Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan. Kalau seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagat raya bahu-membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya. (Paulo Coelho; Sang Alkemis, 1988)
Pada Mulanya Adalah Bacalah; Gambaran Umum buku Sang Alkemis
Mengulas buku “Sang Alkemis” karya kenamaan Paulo Coelho, mengingatkan saya akan kenangan indah saat pertama kali menjajaki bangku perkuliahan dulu. Waktu itu, saya masih semester dua. Meski saya memasuki jurusan yang banyak dikutuk orang karena kelak akan sulit mendapatkan pekerjaan, yaitu Filsafat, saya tidak terlalu mempedulikannya. Karena saya meyakini bahwa setiap orang memiliki takdirnya sendiri untuk diperjuangkan. Entah itu menjadi seorang pekerja atau pun yang lainnya, nampaknya segala usaha yang kita lakukan pun, pada akhirnya harus kita relakan kepada takdir yang berperan. Hal ini persis seperti yang tar-“maktub” dalam novel Sang Alkemis. Sebuah novel yang menceritakan seorang penggembala domba, yang memperjuangkan sebuah mimpi dengan segala macam rintangan yang dihadapinya. Dalam perjalanannya selalu ada pilihan untuk menyerah pada takdir, atau pun tetap memperjuangkannya, biar pun kesia-siaan mungkin yang didapatkan.
Perkenalan saya dengan novel Sang Alkemis, bermula ketika salah satu dosen mewajibkan kepada saya dan teman-teman sekelas yang lainnya, untuk membeli dan membaca buku itu. Sang dosen berujar bahwa di pertemuan berikutnya nanti, dia akan mewajibkan kepada setiap orang untuk mereview novel tersebut. Sontak, kami pun terkejut akan hal itu. Kekagetan kami cukup beralasan, pertama, karena di antara kami belum pernah ada yang berhasil me-namat-kan buku selama satu minggu. Meski pun ada, pastilah buku tersebut adalah cerpen yang isinya tidak sampai beratus-ratus halaman. Kedua, kami mengakui bahwa daya baca yang dimiliki sungguh lemah. Sehingga, menyelesaikan sebuah novel dalam jarak waktu satu minggu, seakan sebuah kemustahilan. Ketiga, saya harus jujur kepada pembaca sekalian, bahwa pada awalnya saya bukanlah seorang yang disebut sebagai kutu buku.
Ketiga alasan yang telah disebutkan, bagi saya seperti sebuah rintangan saat hendak melakukan perjalanan dalam meraih mimpi. Misalnya saja, saya bersama teman-teman yang lainnya melakukan pendakian ke sebuah puncak gunung, namun di perjalanan, kami menemukan sebuah batu yang sangat besar. Saking besarnya, batu tersebut menghalangi perjalanan kami untuk menuju ke puncak. Sedangkan, di sebelah kiri dan kanan adalah jurang. Apa yang bisa dilakukan pada kondisi tersebut? Di antara kita mungkin ada yang memilih untuk pulang kembali. Ada pula yang terpaksa merasa puas bahwa ia seolah-olah telah mencapai puncak. Mungkin juga ada yang menunggu datangnya keajaiban. Tapi, bukankah keajaiban itu akan datang kepada orang yang bekerja keras? Biarlah sang Alkemis yang menjawabnya. Begitu pun dengan kondisi saya pada saat ditugaskan untuk menyelesaikan dan mereview Novel tersebut dalam jangka waktu satu minggu. Selalu tersedia pilihan untuk dijadikan tindakan; entah itu melakukan plagiat, mengerjakan seadanya, atau pun tidak mengerjakan sama sekali.
Novel Sang Alkemis ditulis oleh Paulo Coelho pada tahun 1988. Ia lahir pada tanggal 24 Agustus 1947, dimana saat ini usianya akan menginjak yang ke 76 tahun. Coelho adalah seorang Novelis berkebangsaan Brasil. Dari novel inilah yang membuatnya semakin dikenal sebagai salah satu sastrawan terkemuka di Dunia. Karyanya ini telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa, salah satunya Indonesia.
Sang Alkemis adalah sebuah novel yang berisikan sebuah kisah sederhana. Namun, meski pun demikian, kesedrahanaan yang dikisahkan pada alur ceritanya sarat dengan makna dan kebijaksanaan. Kami pun, yang pada saat dahulu diberi tugas untuk membacanya dan harus selesai dalam waktu satu minggu, akhirnya dapat diselesaikan hanya dalam waktu satu hari saja. Ada rasa keheranan yang menyelimuti perasaan saya pada waktu itu, karena masih tidak percaya novel itu telah saya lahap dalam waktu yang singkat. Membaca Sang Alkamis, serasa sedang mencari cinta. Setiap lembarnya tersaji cerita yang membuat saya selalu penasaran dan selalu ingin terus membaca. Meski pun ini merupakan pengalaman saya, tidak ada salahnya pembaca pun mencobanya.
Seperti yang telah disebutkan di atas, Sang Alkemis adalah sebuah novel yang menceritakan seorang anak berkebangsaan Spanyol yang menjadi penggembala. Ia bernama Santiago. Kisahnya bermula saat ia bermalam di salah satu gereja yang tidak lagi terpakai. Di gereja tersebut terdapat pohon sycamore di bagian sakristi. Tumbuhnya pohon tersebut menjadi penanda bahwa gereja sudah sangat lama tidak digunakan oleh masyarakat setempat. Sehingga, bangunan itu dapat digunakan oleh Santiago untuk bermalam dan menjadi tempat perlindungan bagi domba-dombanya, dari srigala yang mungkin saja akan memburunya saat ia sedang terlelap tidur.
Santiago, meski pun ia adalah seorang penggembala, ia ternyata seseorang yang boleh dibilang sebagai kutu buku. Penyanggah tidurnya ketika ia beristirahat yaitu sebuah buku. Saaat ia terbangun di pagi hari, pikirnya ia akan membeli buku yang lebih tebal lagi. Sebab, buku yang tebal selain nyaman untuk digunakan sebagai bantal, tamatnya pun akan lebih lama.
Pengembaraan Santiago, selain karena keinginannya untuk menjadi seorang penggembala, berawal dari sebuah mimpi yang terjadi secara berulang-ulang di gereja tersebut. Dalam mimpinya ada seorang anak kecil yang bermain dengan dombanya, lalu si anak kecil tersebut memberitahukan dan menunjuk bahwa di sekitar Piramida terdapat harta karun. Ketika Santiago hendak menanyakan di mana lokasinya, ia terbangun. Begitulah mimpi itu terus berulang, dan bangun di saat ia akan menanyakan hal yang sama.
Karena kegundahan akan mimpi yang dialaminya, mendorong ia untuk bertanya kepada salah seorang perempuan peramal dari Gispi. Pada masa dahulu, orang-orang Gipsi terkenal akan keakuratan ramalannya. Namun di sisi yang lain, terkenal juga bahwa peramal-peramal Gipsi adalah seorang penipu.
Pada dasarnya Santiago sendiri tidak begitu mempercayai sebuah ramalan. Apalagi ia harus meminta sebuah ramalan kepada orang yang pandai menipu. Namun, pikirnya saat itu, apa salahnya mencoba menanyakan tentang mimpi yang dialaminya. Minimal kegundahan yang menyelimtinya dapat berkurang. Singkat cerita, perempuan Gipsi itu meminta sepersepuluh bagian, bila kelak Santiago menemukan harta karun yang petunjuknya didapatkan dari mimpi. Ia merasa lega, karena perempuan tua peramal asal Gipsi tersebut tidak meminta bayaran, atau meminta sepersepuluh domba peliharaannya. Lagi pula, toh belum tentu ia akan menemukan sebuah harta karun yang diramalkannya itu.
Sebagai seorang penggembala yang telah berkelana ke sana ke mari mengelilingi Spanyol, ia sempat terpikat pada salah seorang perempuan di Tarifa. Perempuan itu adalah anak salah seorang saudagar langganannya yang selalu membeli wool dari domba-dombanya. Keinginan untuk menetap di Tarifa dan menghabiskan waktu sampai tua, sempat terlintas di pikirannya. Namun, ia kembali teringat saat masa kecilnya dahulu. Santiago kecil, sempat disekolahkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang Pastor. Namun ia sendiri menolaknya. Keinginannya untuk menjadi penggembala sangatlah besar. Karena menurutnya, dengan menggembala, ia dapat mengelilingi dunia dan menungjungi tempat-tempat yang belum pernah ia ketahui. Sontak, keinginannya untuk menetap pun kembali ia kubur. Selain itu, belum tentu juga perempuan yang ia senangi, mau menerimanya.
Ketika pengembaraan Santiago di Tarifa, ia menukarkan buku lamanya dengan buku yang lebih tebal. Ia duduk sejenak di sebuah kursi yang terdapat di alun-alun, sembari membaca buku yang baru saja ia dapatkan. Saat sedang asik membaca, datanglah seorang lelaki tua bernama Melkisedek yang menghampirinya. Lelaki tua itu meminta sebuah anggur yang baru saja dibeli oleh Santiago. Kehadiran Melkisedek membuat perasaannya tidak nyaman. Saat ia meminta minuman itu, Santiago langsung menyodorkannya tanpa memperlihatkan wajahnya. Berharap, lelaki tua itu akan segera pergi meninggalkannya. Namun, meskipun ia telah bersikap demikian, lelaki tua itu masih saja belum beranjak pergi meninggalkannya.
Sesekali Melkisedek membuka obrolan, akan tetapi Santiago hanya menanggapi sekedarnya saja. Santiago belum menunjukan tanda-tanda ketertarikannya untuk diajak bicara. Barulah setelah lelaki tua itu mengomentari buku barunya Santiago sebagai buku yang menarik namun menjengkelkan, Santiago mulai merasa penasaran. Nampaknya, lelaki tua tersebut telah membaca buku tebal yang baru dibelinya. Dari situlah kemudian Santiago mulai berkenalan. Dan tanpa disangka, lelaki tua itu ternyata seorang raja dari Salem. Santiago sempat menanyakan soal apa yang menjadi alasan Melkisedek, mau mengobrol dengannya yang hanya seorang penggembala. Dari percakapan itu, terdapat kata-kata mutiara yang diucapkan oleh Melkisedek, yang patut kita renungkan bersama, berikut; “Karena beberapa alasan. Tapi anggap saja yang paling penting karena kau telah berhasil menemukan takdirmu.” (hlm. 29). Kemudian ia melanjutkan; “ Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang ketika masih muda, tahu takdir mereka. Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka mewujudkan takdir itu.” (hlm. 30).
Sejenak Santiago mencoba merenungi perkataan yang diucapkan oleh lelaki tua itu. Meski pun pada saat itu dia tidak terlalu memahaminya, namun ia bertekad akan selalu mengingat perkataan lelaki tua yang telah memberikan nasihat kepadanya. Dari nasihat yang diberikannya itu, ia jadi berpikir bahwa yang membuat hidup itu tidak datar adalah karena mimpi. Apa jadinya jika kita hidup tanpa mimpi. Mungkin yang kita lakukan hanya sekedar makan, minum, lalu tidur. Hidup seperti demikian tak ubahnya seperti domba-domba yang ia gembalakan. Santiago belajar memahami perkataan sang raja, melalui domba-domba yang selama ini diurusnya.
Walau pun yang diinginkan oleh Santiago hanyalah berkelana dan menikahi seorang putri sudagar kain, lelaki tua itu tetap menasihati agar mimpinya untuk menemui harta karun di piramida diwujudkan. Santiago sangat terkejut ketika lelaki tua itu membicarakan soal mimpinya tentang harta karun. Sebab, sebelumnya ia tidak pernah menceritakan kepada siapa pun mengenai mimpi yang dialaminya, terkecuali kepada peramal Gipsi. Ia sempat menaruh rasa curiga, akan adanya kemungkinan konspirasi antara lelaki tua itu dengan perempuan Gipsi. Dari mana lelaki tua itu tahu tentang mimpi Santiago? Lelaki tua itu hanya menjawab, bahwa tanda atau bahasa dunialah yang menuntunnya untuk tahu mimpi si anak lelaki penggembala itu. Melkisedek mengungkapkan bahwa; “Jiwa Dunia dihidupi oleh kebahagiaan orang-orang. Juga oleh ketidak bahagiaan, rasa iri, dan cemburu. Satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya. Semuanya satu adanya. Dan saat engkau menginginkan sesuatu, sluruh jagat raya bersatu padu membantumu untuk meraihnya.” (hlm. 30-31).
Saat itu Santiago dan Melkisedek semakin akrab membicarakan tentang mimpi. Di saat yang sama, untuk meyakinkan Santiago agar bisa memperjuangkan mimpinya, lelaki tua itu menunjuk seorang lelaki penjual roti yang ada di sekitar alun-alun. Lelaki tua itu mengungkapkan bahwa, dulunya penjual roti itu juga pernah punya mimpi yang besar untuk diwujudkan. Namun, sebelum berkelana untuk memperjuangkan mimpinya berkeliling di Benua Afrika, ia akan berusaha mengumpulkan modal terlebih dahulu dengan berjualan roti. Melkisedek berujar “Dia tidak menyadari, orang bisa melaksanakan impiannya kapan saja.” (hlm. 31). Hingga tukang roti itu menjadi tua renta, mimpinya pun tidak pernah diwujudkannya.
Di sela-sela perbincangan, Santiago mengalihkan kembali obrolannya dari masalah tukang roti ke harta karun. Melkisedek mengungkapkan, “kalau kau ingin belajar tentang hartamu, kau harus memberikan sepersepuluh dari domba-dombamu” (hlm.33-34). Karena Santiago masih merasa sayang dengan domba-dombanya, ia mencoba untuk menawarkan sepersepuluh dari harta karun yang akan ditemukannya. Ia berharap lelaki tua itu akan menyetujuinya, seperti yang dipinta oleh perempuan Gipsi yang telah membaca ramalannya. Jawaban dari sang raja Salem ini, menurut saya patut menjadi renungan bagi kita semua. Ia menjawab Santiago dengan ungkapan “Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya” (hlm.34).
Nasihat yang dilontarkan oleh Melkisedek sangat menyentuh hati Santiago. Singkat cerita, Santiago kemudian menerima tawaran Melkisedek, dan memberikan domba-dombanya. Ia kemudian menanyakan di mana keberadaan harta karun tersebut. Ketika lelaki tua itu menjawab Mesir, ia pun terkejut kembali, karena jawabannya sama dengan perempuan Gipsi. Santiago belum pernah menginjakkan kakinya di Mesir. Meski pun jarak antara Spanyol dan Benua Afrika, tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu selama dua jam saja untuk berlayar menuju ke sana. Menjelang keberangkatan, Santiago dihadiahi dua batu hitam oleh Melkisedek sebagai petunjuk jika kelak dia merasa bimbang. Batu itu bernama Urim dan Tumim.
Dalam perjalanan menuju Mesir, Santiago ditipu oleh salah seorang pedagang Unta dan kehabisan uang untuk melanjutkan perjalanan. Kesalahan pertama yang ia lakukan adalah terlalu mudah percaya terhadap orang baru. Pelajaran itulah yang pertama ia dapatkan ketika mengembara di Benua Afrika. Tak ayal, dengan kondisi demikian memaksa Santiago untuk bekerja di salah satu toko kristal agar dapat perbekalan, dan melakukan perjalan. Ia bekerja di toko tersebut hampir satu tahun. Kehadirannya di toko memberikan perubahan besar. Sampai-sampai si pemilik toko dapat merekrut dua pegawai tambahan untuk bisa melayani pembeli. Santiago pun berhasil mengumpulkan perbekalan yang sangat banyak.
Santiago sempat berpikir, mungkin yang dimaksud harta karun dalam mimpinya itu adalah kehidupannya saat itu. Yaitu, sebuah kehidupan yang penuh dengan harta dan kemajuan usaha yang begitu pesat. Uang yang ditabungkannya itu, rencananya akan dipakai dia untuk membeli beberapa ekor domba, dan menjadi saudagar di kampungnya. Meski pemilik toko merasa berat dan sedih melepas Santiago, pada akhirnya ia pun menghormati keputusan akan pilihan takdirnya. Menjelang pergi, ia mengambil jaket yang telah lama tidak dipakai dan digantungkan begitu saja dalam waktu yang cukup lama. Ia teringat kembali tujuan pengembaraan dan mimpinya, saat mendapati kedua batu yang diberikan Raja Salem terjatuh dari kantung jaketnya. Urim dan Tumim, telah menguatkan kembali tekadnya untuk pergi menuju Mesir. Ia tidak ingin seperti kisah seorang tukang roti yang sempat diceritakan oleh lelaki tua yang menasihatinya.
Ketika Santiago mendapati kedua batu hitam itu, ia selalu ingat kepada raja salem yang telah banyak memberikan nasihat. Seperti halnya yang telah diungkapkan sang raja Salem, bahwa “Kalau seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagat raya bahu-membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya.” Setelah teringat kembali nasihat Lelaki tua itu, entah kebetulan atau alam telah membantunya, tiba-tiba ia berjumpa dengan rombongan karavan yang akan pergi menuju Padang Pasir. Tidak, saya meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang dinamakan dengan kebetulan. Kebetulan adalah sebuah kejadian yang rangkaiannya, proses sebabnya tidak kita ketahui. Sebuah novel filsafat Islam “Tapak Sabda”lah yang mewartakan tentang definisi itu –kebetulan.
Dalam rombongan karavan, Santiago bertemu dengan lelaki asal Inggris yang hendak pergi menuju Oasis Al-Fayoum. Menurutnya, konon ada salah seorang yang bisa mengubah sebuah logam apa pun menjadi emas, yaitu Alkemis. Orang Inggris tersebut rupanya juga seorang terpelajar yang sedang fokus mempelajari ilmu kimia. Alkemis adalah orang-orang yang sudah ahli dalam bidang itu. Namun, dalam novel ini Paulo Coelho memberikan pemaknaan yang lebih luas lagi, dengan mendefinisikan sebagai orang yang mengerti bahasa dunia. Sang Alkemis merupakan sebuah simbol akan orang yang telah mencapai tahap kebijaksanaan.
Setibanya di Oasis, Santiago dan lelaki Inggris teman perjalanannya mencoba-coba untuk mencari informasi tentang keberadaan sang Alkemis kepada orang-orang di sana. Sampai akhirnya ia dipertemukan dengan seorang perempuan yang bernama Fatimah. Hatinya terpincut. Keinginan untuk menetap di satu tempat dan berkeluarga dengan Perempuan, dialaminya kembali. Santiago pun sempat beranggapan bahwa mungkin saja mimpinya untuk mendapatkan harta karun itu adalah mendapatkan Fatimah. Fatimah pun memiliki perasaan yang sama terhadap Santiago. Santiago, banyak bercerita kepada Fatimah tentang pengalamannya berpetualang, dan juga mimpinya tentang harta karun. Setelah tahu apa yang dicari oleh Santiago, Fatimah menyuruhnya untuk tetap melakukan perjalan. Ia berjanji kepada Santiago akan tetap setia menunggunya. Ia berkata kepada Santiago “Aku wanita gurun, dan aku bangga akan hal itu. Aku ingin suamiku bebas mengembara seperti angin yang berhembus di bukit-bukit pasir. Dan kalau terpaksa, aku akan menerima bahwa dia telah menjadi bagian dari awan-awan, bintang-bintang, serta air di Padang Pasir.” (hlm. 127).
Cinta Fatimahlah yang merelakan Santiago untuk mengembara kembali. Sebab cinta sejati tidak akan pernah menghalangi siapa pun untuk meraih mimpinya. Cinta sejati adalah kebijaksanaan yang mengajarkan kepada kita untuk ikhlas. Ibnu Hazm el Andalusi pernah mengungkapkan bawa cinta tidak memiliki sebab mencinta. Sebab jika cinta memiliki alasan, niscaya ia akan sirna seiring sirnanya yang dijadikan alasan. Misalnya, saya mencintai sorang perempuan karena cantik, bagaimana kalau kemudian perempuan itu menjadi tua? Apakah itu cinta? Sekali lagi, cinta mengajarkan kerelaan atau ke-ikhlasan. Jika pembaca masih penasaran untuk mengetahui tentang cinta, silahkan anda mengembara buku Di Bawah Naungan Cinta karya Ibnu Hazm el Andalusi.
Kita lanjutkan kembali soal cerita Sang Alkemis. Dengan mendapatkan dukungan dari Fatimah, ia pun akhirnya melanjutkan perjalanan kembali menuju Piramida. Ketika mulai melangkahkan kaki, tidak jauh dari Oasis, ia melihat seekor burung elang yang menukik memangsa burung yang lain. Santiago mengamati kejadian itu. Kemudian ia mendapatkan pesan bahasa dunia, bahwa kejadian itu merupakan pertanda akan adanya penyerangan terhadap warga yang tinggal di Oasis. Peperangan di tempat gurun, rupanya hal yang biasa terjadi. Namun, meski demikan Oasis seharusnya tempat yang netral dan tidak boleh ada peperangan di wilayah tersebut. Adatlah yang menjadi bahasa dunia untuk menetapkan aturan demikian.
Santiago akhirnya kembali lagi ke Oasis untuk memberitahu penduduk setempat akan adanya penyerangan. Para pemangku adat sempat tidak mempercayai Santiago karena ia bukanlah orang dari suku yang hidup di Padang Pasir. Namun, ada salah seorang pemangku adat yang teringat akan kisah Nabi Yusuf as, yang melalui tafsir mimpinya bisa menyelamatkan Mesir dari kemarau panjang waktu itu. Seperti yang dikisahkan, bahwa Yusuf pun, bukan berasal dari Mesir. Akhirnya hasil perundingan para kepala suku yang ada di Oasis mencoba untuk percaya terhadap ramalan Santiago. Mungkin saja bila ramalan Santiago terjadi, mereka akan menyaksikan kembali keagungan Allah, seperti halnya kisah Yusuf as.
Dari jauh, ternyata Sang Alkemis memperhatikan bagaimana Santiago memahami pertanda melalui bahasa dunia. Ia kemudian tertarik kepada Santiago. Yang diramalkan Santiago pun kemudian terjadi. Para kepala suku Oasis Al-Fayoum pun berterimakasih kepadanya. Ia kemudian ditawari untuk menjadi penasihat di sana. Harta dan tahta telah ditawarkan kepadanya. Santiago sempat bimbang kembali, hingga akhirnya cinta sejati Fatimahlah yang menjadi kekuatan untuk menolak apa-apa yang ditawarkan kepada Santiago. Sang Alkemis telah meminta kepada Santiago untuk menemuinya di gurun sebelah selatan Oasis. Ia berjanji kepadanya akan mengantar Santiago menuju tempat tujuan perjalanannya.
Santiago bersama Sang Alkemis melanjutkan perjalanan menuju Piramida. Dalam perjalanan, Santiago berkeinginan untuk menjadi Sang Alkemis dan belajar alkimia, agar dirinya juga bisa belajar untuk merubah logam apa pun menjadi emas. Namun, Sang Alkemis memberikan penjelasan bahwa menjadi Sang Alkemis bukan hanya persoalan bisa merubah logam menjadi emas. Lebih dari itu, Sang alkimia adalah sebuah ilmu tentang cara menembus Jiwa Dunia dan menemukan harta yang disediakan bagi kita.
Santiago pun menemukan Piramida yang dicarinya. Rasa lelahnya terbalas dengan harta karun yang telah ia temukan di perjalanan. Ia kemudian menangis dan bersyukur kepada Tuhan karena telah dipertemukan dengan Raja Salem, seorang pedagang gelas kristal, lelaki Inggris, Sang Alkemis, dan Fatimah perempuan pujaan hatinya. Melalui pertemuannya dengan mereka semua, Tuhan ternyata telah menuntun Santiago untuk memiliki keyakinan agar percaya pada takdirnya sendiri. Ia percaya, bahwa setiap orang memiliki takdirnya sendiri untuk diperjuangkan.
Tepat di tanah yang tertetesi air matanya, ia kemudian menggali pasir untuk mengambil harta karun. Ketika sedang menggali, ia didatangi sekelompok pemuda gurun yang mengira bahwa ia telah menyembunyikan emas di balik tanah yang digalinya. Kedua pemuda itu memerintahkan kepada Santiago hingga akhirnya tidak menemukan apa-apa. Kedua pemuda Arab itu merasa kesal dan memukuli Santiago hingga hampir tak sadarkan diri.
Setelah Santiago tidak berdaya, pemuda yang memukulinya hendak pergi. Namun, salah satu dari pemuda itu sebelum pergi berkata; “Kau tidak akan mati. Kau akan hidup, dan kau akan belajar untuk tidak sebodoh ini lagi. Dua tahun yang lalu, persis di tempat ini, aku juga mendapatkan mimpi berulang. Dalam gereja terbengkalai tempat para penggembala dan domba-domba tidur. Dalam mimpiku itu ada sebatang pohon sycamore yang tumbuh di antara puing-puing, sakristi. Aku diberitahu, kalau aku menggali akar-akar pohon sycamore itu, aku akan menemukan harta karun. Akan tetapi, aku bukan orang tolol. Aku tidak mau menyebrangi bentangan Padang Pasir hanya karena mengalami mimpi berulang-ulang.” (208-209). Setelah mengatakan demikian mereka pun pergi meninggalkannya. Santiago pun bangkit dengan keadaan kaki gemetar, dan sesekali ia pandangi Piramida yang ada di hadapannya. Seakan Piramida itu sedang menertawainya. Ia pun membalas tertawa. Bukan karena gila Santiago demikian, namun karena suka cita bahwa dia sekarang telah mengetahui di mana harta karunnya berada. “Dimana hatimu berada, di situlah hartamu berada” (hlm 204), begitulah nasihat Sang Alkemis yang dia ingat.
Pada Akhirnya Adalah Belajarlah; Menjadi Sang Alkemis Milenial
Beberapa bulan ke belakang, telinga saya sempat dibisingkan dengan istilah milenial. Dimana-mana orang yang saya temui selalu berujar bahwa kita adalah milenialis atau generasi milenial. Katanya, kita merupakan generasi maju dibanding dengan generasi gold, atau yang sering di-plesetkan dengan “kids zaman old”. Kegundahan saya mendengarkan istilah-istilah tersebut, mendorong saya untuk mencari-cari bahan bacaan yang mumpuni agar saya bisa mengetahuinya. Ternyata setelah saya temukan, pada dasarnya kajian mengenai pembabakan generasi bukanlah hal yang baru. Dengan demikian saya pun merasa sangat malu, karena baru menyadari bahwa saya ternyata seorang milenialis juga.
Sebagai seseorang yang merasa diri telah menjadi Sang Alkemis, rasa malu yang dirasakan, tidak saya anggap sebagai batu sandungan yang menghentikan pengembaraan saya dalam menyelami sesuatu yang baru, meski pun terlambat. Pepatah orang tua pernah mengatakan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Nampaknya, kebanggaan generasi milenial yang merasa lebih unggul ini, seketika runtuh. Bagaikan rumah megah yang roboh hanya dengan satu ketukan palu berkarat. Bagaimana pun, kita harus mengakui bahwa yang sering kita sebut kidds zaman old masih sebagai emas yang sering kita lupakan huruf “G”-nya dengan sebutan kuno.
Bagi orang-orang yang konsen pada kajian manajemen sumber daya manusia, mengenai pembabakan generasi bukanlah hal yang baru. Biasanya, pakar manajemen menyebutnya dengan istilah generasi “X, Y, Z” dan seterusnya. Jurnal yang ditulis oleh Yanuar Surya Putra (2016) sangat membantu saya untuk lebih memahami teori tentang perbedaan generasi. Dengan sangat baik, ia telah merangkum teorinya sebagai berikut:
Tabel pengelompokkan generasi
| Sumber | Label | ||||
| Tapscott (1998) | – | Baby Boom Generation (1946-1964) | Generation X (1965-1975) | Digital Generation (1975-2000)
| – |
| Howe & Strauss (2002) | Silen Generation (1945-1943) | Boom Generation (1943-1960) | 13th Generation (1961-1981) | Milenial Generation (1982-2000) | – |
| Zemke (2000) | Veterans (1922-1943) | Baby Boomers (1943-1960) | Gen-Xers (1960-1980) | Nexters (1980-1999) | – |
| Lancaster & Stillman (2002) | Traditionalist (1900-1945) | Baby Boomers (1946-1964) | Generation Xers (1965-1980) | Generation Y (1981-1999) | _ |
| Martin & Tulgan (2002) | Silent Generation (1900-1945) | Baby Boomers (1946-1964) | Generation X (1965-1980) | Milenialis (1978-2000) | – |
| Oblinger (2005) | Matures (<1946) | Baby Boomers (1947-1964) | Generation Xers (1965-1980) | Gen-Y/Net Generation (1981-1995) | Post Milenialis (1995-present |
Sumber; Yanuar Surya Putra (Among Makarti Vol.9 No.18, Desember 2016)
Agar teman-teman pembaca masih tetap fokus, saya tidak akan mengulas secara satu persatu apa itu yang dimaksud dengan tiap generasi. Pada umumnya setiap generasi memiliki penanda yang khas atau karakteristik masing-masing. Misalnya tentang generasi “Baby Boomers”. Generasi ini juga memiliki penyebutan yang lain, yaitu generasi bunga (flower generations). Generasi tersebut mengalami langsung masa perang dunia kedua. Di saat negara-negara dunia termotivasi oleh perang, munculah orang-orang yang mengkampanyekan tentang “cinta dan perdamaian” (orang-orang yang nyeleneh pada zamannya). Dari generasi pemusik, muncullah sosok Jhon Lenon yang sangat aktif mengkampanyekan perdamaian dan mengecam invansi Amerika di Vietnam, dan seterusnya. Tertarik untuk mencari tahu generasi berikutnya? Silahkan menjadi Sang Alkemis, yang tidak gentar mencari tahu meski di tengah perjalanan ia kehabisan uang karena ditipu.
Karakteristik generasi milenial, jika kita cermati tabel di atas adalah sebuah periode yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi dan internet. Kedua hal ini memberikan kemudahan kepada kita, untuk dapat meng-akses segala hal yang kita butuhkan secara efektif dan efisien. Namun, lambat laun kita terlena dengan kemudahan yang ada, sehingga tidak jarang kita terkadang lupa bagaimana caranya untuk bekerja keras. Bahkan kita juga tidak jarang selalu lupa, bahwa cobaan itu juga datang dalam bentuk kemudahan dan kenikmatan. Misalnya seperti contoh yang pernah saya sebutkan di awal tulisan ini. Ketika saya menerima tugas untuk menuliskan review sebuah buku, di era milenial mudah saja kita mencarinya di Internet tanpa harus lelah-lelah mengetik.
Kisah Sang Alkemis telah mengajarkan kepada saya tentang arti perjuangan, tanggung jawab, dan cinta. Dalam perjuangan, kesia-siaan adalah hal yang wajar. Namun menjaga agar perjuangan itu tidak sia-sia merupakan sebuah kewajiban dan tanggung jawab kita. Setelah kita belajar dari kisah Sang Alkemis, semoga penggembaraan kita dalam mencari ilmu pengetahuan –atau penggembaraan mimpi apa pun yang kita miliki– di era milenial, tidak tersandung oleh batu hoax yang membuat kita menjadi pendusta. Seperti yang diungkapkan oleh Melkisedek sang Raja Salem “Dusta terbesar itu: bahwa satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib.” (hlm. 26) […]
Daftar Pustaka
Coelho, Paulo. Sang Alkemis (terj; Tanti Lesmana). Jakarta, PT. Gramedia Utama, 2005
El-Andalusi, Ibnu Hazm. Di Bawah Naungan Cinta Sejati. (Jakarta, Republika, 2008)
Noor, Fauz. Tapak Sabda; Sebuah Novel Filsafat Islam. (Jogjakarta, LkiS, 2007)
Putra, Yanuar Surya. Teori Perbedaan Generasi. (Among Makarti Vol.9 No.18, Desember 2016)





