“Radical Candor” dan Marwah Institusi: Mengapa Kritik Harus Tajam di Dalam, Namun Solid di Luar?

Dalam sebuah diskusi di kanal Makna Talks, komedian dan kreator konten Raditya Dika mengungkapkan rahasia di balik awetnya tim kreatifnya: ia “memaksa” bawahannya untuk mengkritik idenya sepedas mungkin. “Tugas kamu adalah bilang kalau ide saya tidak lucu,” tegasnya. Radit sedang mempraktikkan Radical Candor—kejujuran ekstrem untuk mencegah kegagalan kolektif.

Namun, di dunia organisasi formal seperti perguruan tinggi atau lembaga nasional, konsep “kejujuran” ini sering kali membentur tembok besar bernama “Citra Institusi”. Muncul dilema klasik: bagaimana jika kritik tajam dari rekan sejawat justru menjatuhkan utusan institusinya sendiri di panggung nasional?

Jebakan “Ewuh Pakewuh” vs “Sabotase Citra”

Budaya organisasi di Indonesia sering terjebak di dua kutub ekstrem. Kutub pertama adalah ewuh pakewuh (sungkan), di mana asas kekeluargaan disalahartikan sebagai “diam melihat kesalahan” demi menjaga harmoni. Kutub kedua adalah “sabotase citra”, di mana kritik dilakukan di waktu dan tempat yang salah, sehingga justru mempermalukan institusi di mata publik.

Dalam kasus delegasi perguruan tinggi yang bertarung di level nasional, fenomena “menyudutkan orang rumah” adalah sebuah bunuh diri reputasi. Ketika seorang utusan dikritik secara terbuka oleh rekan dari institusi yang sama di depan audiens luar, audiens tidak akan menilai utusan itu buruk. Audiens akan menyimpulkan bahwa institusi asal utusan tersebut sedang pecah, tidak solid, dan tidak memiliki sistem kaderisasi yang matang.

“Internal Laundry”: Mencuci Baju Kotor di Ruang Tertutup

Belajar dari manajemen Raditya Dika, kritik tajam adalah “jamu” yang menyehatkan, namun jamu tersebut tidak seharusnya diminum di depan panggung. Dalam teori organisasi, dikenal prinsip Internal Laundry. Kita boleh—bahkan wajib—”mencuci baju kotor” sebersih mungkin, namun pastikan cucian itu tidak terlihat oleh tetangga.

Organisasi yang berasas kekeluargaan harus memiliki aturan main yang tegas: Tajam di dalam, solid di luar. Di ruang tertutup, semua delegasi harus menjadi kritikus paling cerewet bagi utusannya. Di sanalah tempat untuk membedah kekurangan dan memitigasi risiko. Namun, begitu melangkah ke forum nasional, delegasi harus bertransformasi menjadi perisai bagi utusannya. Segala kekurangan harus ditutup dengan diplomasi, dan segala serangan dari luar harus dihadapi bersama.

Dampak Psikologis dan Trauma Regenerasi

Mengapa solidaritas eksternal ini begitu krusial? Karena organisasi hidup bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk regenerasi. Jika seorang utusan merasa “ditusuk dari belakang” oleh rekan organisasinya sendiri di level nasional, hal ini menciptakan trauma kolektif. Generasi berikutnya akan merasa takut untuk berkhidmah atau mewakili institusi. Mereka akan berpikir, “Jika saya maju, musuh terbesar saya bukan dari kampus lain, melainkan dari orang rumah saya sendiri.” Ketakutan ini adalah racun yang akan membunuh minat kaderisasi dalam jangka panjang.

Asas kekeluargaan dalam organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan pengkhianatan terhadap marwah institusi. Kekeluargaan berarti melindungi anggota di depan umum sambil tetap mendidiknya dengan keras di ruang pribadi.

Belajar dari kejujuran Raditya Dika, kita butuh ruang untuk berdarah-darah dalam diskusi internal agar kita tidak perlu menanggung malu di panggung nasional. Pemimpin dan anggota organisasi harus paham bahwa martabat institusi ada pada pundak setiap orang yang ada di dalamnya. Kritik adalah bentuk cinta, dan solidaritas adalah bentuk harga diri. Tanpa keduanya, sebuah organisasi hanyalah sekumpulan orang yang menunggu waktu untuk runtuh bersama.