Ayah..
Catatan ini bukan puisi penuh makna, bukan prosa indah yang dibalut kata-kata, melainkan nyanyi sepi dari sebuah jiwa: jiwa yang pernah engkau tujamkan doa, jiwa yang pernah engkau selipkan mantra, jiwa yang pernah engkau telusupkan samudra melalui puasa-puasa.
Ayah..
Aku bukan siapa-siapa, dibanding para santri yang dulu selalu engkau panggil namanya melalui pengeras suara. Aku hanya santri yang diam-diam jatuh cinta, memuja-muja, pada akhlakmu yang selalu saja memesona. Bahkan pada wangi parfummu saja, aku senantiasa terpana.
Ayah..
Sampai aku menjadi manusia dewasa, tak bisa aku abai pada prilaku Muhammad Nabi Mulia, yang kerap engkau sampaikan melalui cerita-cerita. Ketika engkau lelehkan air mata saat mengenangnya, saat itu juga aku mengikutinya. Tangisanmu yang terbata-bata, laksana cahaya yang pantulannya ingin kutelan sampai dada, sampai sukma, tanpa sisa!
Ayah..
Telah kusaksikan darimu bagaimana menjadi seorang manusia, menjadi seorang hamba, yang dalam keadaan apa pun tetap patuh pada Allah Azza wajalla. Ayat-ayat suci tak cuma engkau jadikan sebagai penghias kata-kata, tapi juga menjadi pelita, yang engkau jajakan kemana-mana.
Ayah..
Aku memang bukan santrimu yang istimewa, bukan muridmu yang bisa bikin bangga, tapi jangan engkau tolak mabukku padamu yang meledak-ledak di dada. Aku boleh saja nista, boleh saja tak berguna, tapi aku tak ingin jauh dari seseorang yang bergelar Warosatul Anbiya, yakni ulama, seperti engkau yang kini telah menyatu kembali dengan-Nya.
Ayah..
Ketika aku mendengar kabar bahwa engkau pulang kepada Allah Yang Maha Cinta, duniaku langsung meledak dan gelap gulita. Selain tumpahnya airmata, ada luka yang mengepung secara tiba-tiba. Pergantian detik dan jam seperti jahanam yang datang dan tak mau sirna. Wahai Ayah yang penuh cinta..
Ayah..
Aku adalah santrimu yang tak punya darah ulama, tak punya keberanian berbicara di depan massa, tak punya kecakapan memperindah ayat Sang Maha, dan tak punya kepandaian serta kedalaman tentang agama, tapi aku punya takdzim dan puja, padamu yang telah mengeluarkanku dari fananya dunia.
Ayah..
Nanti di depan Yang Maha Kuasa, peganglah tanganku yang penuh dosa, lalu katakan pada-Nya, “Ini santri saya, pernah ngaji bersama, pernah salat bersama.” Semoga dengan keberkahanmu yang penuh cinta, Allah tak tega menjebloskanku dalam murka-Nya.
Ayah..
Jika nanti engkau bersila di dalam sorga, cukuplah aku diam di dekat pintunya. Biar aku yang menjaga terompahmu yang terbuat dari permata, biar aku yang dari kejauhan melambaikan tangan dan melirikkan mata. Yang penting kepadaku engkau tak lupa, bahwa aku pernah diasuh saat di dunia untuk mengenal Allah yang makrifat-Nya beribu kali kelipatan cahaya.
Ayah..
Catatan ini bukan puisi penuh makna, bukan prosa indah yang dibalut kata-kata, melainkan nyanyi sepi dari sebuah jiwa: jiwa yang pernah engkau tujamkan selawat cinta, jiwa yang pernah engkau selipkan ayat Laqodja, jiwa yang pernah engkau telusupkan samudra Asmaul Husna, jiwa yang pernah engkau hembuskan keagungan doa Basmalah yang masih kubaca, dan jiwa yang pernah engkau ajarkan ketinggian Alif Ba Ta Tsa.
Ayah..
Ayah..
Ayah..
Al-Fatihah..








