Skripsi Belum Usai Kecemasan Sudah Dimulai

Mahasiswa semester akhir berada pada fase yang paling paradoks dalam perjalanan akademik. Di satu sisi, gelar sarjana tinggal selangkah lagi untuk diraih. Di sisi lain, fase ini justru dipenuhi kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan yang sering kali tidak pernah dibicarakan secara jujur. Skripsi bukan hanya sekadar tugas akhir akademik, tetapi menjadi simbol beban mental, tekanan sosial, dan pertanyaan besar tentang masa depan yaitu “setelah lulus mau jadi apa?”

Proses skripsian sering kali digambarkan sebagai ujian intelektual, padahal realitanya lebih kompleks. Ia adalah ujian ketahanan mental. Tekanan datang dari berbagai arah seperti tuntutan dosen pembimbing, ekspektasi keluarga yang berharap kelulusan cepat, serta perbandingan dengan teman sebaya yang terlihat “lebih maju” dan teman yang sudah banyak memposting lulus Sempro (Seminar Proposal). Di saat yang sama, mahasiswa harus berhadapan dengan rasa malas, jenuh, overthinking, dan rasa tidak percaya diri. Banyak mahasiswa yang sebenarnya mampu secara akademik, tetapi tumbang secara mental karena skripsi tidak hanya menguras pikiran, melainkan juga emosi.

Kecemasan tersebut semakin besar ketika skripsi hampir selesai. Alih-alih merasa lega, mahasiswa justru mulai dihantui pertanyaan yang lebih menakutkan “setelah wisuda, mau ke mana?” Dunia kerja yang digambarkan sebagai ladang kesempatan ternyata semakin sempit. Persaingan tinggi, lapangan pekerjaan terbatas, dan standar kualifikasi yang kerap tidak masuk akal membuat mahasiswa semester akhir merasa tidak siap menghadapi realitas. Gelar sarjana tidak lagi menjadi jaminan, bahkan sekadar tiket masuk dunia kerja pun sering kali tidak cukup.

Masalah ini semakin kompleks ketika banyak mahasiswa menyadari bahwa jurusan yang mereka ambil tidak sesuai dengan minat dan passion. Keputusan memilih jurusan sering kali didasarkan pada tekanan orang tua, tren, atau sekadar “yang penting kuliah.” Akibatnya, ketika lulus, banyak sarjana yang bekerja di bidang yang sama sekali tidak linear dengan latar belakang pendidikannya. Fenomena ini kerap menimbulkan rasa bersalah, kecewa pada diri sendiri, dan pertanyaan eksistensial “untuk apa aku kuliah bertahun-tahun jika akhirnya bekerja di luar bidangku?”

Namun realitas sosial hari ini sering kali tidak memberi ruang untuk proses refleksi tersebut. Tekanan sosial dan media sosial justru memperparah keadaan. Anak muda disuguhi narasi kesuksesan instan usia 25 sudah kaya raya, punya bisnis, investasi di mana-mana, hidup bebas secara finansial. Media sosial menjadi panggung perbandingan tanpa henti, di mana kegagalan jarang ditampilkan, sementara pencapaian dibingkai seolah datang tanpa proses. Mahasiswa semester akhir yang sedang berjuang dengan skripsi dan kebingungan masa depan akhirnya merasa tertinggal, gagal, dan tidak cukup.

Konsep financial freedom yang sejatinya lahir dari kesadaran perencanaan jangka panjang justru direduksi menjadi mimpi instan. Kerja keras, proses panjang, kegagalan berulang, dan ketidakpastian diremehkan. Kesadaran akan pentingnya proses berubah menjadi kesadaran instan: ingin cepat berhasil tanpa siap menghadapi jatuh bangun. Akibatnya, banyak mahasiswa mengalami tekanan psikologis, merasa harus “menjadi seseorang” secepat mungkin, tanpa benar-benar memahami siapa dirinya dan apa yang ingin diperjuangkan.

Padahal, fase mahasiswa semester akhir seharusnya menjadi ruang belajar paling jujur tentang kehidupan. Bahwa tidak semua orang harus bekerja sesuai jurusan. Bahwa karier bukan garis lurus, melainkan jalan berliku. Bahwa keterlambatan bukan kegagalan, dan kebingungan bukan aib. Dunia pasca kampus memang keras, tetapi bukan berarti manusia harus kehilangan kemanusiaannya sendiri dalam mengejar standar kesuksesan semu.

Menyelesaikan skripsi dan menghadapi ketakutan pasca-lulus sejatinya adalah bagian dari proses pendewasaan. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk memahami bahwa hidup bukan lomba cepat-cepat sukses, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk gagal. Di tengah tekanan sosial dan ilusi media sosial, kesadaran akan proses harus kembali dimaknai secara utuh: bahwa kerja keras bukan slogan, melainkan pengalaman yang ditempa waktu. Dan menjadi manusia seutuhnya jauh lebih penting daripada sekadar terlihat sukses di mata dunia.