Tentang Gapura: Antara Kebenaran Faktual, Kebutuhan Dakwah dan Cocokologi

Salah satu contoh nyata lagi tentang bagaimana KEBENARAN FAKTUAL yang telah terkaburkan—bahkan tergeser oleh oleh “cocokologi”—dapat kita lihat pada pengartian kata GAPURA. Kata yang terlanjur diwariskan pemaknaannya tanpa pernah diuji ulang kebenarannya, seakan apa yang paling sering diucapkan otomatis menjadi yang benar, tanpa pernah diuji lagi nilai kebenarannya.

Dalam wacana umum masyarakat Jawa, khususnya Cirebon, jika ditanya apa arti kata gapura, hampir selalu dijawab—oleh pegiat budaya, sejarawan, agamawan, sampai kalangan pegiat mistik—bahwa ia berasal dari kata Arab Ghafuro, yang merupakan satu dari sifat-sifat Allah yang berarti “Maha Pengampun”. Lalu berkembanglah falsafah populer yang terdengar manis: bahwa siapa pun yang masuk lewat gapura keraton, atau gapura apa pun, seolah tengah memohon ampun kepada Allah.

Pertanyaannya: benarkah begitu? Jawabannya, sayangnya, TIDAK. Itu bukan kebenaran maknanya. Kenapa? Karena kata gapura itu BUKAN berasal dari bahasa Arab Ghafuro. Bunyi yang mirip itu hanyalah jebakan cocokologi, bukan kebenaran etimologinya. Secara linguistik dan historis, keduanya tidak saling bersentuhan.

Kata gapura justru berasal dari bahasa Sanskerta: “GO-PURA” atau “GO-PURAM”, yang artinya GERBANG. Istilah ini sudah lama hidup dalam tradisi Hindu-Buddha di Asia Selatan. Dan jauh sebelum Islam datang, kata tersebut telah digunakan di Nusantara untuk menyebut pintu gerbang monumental yang menjadi batas antara ruang luar dan ruang suci.

Lebih jauh lagi, keberadaan gapura sudah mengakar di Nusantara sejak zaman Hindu-Buddha. Oleh karenanya tidak ada hubungan dengan bahasa Arab. Baru setelah Islam masuk, terjadilah pergeseran makna demi kebutuhan dakwah dan penanaman nilai-nilai Islam, yang tetapi sering kali melahirkan penafsiran baru yang kemudian disangka sebagai makna aslinya. Di sinilah titik simpang antara sejarah, keperluan dakwah dan “keyakinan” yang didasarkan pada cocokologi tanpa tahu duduk masalahnya.

Namun di sinilah persoalannya: ketika makna-makna baru itu dibiarkan mengendap terlalu lama, ia perlahan memperoleh wibawa seolah-olah memang demikianlah asal-usulnya. Orang pun lebih mudah memeluk versi yang terasa religius dan familiar, ketimbang kembali membuka jejak sejarah yang mungkin tidak seindah narasi dakwahnya. Akibatnya, batas antara penyesuaian makna dan kebenaran faktual menjadi kabur, memberi ruang bagi cocokologi untuk berdiri di tengah-tengahnya tanpa banyak perlawanan.

Karena itu, jangan sampai kita terjerembab ke dalam “KEYAKINAN PALSU” hanya karena mengikuti bahasa dakwah tanpa menelisik makna asalnya. Kita perlu membedakan antara ikhtiar dakwah yang sifatnya kreatif-persuasif dengan kebenaran historis yang sifatnya faktual. Tanpa itu, kita akan terus berkutat pada wacana permukaan dan gagal menembus ke inti. Sekali lagi, ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak kasusnya.

Ironisnya, kita sering lebih mudah percaya pada kisah yang terdengar indah daripada fakta yang berdiri apa adanya. Seolah-olah sejarah harus menyesuaikan diri dengan perasaan kita, keyakinan naif hingga palsu kita, bukan kita yang mendisiplinkan diri untuk mencari apa yang benar. Dan anehnya, ketika sebuah cocokologi sudah terasa nyaman di telinga, banyak orang akan membelanya seakan-akan itu ajaran turun-temurun yang tak boleh diganggu-gugat—padahal tak satu pun prasasti atau kamus kuno membenarkannya.

Begitulah, kadang kabut gelap itu justru kita pelihara sendiri, bukan karena ada orang lain menyesatkannya. Padahal, adakalanya manusia harus kembali mencari kebenaran, menelusuri kesejatian makna, bukan sekadar menerima apa yang terdengar selaras. Sebab cocokologi, bila dibiarkan, akan menjadi kabut yang menutupi jalan menuju pengetahuan. Dan kabut seperti itu, kalau tidak dibersihkan, tidak hanya akan menyesatkan pelan-pelan, tetapi seperti lumpur hidup yang dengan pasti akan menelan kita begitu dalam.

Rabu, 10 Desember 2025

Agung Sholihin, M.Ag (1991). Penulis (puisi, esai, naskah film), editor dan penerbit buku POIESIS META. Aktivitas saat ini sebagai dosen pengampu rumpun matakuliah Filsafat dan Studi Agama pada salah satu kampus di Babakan, Ciwaringin, Cirebon.Dengan nama pena Shiny.ane elpoesya sudah menerbitkan setidaknya 14 buku tunggal yang di antaranya buku Sains Puisi (2019), tertralogi Bidadari Masehi (2020-2022), Anggur Kekasih: Setengah Tanka (2021), Biografi Khidir: Tokoh Misterius Sepanjang Masa (2022), Proses Kreatif & 404 Eror Pikir Pemuisi Pemula (2021), Pohon Imaji & Risalah Filsafat Puisi (2025), PoetCoin: The Future "Currency” of Humanity (2025). Turut menulis juga dalam antologi Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya Negara Serumpun (Perhimpunan Sastrawan Budayawan Serumpun, 2016), Skandal Sastra Undercover (2019), Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional (Gaksa Indonesia & UK, 2021), Abdul Hadi W.M., Kita Begitu Dekat (Paramadina, 2024).Pendiri Sains Puisi Lab. Sebuah grup belajar bersama mengenai segala hal yang berkaitan dengan puisi yang dibuat di kanal Telegram t.me/sainspusi_lab. Membentuk Poiesis Community & Circle. Sebuah grup belajar puisi bersama dan penayangan 20 puisi pilihan setiap akhir pekan di Facebook.FB: Shiny ane elpoesya IG: @shiny.ane email: shiinyane@gmail.com pemikiran keagamaan, peradaban, sains dan seni.