Siapa ‘Kita’ adalah Sebuah Proses

Mari kita luangkan waktu sejenak dan membaca kembali kolom bio di profil media sosial Anda. Ada yang menuliskan profesi, hobi, afiliasi politik, kutipan puitis, hingga sekadar deretan emoji. Dalam sekian karakter yang terbatas itu, kita berusaha merangkum eksistensi diri. Kita ingin dunia tahu siapa kita, atau setidaknya kita ingin dikenal sebagai dan seperti apa dimata pembaca. Tapi, benarkah deretan kata itu adalah kita yang sesungguhnya? Ataukah itu sekadar etalase tentang bagaimana kita ingin dilihat dan diakui oleh dunia?

Kegelisahan tentang “siapa aku” ini bukanlah hal baru, permasalahan ini mencoba dijawab dalam buku Membaca Identitas karya Edy Suhardono dan Audifax. Melalui lensa psikologi, filsafat, dan semiotika, kedua penulis ini mengajak kita menelusuri lorong gelap di balik konsep “diri” yang selama ini kita anggap sudah final dan selesai.

Identitas sering kali diperlakukan seperti kartu tanda penduduk (KTP). Sesuatu yang dicetak, dilaminasi, dan tidak akan berubah kecuali kita pindah alamat atau mengubah status perkawinan. Kita menganggap identitas sebagai bongkahan batu karang yang solid di tengah lautan kehidupan. Pembahasan utama dari buku Membaca Identitas justru mencoba membongkar kenyamanan tersebut. Edy dan Audifax menawarkan perspektif yang berbeda: identitas bukanlah kata benda yang statis, melainkan kata kerja yang terus berproses.

Mari kita jeda sebentar dan resapi hal ini

Jika identitas bukan sesuatu yang terberi—bukan given —lalu dari mana ia datang?
Jawabannya, secara mengejutkan, bukan dari dalam diri kita, melainkan dari luar. Salah satu gagasan paling esensial yang dibahas oleh penulis adalah betapa bergantungnya manusia pada kehadiran “Yang Lain” (dalam kajian filsafat dan psikoanalisis sering disebut sebagai The Other). Kita tidak mungkin bisa mengenali diri kita sendiri tanpa adanya pantulan dari tatapan orang lain.

Bayangkan Anda sendirian di sebuah pulau terpencil, atau sekadar sendirian di kamar yang sunyi tanpa koneksi ke dunia luar. Pada titik nol itu, siapa Anda? Apakah Anda seorang manajer yang tegas? Seorang anak yang berbakti? Seorang sahabat yang humoris? Semua label dan atribut itu perlahan menguap ketika tidak ada subjek lain yang menilainya. “Aku” baru bisa menyadari keberadaannya karena ada “Bukan Aku” yang memantulkan eksistensi tersebut.

Buku ini secara tersirat mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang selalu cemas dan merasa “kurang”. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu wujud utuh diri kita, kita meminjam cermin dari masyarakat, budaya, bahasa, dan tatapan orang-orang di sekitar kita untuk mendefinisikan diri.

“Identitas adalah sebuah konstruksi yang tidak pernah selesai,” demikianlah kira-kira napas utama dari buku ini. Ia ditulis, dihapus, dan ditulis ulang seiring dengan siapa kita berinteraksi dan di ruang mana kita berada.

Di sinilah kita sering terjebak dalam rasa bersalah yang tidak perlu. Pernahkah Anda merasa menjadi orang yang sepenuhnya berbeda saat sedang rapat dengan atasan, dibandingkan saat nongkrong santai di warung kopi bersama teman lama? Lalu, mungkin diam-diam Anda membatin, “Ah, aku ini munafik. Mana sebenarnya diriku yang asli?”

Edy Suhardono dan Audifax membongkar mitos tentang “diri yang utuh” (unified self). Dalam pandangan mereka, kecemasan mencari satu inti diri yang “asli” adalah pengejaran terhadap ilusi. Fragmentasi identitas—fakta bahwa kita memiliki banyak wajah untuk panggung yang berbeda—bukanlah sebuah kepalsuan atau kemunafikan. Itu adalah keniscayaan dari cara manusia bertahan hidup dan memaknai lingkungannya. Manusia adalah teks yang kompleks, yang maknanya berubah tergantung siapa yang membacanya dan di konteks apa ia dibaca.

Membaca identitas, pada akhirnya, adalah membaca ketidakpastian

Sebagai manusia modern, kita hidup di era di mana segala sesuatu dituntut untuk memiliki label yang jelas. Algoritma internet memaksa kita untuk mengotak-ngotakkan diri agar mudah dikategorisasi sebagai target pasar. Kita dipaksa untuk konsisten. Namun, gagasan dari Membaca Identitas memberikan ruang napas yang sangat lega bagi kita. Buku ini seolah menepuk pundak kita dan berkata: “Tidak apa-apa jika kamu merasa belum menemukan siapa dirimu yang sebenarnya. Karena memang tidak ada satu titik akhir yang harus ditemukan.”

Manusia adalah proses menjadi (becoming), bukan sekadar ada (bein)

Jadi, ketika esok hari seseorang bertanya, “Sebenarnya kamu ini orang yang seperti apa, sih?”, Anda tidak perlu lagi buru-buru membongkar isi kepala untuk mencari satu jawaban yang absolut. Tersenyumlah. Tarik napas sejenak. Sadarilah bahwa Anda adalah cerita yang belum selesai ditulis. Anda adalah teks yang masih terus berproses untuk dibaca.

Identitas bukanlah harga mati. Seburuk atau sebaik apa pun label yang menempel pada kita hari ini, itu bukan vonis akhir. Manusia adalah makhluk yang terus berproses, dan kelenturan ini memberi kita satu hak mutlak: hak untuk berubah. Persis seperti prinsip yang patut kita pegang erat: orang baik punya masa lalu; orang jahat punya masa depan. Naskah tentang diri kita belum selesai. Kita memegang kendali penuh untuk merombak, menggeser, dan merumuskan ulang siapa ‘Aku’ yang akan kita bawa esok hari.