh noda, dan tak berdaya. Namun, di tengah keretakan itu, ia selalu menyisipkan lembaran emas (gold leaf) yang berkilau pada lukisannya.

Cahaya emas itu bukan sekadar dekorasi; itu adalah simbol kehadiran Tuhan di dalam kehancuran ego kita. Sadali melukis untuk menundukkan dirinya sendiri. Baginya, kanvas adalah tempat sujud. Melalui karyanya, kita diajak untuk kembali pada keheningan, melepaskan segala atribut duniawi, dan menemukan kekayaan justru di dalam “kemiskinan spiritual” kita.

AD Pirous Hadir Untuk Menata Kata Menjadi Cahaya

Di sisi lain, AD Pirous menghidupkan semangat Ibnu Rusyd dengan cara yang sangat elegan. Pirous adalah seorang arsitek rupa yang percaya bahwa kebudayaan Islam harus relevan dengan zaman. Ia tidak membiarkan kaligrafi Islami/Qurani berhenti pada tradisi menyalin teks yang kaku.

Melalui tangannya, ayat-ayat suci menjadi hidup dalam komposisi warna dan garis yang modern. Pirous menggunakan akalnya untuk menata harmoni. Jika Sadali adalah “doa yang meratap”, maka Pirous adalah “syukur yang terorganisir”. Ia membuktikan bahwa iman tidak bertentangan dengan estetika modern. Karyanya cerdas, bersih, dan komunikatif. Sebuah jembatan imajinasi yang memungkinkan penonton dari latar belakang apa pun untuk merasakan kemuliaan pesan yang dibawanya. Pirous menunjukkan bahwa merdeka dalam seni berarti berani membawa identitas spiritual kita ke tengah-tengah percakapan dunia seni tanpa harus kehilangan jati diri.

Menghuni Ruang Tengah

Sebagai seniman dan pengamat hari ini, saya merasa bahwa pemetaan ini sangat krusial. Kita tidak perlu memilih untuk menjadi pengikut Al-Ghazali saja atau Ibnu Rusyd saja. Sejarah seni rupa Islam Indonesia yang inklusif justru lahir karena kita mampu menghuni “ruang tengah” di antara keduanya.

Seni rupa kontemporer kita hari ini adalah sebuah perjalanan yang sangat manusiawi. Ada saat-saat di mana kita harus “menjadi Sadali” yang masuk ke dalam gua batin, meretakkan ego, dan mencari cahaya di tengah kegelapan jiwa. Namun ada pula saat-saat di mana kita harus “menjadi Pirous” yang berdiri tegak, menggunakan akal budi, dan menyuarakan kebenaran melalui estetika yang cerdas dan merdeka, tanpa harus menutupi jati diri keislamannya.

Merdeka dalam berkesenian, pada akhirnya, bukan berarti lepas dari nilai. Justru, kemerdekaan itu lahir saat kita berani mengolah ketegangan; antara iman dan imajinasi, antara zikir dan pikir; antara iman, rasa dan rasio, menjadi sebuah karya rupa yang mampu menyapa nurani manusia. Seni bukan sekadar dekorasi hidup; ia adalah jalan kita untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang kian bising ini.

Wildan F. Akbar adalah pegiat seni dan budaya, serta peneliti independen yang berfokus pada kajian estetika Islam dan kebudayaan Nusantara. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, dan meraih gelar Magister Seni Rupa dari Institut Teknologi Bandung. Melalui praktik riset dan kerja kuratorialnya, Wildan mengkaji relasi antara spiritualitas, simbolisme, dan identitas lokal dalam seni rupa kontemporer Indonesia. Ia merupakan pendiri komunitas Bormove (Boarding Movement), sebuah wadah yang mengembangkan wacana dan praktik seni berbasis nilai-nilai pesantren serta menghadirkan dialog antara tradisi dan modernitas dalam konteks seni rupa kontemporer. Sebagai seniman, Wildan kerap mengeksplorasi tema identitas, spiritualitas, dan kesadaran sosial melalui karya dua dimensi, instalasi, dan proyek berbasis komunitas. Pada tahun 2019, ia menerbitkan buku antologi puisi berjudul “Diamku, Gerakku” yang memadukan refleksi batin dan pergulatan eksistensial seniman urban. Selain aktif berkarya dan mengkuratori pameran, Wildan juga menulis esai dan refleksi tentang seni, budaya, dan spiritualitas sebagai bentuk kontribusi intelektualnya terhadap dunia seni rupa Indonesia.