Perjalanan Panjang Tanpa Akhir: Tentang Pencarian Keutuhan Primordial Hingga Kembali Kepada Kesatuan dengan Rahim Ibu

 

Yang kita mainkan serta rayakan adalah fantasi atau imajinasi, atas pembekuan realitas oleh konsep-konsep sebagai proses menopengi “yang nyata”. 

Penulis (Mahasiswa Belum Sarjana)


 

“Aku” dapat berubah menjadi “Kamu”, “Dia”, “Mereka”, “Kita” lalu keunikan dan otonomi “Aku” sebagai subjek ternyata rapuh.

Jacques Lacan


 

Sang Arsitek Hasrat

Menelusuri jejak Jacques Lacan di persimpangan jalan tempat mimpi, logika, bahasa, dan kesadaran bertemu, sosok Lacan berdiri bak penjaga gerbang yang misterius. Ia memang mewarisi jubah Sigmund Freud, namun Lacan tidak sekadar mengulang hafalan lama. Ia membedah kembali jiwa manusia dan membangun sebuah “metafisika baru”, bukan tentang langit yang jauh atau esensi yang kaku, melainkan tentang labirin bahasa dan struktur batin yang membentuk siapa diri kita sebenarnya.

Menenun Benang-Benang Pemikiran

Jacques Lacan bukan sekadar tabib jiwa, ia adalah seorang pengembara intelektual Prancis yang menghabiskan abad ke-20 dengan merajut berbagai benang ilmu. Bayangkan sebuah kanvas besar di mana lingustik Saussure bertemu dengan logika Levi Strauss serta gema dialektika Hegel bersinggungan dengan kesunyian eksistensial Heidegger. Semua itu, ia leburkan ke dalam karya agungnya. Membaca tulisannya memang seperti memasuki hutan rimba yang pekat, penuh dengan permainan kata, metafora yang berputar-putar, dan alur pemikiran yang tidak pernah berjalan lurus. Ia seolah sengaja mengajak kita untuk tersesat.

Warisan Di Balik Kerumitan

Bagi mereka yang sabar meniti kerumitan itu, akan ditemukan sebuah harta karun teori yang luar biasa. Lacan menyingkap tabir tentang bagaimana subjek, hasrat, dan budaya saling berkelindan. Guncangan pemikirannya tidak hanya berhenti di kursi praktik psikologi, tapi meluap hingga membasahi ranah filsafat, kritik sastra, bahkan cara kita melihat budaya populer hari ini. Lacan mengajarkan kita bahwa “diri” bukanlah sesuatu yang utuh, melainkan sebuah kontruksi yang terus-menerus mencari bentuk di dalam cermin bahasa.

Jejak Samar Rahim Alam Semesta Dan Keheningan Tanpa Kata

Berdasarkan skema Lacan, ada satu tatanan paling purba yang menjadi landasan eksistensi kita, namanya The Real  atau “Yang Nyata”. Tapi, “Yang Nyata” ini bukanlah dunia kasat mata yang kita lihat sehari-hari, bukan pula tumpukan benda-benda di sekitar kita. Bayangkan sebuah keadaan di mana semua garis batas runtuh tak ada “aku” dan “kamu”, tak ada “subjek” dan “objek” tak ada pemisah antara dirimu dan semesta raya. Contoh pengalaman yang paling dekat dengan keutuhan murni ialah saat kita masih berupa janin yang bersemayam di hangatnya rahim ibu, sebuah rahim yang bukan sekadar tempat fisik, tapi pelukan ontologis yang total. Di sana, segalanya berkelindan, manunggal tanpa sela. Ini bukan sekadar perasaan nyenyak, namun sebuah kelengkapan tanpa tara, ketenangan mutlak yang melampaui bayangan kita. Tak ada celah, tak ada dahaga, tak ada bahasa. Saat itu, tak ada kebutuhan untuk menamai apa-apa karena segalanya adalah satu.

Di dunia “Yang Nyata” ini “kekurangan” itu asing, dan karena tak ada yang kurang, maka hasrat pun tak pernah ada. Itulah kenapa, begitu kita lahir dan menghirup udara dunia, surga tanpa kata ini runtuh. “Yang Nyata” jadi sebuah alam yang tak mungkin lagi kita jangkau, hanya bisa kita rindukan dengan luluh lantak. Keheningan tanpa aksara ini kemudian menjadi “cetak biru” bagi seluruh angan-angan religius dan spritual manusia. Bayangan tentang surga yang kekal, kelimpahan tanpa syarat, dan kebahagiaan abadi, semuanya bermula dari ingatan samar akan keutuhan purba ini.

Setiap laku spiritual, mulai dari heningnya meditasi, alunan zikir, jalan tasawuf, hingga kontemplasi mistik lainnya sebenarnya adalah usaha untuk mendengarkan gema yang hilang itu, sebuah dendang kerinduan untuk kembali luluh dan menyatu dengan asal-usul, sang sumber kehidupan, sang kosmos itu sendiri. Namun, dalam mata Lacan, apa yang kita sebut “Kesatuan Primordial” sejatinya adalah kehilangan akan sesuatu yang tak pernah benar-benar kita miliki secara sadar. Kita merasakannya sebagai kehilangan fundamental yang mendalam. Di sinilah akar dari segala hasrat manusia, kita terus mencari bukan karena menginginkan objek-objek tertentu, melainkan karena kita merindukan keutuhan yang telah hilang. Sebuah lubang menganga yang tak pernah bisa terisi penuh di dalam diri kita.

Cermin Batin dan Nyanyian Kedirian

Sejak denting kelahiran, jiwa terhempas dari sunyi The Real, lalu berlabuh pada pusaran kedua yakni The Imaginary, sebuah “panggung citra dan ilusi”. Di sinilah, tunas pertama dari rasa “aku” mulai merangkak, dibentuk oleh pantulan bayangan yang samar. Jacques Lacan menyebutnya Fase Cermin (mirror stage), sebuah ritus sakral pembentukan diri. Sebelum tatapan mata menemukan cermin, tubuh hanyalah serpihan yang terpisah, sebuah mozaik sensasi tanpa koordinasi, tangisan yang meletup, gerak organ yang sunyi, rasa lapar yang menggerus semua adalah pecahan pengalaman yang belum menyatu.

Lalu, di hadapan cermin yang hening atau pada keutuhan tubuh ibu yang dipuja sebuah keajaiban visual terjadi. Bayi menangkap dirinya sebagai keseluruhan yang utuh, sebuah gambar yang sempurna. Namun, di sanalah letak tragedi dan keindahan seolah  gambar itu hanyalah ilusi, sebuah representasi, bukan esensi diri yang sejati. Kedirian yang baru lahir adalah hasil dari identifikasi dengan bayangan yang justru bukan dirinya. Inilah batu penjuru bagi seluruh pengembaraan jiwa manusia. Oleh sebab subjek selalu mengenal wujudnya melalui objek yang lain, ia pun merajut selimut identitasnya dari benang-benang keterikatan.

Kita mencari kepuasan, mencari definisi diri, dan menemukan makna dalam serangkaian pengalaman yang membentuk hidup. Kita menemukannya pada santapan yang memuaskan hasrat, di mana kenikmatan indrawi menjadi jeda sesaat dari keruwetan dunia. Kita menemukannya pada lengkung dan rupa raga sendiri, di mana bayangan di cermin menawarkan janji akan keutuhan atau pengakuan. Lalu, kita mencarinya pada keindahan seni dan estetika, di mana harmoni warna atau melodi memberikan rasa sublim. Diri pun ditemukan pada gejolak hasrat dan seksualitas, di mana pertemuan dengan yang lain membangkitkan dan menantang batas-batas keberadaan. Kita meraihnya pada lembaran buku, dentingan musik, dan kesukaan hati yang kita rajut sendiri, di mana kita menemukan pelabuhan bagi jiwa. Tak lupa, ia juga bersembunyi pada jubah simbol dan status sosial yang kita kenakan, memberikan struktur dan posisi dalam tatanan dunia. Bahkan, pencarian itu berujung pada dongeng dan narasi yang kita ciptakan tentang diri sendiri, cerita-cerita yang kita yakini, yang memberikan konsistensi ilusi terhadap proses diri yang terus bergerak dan berubah.

Dalam bingkai Lacan, setiap cinta yang menggebu, obsesi yang tak terhindarkan, atau kegandrungan yang mendalam adalah nyanyian merdu dari mekanisme identifikasi ini. Diri yang imajiner adalah si pemuja refleksi, yang selalu mencari wajahnya di cermin-cermin dunia luar. Kita terpikat pada melodi bukan hanya karena notasinya, tetapi karena melodi itu menjadi kanvas untuk membayangkan siapa diri kita. Kita tenggelam dalam halaman buku karena ia menjelma menjadi lambang yang mewakili identitas kita yang diidamkan. Maka, The Imaginary adalah istana megah tempat “diri” dibentuk sebagai bayangan, citra, refleksi sebuah konstruksi yang gemerlap, bukan substansi yang abadi.

Tirai Simbol Bahasa, Jaring Hasrat, dan Kehilangan Diri

Saat melangkah ke ambang kedewasaan, jiwa kita memasuki babak ketiga yakni The Symbolic, sebuah “kerajaan yang terbuat dari suara, dianyam oleh hukum, adat, dan norma budaya”. Di sinilah, subjek terlahir kembali sebagai makhluk sosial, mengenakan jubah bahasa yang penuh aturan. Ia adalah arena di mana permainan benang  Lacan terus dimainkan seolah simbolisasi abadi atas muncul dan hilangnya objek yang tak tergapai.

Namun, Simbol adalah cermin yang tak pernah utuh. Ia adalah selubung yang tak pernah sepenuhnya dapat memuat realitas yang mendalam The Real. Bahasa, sang simbol paling purba, menjadi perahu kita dalam lautan ekspresi, namun di saat yang sama, ia adalah peta yang menunjukkan bahwa diri kita selalu berada di seberang batas ucap. Semakin kita merangkai kata, semakin jelas terasa ada sepotong jiwa yang tak terkatakan, selalu ada sisa, selalu ada kelebihan yang meluap, dan kekurangan yang menganga. Dari lubang inilah lahir paradoks yang menggetarkan, Bahasa memberi kita napas untuk menamai dan menyuarakan hasrat terdalam kita. Tetapi, Bahasa pula yang membuka tabir bahwa diri takkan pernah sepenuhnya tertawan dalam jaring-jaring kata. Sebab bahasa adalah ranah publik, ia bukan milik hati yang sunyi, melainkan milik khazanah budaya yang ramai. Bahkan kata sandi “aku” pun kehilangan mahkota kepemilikannya. “Aku” yang kita ucap hari ini dapat berpindah rupa menjadi “kamu” di bibir orang lain, menjadi “dia”, “mereka”, atau “kami”. Maka, Identitas hanyalah kabut yang ringkih, mudah direduksi, dibentuk ulang, dan dibongkar kembali oleh setiap hembusan wacana.

Subjek kita, dalam kerangka simbolik ini, bukanlah benteng otonom yang berdiri sendiri. Ia adalah bayangan, anak kandung dari bahasa. Ia ditempa, diukir, dan dilahirkan kembali tanpa henti dalam pusaran pemakaian kata. Tidak ada Diri yang hakiki, Tidak ada “aku” yang sejati dan tak tergoyahkan. Yang tersisa hanyalah parade posisi yang berganti-ganti, tarian peran yang tak berkesudahan di dalam jejaring simbol yang tak pernah selesai.

Labirin Simbolik  Sebuah Tari Metonimia dan Metafora

Di jantung eksistensi, menurut bisikan Lacan, kebudayaan hanyalah sebuah tarian abadi dari substitusi simbolik. Kita, sebagai pewaris kata, merangkai jaring bahasa, menciptakan penanda (signifier) bagai lentera yang diangkat tinggi, berhasrat menjaring makna (signified) yang sesungguhnya. Namun, sang lentera tak pernah benar-benar menyentuh The Real, jurang realitas yang murni. Selalu ada cela, suatu ketiadaan (lack) yang menganga. Inilah rahasia yang menggerakkan roda kebudayaan, ia tak pernah diam. Ia bergerak melalui metonimi, pergeseran makna yang tak henti, dari satu tepi ke tepi lain dan melalui metafora, penggantian yang berani, sebuah lambang baru untuk mengisi ruang yang ditinggalkan.

Topeng-topeng Yang Berubah

Ambillah metafora agung mengenai perempuan, alam, raga, waktu, atau persatuan sosial. Mereka semua adalah wajah-wajah yang dikenakan sejarah, topeng-topeng yang senantiasa berubah. Perempuan, sang lambang kesuburan yang berlimpah, kemudian dipahat menjadi citra tubuh modern yang ramping, lalu diubah lagi menjadi figur atletis yang berdaya. Alam pernah dilihat sebagai jam raksasa yang mekanis, berdetak tanpa emosi, sebelum kemudian diyakini sebagai jiwa yang hidup, bersemi, dan menyeimbangkan dirinya sendiri. Setiap metafora ini adalah sebentuk ikhtiar jiwa kolektif untuk merapal mantra makna atas kekacauan realitas. Tetapi, dengarlah makna itu selalu sementara, bak buih di lautan waktu. Kebudayaan hanya melahirkan label, kategori, citra semuanya dirancang untuk segera digantikan. Inilah detak jantung dunia postmodern, sebuah palu godam dekonstruksi yang menghancurkan struktur usang, sebuah pencarian metafora baru yang tak pernah usai, dan kesadaran pahit bahwa tak ada satu pun kebenaran tunggal yang bersemayam selamanya.

Gejolak Pencarian Ibu

Di bawah lapisan simbol yang bergemuruh ini, tersembunyi sebuah dorongan primordial pencarian ibu, kerinduan abadi akan kesatuan yang telah lama hilang. Dalam mitos Oedipus, pengejaran ini adalah takdir yang tragis. Namun dalam kanvas sejarah evolusi sosial, ia menjelma dalam ekspansi lingkaran kesatuan yang tak terhindarkan, dari hangatnya keluarga, merayap ke kekuatan suku, membesar menjadi tembok kota, meluas menjadi batas bangsa, hingga kini, ia merentang menuju kesadaran planet yang meliputi semua. Ada sebuah daya tarik antropologis yang mendorong kita menuju kesatuan yang semakin agung, semakin luas. Namun, paradoksnya, kesatuan yang sempurna itu sang Ibu yang utuh tetap tak pernah tuntas dicapai. Dan dalam ketidaklengkapan yang abadi inilah, roda kebudayaan terus berputar, selamanya.

Sang Diri sebagai Aliran, Bukan Pilar

Pada akhirnya, Jacques Lacan membisikkan rahasia terdalam Sang Diri bukanlah patung yang tegak, melainkan sungai yang terus mengalir. Ia bukan entitas yang utuh dan stabil, melainkan sebuah proses yang tak henti berdenyut. Kita menemukan diri kita bukan dalam kemewahan kepenuhan, melainkan dalam bayangan sunyi dari sebuah kekurangan abadi. Hasrat manusia, yang sesungguhnya, bukanlah untuk menggenggam objek yang kasat mata. Ia adalah kerinduan purba, sebuah gema batin yang mencari kembali “Yang Nyata” The Real yang telah lama hilang sebuah pengejaran yang diketahui mustahil untuk usai.

Dalam simfoni dunia simbolik pascamodern ini, pengalaman akan “kekurangan” itu justru menjulang semakin nyata. Kita hidup dalam lanskap ketidakpastian, di mana makna bergeser laksana pasir, budaya didekonstruksi hingga menjadi remah, dan metafora berubah dalam sekejap. Semua ini adalah manifestasi dari pengejaran tak berujung tersebut. Kebudayaan menjadi panggung megah, arena permainan imajinasi, fantasi, dan simbol-simbol yang tak pernah diam. Maka, subjek modern adalah jiwa yang berlayar di tengah badai ketegangan antara citra diri yang ia bayangkan, jaring bahasa yang merajut keberadaannya, dan “Yang Nyata” yang selalu lolos dari genggaman.

Dalam kerangka ini, manusia dipahami sebagai makhluk yang tak pernah berhenti menari di ambang tiga dimensi yang saling berkelindan. Kita adalah pengembara yang selamanya merindukan “Yang Nyata”, layaknya mendengar gema sayup dari ketiadaan purba yang terus memanggil kita untuk pulang ke sebuah asal-muasal yang tak terjangkau. Namun, di tengah kerinduan itu, kita justru hidup dalam yang Imajinatif, sebuah dunia cermin penuh fatamorgana tempat kita sibuk mematut diri dan merangkai identitas dari kepingan ilusi. Pada akhirnya, seluruh gerak kita terjebak dalam yang Simbolik, sebuah struktur besar yang berfungsi ganda, ia adalah penjara yang mengurung spontanitas kita, namun sekaligus menjadi pelabuhan bahasa yang memberikan koordinat bagi batas-batas eksistensi kita di dunia.

Inilah metafisika psikoanalitis yang disajikan Lacan sebagai sebuah upaya agung untuk memahami diri manusia bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai struktur yang dinamis, dibentuk oleh ukiran bahasa, digerakkan oleh badai hasrat, dan selamanya berdiri dalam jarak yang menyakitkan dari apa yang paling ia dambakan. Lacan mengguncang cara kita memahami diri dengan gagasan bahwa subjek manusia bukanlah sesuatu yang stabil, melainkan proses tanpa akhir yang terus mengejar kesatuan primordial. Sebuah keutuhan pra-bahasa yang pernah kita alami sebelum lahir, tetapi kini hanya hadir sebagai bayangan yang tak mungkin dicapai kembali. Melalui fase cermin, dunia imajiner, hingga masuk ke jaringan simbolik bahasa dan budaya, Lacan menunjukkan bahwa identitas kita hanyalah rangkaian refleksi, subsitusi, dan metafora yang terus berubah. Semakin kita berbicara, semakin terlihat bahwa selalu ada yang hilang dari diri kita.

 

jika diri hanyalah bayang-bayang yang dibentuk oleh bahasa, lalu apa sebenarnya yang kita kejar selama hidup?


Salam ta’dzim & Salam hormat

Membaca atas nama Tuhan

Menulis atas nama keabadian

Penulis mohon ampun dari segala maha ampun

Mushola An-Nahdoh Al-Islamiyyah 17, Desember, 2025