Tulisan ini mengkaji adaptasi masyarakat Sunda terhadap aksara Pegon—aksara turunan Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa lokal—sebagai medium kultural, intelektual, sekaligus sakral yang membentuk praktik keagamaan, pendidikan, serta memori kolektif Islam di Jawa Barat dan dalam jejaring dunia Samudra Hindia. Jika tradisi aksara Jawi di Semenanjung Melayu atau Pegon dalam konteks Jawa telah banyak mencuri perhatian para peneliti, Pegon Sunda justru masih berada di pinggiran kajian akademik, meskipun perannya sangat signifikan sebagai perantara kesakralan melalui bahasa, pedagogi, dan spiritualitas.
Dengan menelaah sumber-sumber filologis, bukti manuskrip, dan temuan etnografis dari lingkungan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam, kajian ini berargumen bahwa Pegon Sunda berfungsi bukan hanya sebagai jembatan linguistik, tetapi juga sebagai teknologi kesakralan yang mentransmisikan ajaran al-Qur’an, hukum Islam (fikih), serta tradisi tasawuf ke dalam bahasa dan pemahaman masyarakat setempat. Aksara Pegon tidak hanya menjaga ortodoksi Islam—melalui tafsir, teologi, dan hukum—tetapi juga menjadi sarana penyampaian puisi mistik, refleksi etis, serta pengetahuan pedagogis yang menautkan pengalaman keislaman masyarakat Sunda dengan ruang peradaban Islam yang lebih luas di kawasan Samudra Hindia.
Analisis ini menempatkan Pegon sebagai lokus kesakralan, mencerminkan sebuah epistemologi penghormatan di mana praktik menulis dipahami sebagai tindakan sakral yang menghubungkan komunitas lokal dengan firman Ilahi. Penggunaannya yang meluas di pesantren memperlihatkan bagaimana Islam dilokalkan tanpa melepaskan keterhubungannya dengan tradisi intelektual kosmopolitan. Dengan menyoroti Pegon sebagai aksara sakral, kajian ini menawarkan cara pandang baru bahwa kesakralan bukanlah dikotomi kaku—antara ortodoks dan populer, antara Arab dan lokal—melainkan proses dinamis yang melibatkan mediasi, ketahanan, dan kesinambungan.
Pada akhirnya, Pegon memperlihatkan bahwa kesakralan termanifestasi secara material bukan hanya dalam ruang-ruang ibadah atau situs-situs ziarah, tetapi juga dalam teks tertulis yang menopang memori dan identitas komunitas Muslim Sunda di Nusantara. Dengan demikian, Pegon Sunda menghadirkan sebuah lensa kritis untuk meninjau kembali kesakralan sebagai sebuah infrastruktur—tekstual, lisan, performatif, dan kini juga digital—yang terus membentuk dan merekatkan dunia-dunia Muslim di dalam maupun di luar kawasan Samudra Hindia.
Pendahuluan
Kajian mengenai Islam di kawasan Samudra Hindia selama ini banyak menekankan jejaring perdagangan, tarekat-tarekat sufi, serta mobilitas para ulama dan intelektual (Azra 2004; Laffan 2011). Meskipun narasi-narasi tersebut memperkaya pemahaman kita tentang dinamika sejarah skala besar, pendekatan ini kerap mengesampingkan struktur mikro—khususnya praktik literasi dan aksara—yang memungkinkan Islam dihayati dan diinternalisasi pada tingkat komunitas lokal. Di Jawa Barat, aksara Pegon Sunda—yakni adaptasi huruf Arab untuk menuliskan bahasa Sunda—merupakan contoh paling jelas dari struktur mikro tersebut. Inovasi literasi yang tampak sederhana ini sesungguhnya membuka kisah yang lebih besar: bagaimana praktik tekstual berbasis aksara Arab disesuaikan dan menjelma menjadi wahana makna sakral, pengetahuan lokal, serta identitas budaya.
Pegon Sunda bukan sekadar adaptasi teknis, melainkan sebuah medium sakral. Melalui aksara inilah ajaran Islam, puisi-puisi mistik, dan praktik ritual diwariskan lintas generasi Muslim Sunda. Pegon menjadi perantara antara al-Qur’an sebagai teks sakral arketipal dengan pengalaman keagamaan yang hidup dalam keseharian komunitas lokal. Namun, terlepas dari signifikansinya, Pegon Sunda kerap terpinggirkan dalam wacana akademik maupun publik, tertutupi oleh pamor saudara-saudaranya seperti Jawi di Semenanjung Melayu atau Pegon dalam tradisi Jawa. Pengabaian ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai historiografi literasi dalam dunia Islam, sekaligus mengungkap dinamika hegemoni budaya dalam studi Nusantara, di mana tradisi Jawa dan Melayu cenderung mendominasi imajinasi keilmuan.
Posisi Pegon Sunda yang termarginalkan menuntut kita untuk meninjau kembali hubungan antara aksara, identitas, dan kesakralan. Memperlakukan Pegon sekadar sebagai sistem tulisan pembantu berarti meremehkan peran epistemiknya dalam Islam Sunda. Banyak santri pesantren pertama kali bertemu dan berinteraksi dengan perpaduan antara bahasa Arab dan bahasa Sunda melalui Pegon, sehingga terbentuk ruang linguistik hibrida di mana wahyu Ilahi dan bahasa lokal dapat berdampingan. Dengan demikian, Pegon tidak hanya menjadi wahana transmisi gagasan, tetapi juga membentuk cara membaca, menghafal, dan menafsirkan teks—praktik-praktik yang sangat menentukan dalam pembentukan memori kolektif dan sensibilitas keagamaan. Kesakralan, dalam pengertian ini, tidak semata tertanam dalam doktrin, tetapi juga tergores pada bentuk huruf serta ritme pedagogis dalam pembacaannya.
Makalah ini menempatkan Pegon Sunda pada perpotongan antara tradisi filologi lokal dengan jejaring dunia Samudra Hindia. Pertanyaan utama yang diajukan adalah: bagaimana Pegon Sunda mencerminkan proses negosiasi kesakralan dalam pengalaman keislaman masyarakat Sunda? Bagaimana aksara ini berkontribusi dalam menautkan Jawa Barat dengan kosmopolis Islam yang lebih luas? Dan apa yang dapat kita pelajari dari kajian Pegon mengenai hakikat kesakralan itu sendiri dalam masyarakat Muslim? Pertanyaan-pertanyaan ini bersifat historis sekaligus metodologis, karena mengharuskan kita memandang literasi, aksara, dan praktik tekstual sebagai infrastruktur kesakralan—medium melalui mana pengalaman transenden dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, makalah ini dibagi ke dalam enam bagian. Bagian pertama menempatkan Pegon Sunda dalam konteks sejarah dan filologis, menelusuri asal-usulnya beserta keterkaitannya dengan aksara lain di kawasan Nusantara. Bagian kedua membahas perannya dalam pedagogi pesantren dan praktik kesakralan, menyoroti bagaimana literasi terjalin dengan ritual dan kedisiplinan. Bagian ketiga memperbandingkan Pegon Sunda dengan aksara-aksara lain di Samudra Hindia, menampilkan persamaan dan kekhasan yang menempatkan Islam Sunda dalam arus global. Bagian keempat memeriksa manuskrip serta studi kasus konkret untuk menunjukkan bagaimana Pegon mewujudkan kesakralan dalam konteks nyata. Bagian kelima mengulas tantangan kontemporer dan kemungkinan masa depan digital bagi Pegon, mempertanyakan apakah aksara ini dapat bertahan dan beradaptasi di abad ke-21. Kesimpulan merangkum temuan-temuan tersebut dalam kerangka yang lebih luas mengenai kesakralan sebagai teks sekaligus infrastruktur, seraya menegaskan bahwa tradisi aksara seperti Pegon bukanlah sekadar peninggalan masa lalu, melainkan arsip hidup dari imajinasi keagamaan.
Konteks Historis dan Filologis
Istilah Pegon berasal dari kata Jawa pego, yang berarti “menyimpang” atau “tidak lazim,” merujuk pada adaptasi huruf Arab untuk menuliskan bahasa-bahasa lokal dengan penambahan tanda baca khusus. Dalam konteks Sunda, Pegon berkembang berdampingan dengan Aksara Sunda (aksara Sunda Kuno) yang berasal dari masa pra-Islam, serta alfabet Latin yang kemudian diperkenalkan pada masa kolonial. Memasuki abad ke-17, seiring meluasnya Islam di Jawa Barat melalui jejaring ulama dan pesantren, Pegon mengakar kuat sebagai aksara utama untuk penulisan teks keagamaan dalam bahasa daerah.
Kajian filologis menunjukkan bahwa Pegon Sunda memiliki berbagai fungsi: mulai dari penafsiran al-Qur’an, penerjemahan komentar-komentar Arab, penulisan puisi mistik lokal (suluk), hingga penyusunan teks pedagogis bagi para santri (Behrend 1998; Mulyati 2010). Berbeda dengan proses Latinisasi yang berkembang di bawah struktur kekuasaan kolonial, Pegon merupakan bentuk negosiasi kultural yang diindigenisasi dengan huruf Arab sebagai sumber kesakralannya. Tindakan menulis dalam Pegon mencerminkan partisipasi dalam komunitas tekstual Islam global, sembari mempertahankan keintiman linguistik dengan identitas Sunda. Ahmad Ginanjar Sya’ban, salah satu filolog terkemuka Nusantara, menegaskan bahwa aksara-aksara seperti Pegon tidak boleh dipandang sebagai adaptasi pinggiran, melainkan sebagai saksi utama kreativitas intelektual umat Islam di kepulauan ini. Dalam pandangannya, Pegon adalah arsip Islam yang dihayati, tempat otoritas sakral dilokalkan sekaligus tetap terhubung dengan ummah transregional (Ginanjar 2018). Pemikiran ini mendasari argumen dalam makalah ini: Pegon Sunda bukanlah skrip turunan, tetapi medium konstitutif bagi kesakralan itu sendiri.
Lebih jauh, sejarah perkembangan Pegon dalam masyarakat Sunda mengungkap proses negosiasi budaya yang berlapis. Prasasti-prasasti Sunda Kuno dari era pra-Islam menonjolkan otoritas politik, klaim teritorial, serta kosmologi religius berakar Hindu-Buddha. Kedatangan Islam tidak menghapus memori tekstual tersebut, melainkan membingkainya ulang secara gradual—memberi ruang bagi Pegon untuk muncul sebagai aksara yang sekaligus memelihara kesinambungan dan memungkinkan transformasi. Dengan demikian, Pegon menjelma sebagai palimpsest kultural, membawa gema tradisi lama sekaligus menjadi wadah epistemologi Islam yang baru.
Ketahanan Pegon sepanjang berabad-abad juga menunjukkan bahwa ia berfungsi lebih dari sekadar medium utilitarian. Jejak filologisnya dalam manuskrip-menunjukkan investasi sadar untuk merawat pengetahuan lisan dalam bentuk tertulis, terutama dalam bidang fikih, tasawuf, dan tafsir. Melalui Pegon, Muslim Sunda dapat mengklaim dua hal sekaligus: ortodoksi—dengan merujuk pada tradisi tekstual Arab—dan autentisitas—dengan mengungkapkan pengetahuan keagamaan dalam bahasa ibu mereka. Fungsi ganda ini memperlihatkan keseimbangan halus antara universalitas dan lokalitas, menegaskan bahwa literasi dalam dunia Islam tidak pernah bersifat teknis belaka, melainkan selalu teologis, kultural, dan sangat sakral.
Kajian filologis mengenai Pegon juga memperlihatkan perannya sebagai jembatan antara tradisi lisan dan tulisan. Banyak kiai dan guru Sunda menyampaikan teks-teks Arab secara lisan sambil memberikan anotasi atau terjemahan Pegon untuk para santri. Interaksi lisan–tulisan ini menunjukkan bahwa Pegon bukan sistem tulisan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pedagogi dialogis, di mana suara, ingatan, dan inskripsi bekerja bersama. Praktik tersebut juga memperlihatkan bagaimana Pegon memungkinkan negosiasi lapis-lapis makna—antara Qur’an yang dilagukan, komentar Arab yang diajarkan, dan glosa Sunda yang menjelaskan.
Aspek penting lainnya adalah otoritas simbolik Pegon dalam kehidupan komunal. Menulis formula keagamaan atau bait-bait mistik dalam Pegon bukan hanya tindakan merekam makna, tetapi juga menanamkan kesakralan dalam praktik menulis itu sendiri. Huruf-huruf Pegon yang ditemukan dalam manuskrip, jimat, atau inskripsi domestik mengandung bobot performatif—dipahami bukan semata sebagai tanda, tetapi sebagai wadah barakah (berkah ilahi). Otoritas simbolik inilah yang memastikan keberlanjutan Pegon, baik dalam beasiswa formal maupun spiritualitas sehari-hari, menjadikannya aksara pengajaran sakral sekaligus devosi intim.
Akhirnya, sejarah filologis Pegon tidak dapat dilepaskan dari pola pertemuan aksara di dunia Samudra Hindia. Adaptasi huruf Arab ke dalam bahasa Persia, Urdu, Turki Utsmani, dan Swahili memperlihatkan paralel dengan pengalaman Pegon Sunda, meski masing-masing memiliki kekhasan lokal. Dengan menempatkan Pegon dalam kerangka komparatif ini, kita dapat lebih memahami sifatnya yang kosmopolitan sekaligus membumi: sebuah aksara yang memadukan kreativitas Sunda dengan arus literasi Islam transregional. Pelokalan semacam ini mencegah kita melihat Pegon sebagai keanehan marginal, dan justru menegaskannya sebagai simpul penting dalam kisah besar kosmopolis tekstual Islam.
Kesakralan dan Praktik Pesantren
Di lingkungan pesantren, Pegon telah lama berfungsi sebagai aksara mediasi pengetahuan. Teks-teks seperti tafsir, fikih, tasawuf, dan nahwu (tata bahasa Arab) biasanya disertai makna gandul—catatan interlinear dalam Pegon Sunda. Catatan tersebut menerjemahkan frasa-frasa Arab ke dalam bahasa Sunda sekaligus memberi penjelasan interpretatif, sehingga teks-teks suci dapat dipahami oleh para santri yang belum memiliki kemahiran tinggi dalam bahasa Arab (Bruinessen 1990; Steenbrink 1984). Kesakralan Pegon tidak hanya berasal dari keterkaitannya dengan teks keagamaan, tetapi juga dari pedagogi performatif yang mengiringinya. Para kiai menyampaikan makna secara lisan, sementara para santri menyalinnya dalam Pegon. Dengan demikian, aksara ini menjadi jembatan antara tradisi oral dan otoritas tertulis. Interaksi ini mencerminkan apa yang digambarkan Talal Asad sebagai “tradisi diskursif” dalam Islam, yakni dinamika di mana teks dan praktik terus saling membentuk (Asad 1986).
Lebih dari itu, Pegon juga berperan penting dalam praktik devosi. Puisi-puisi Sunda seperti Asmarandana atau Dangding dituliskan kembali dalam Pegon untuk mengekspresikan kerinduan mistik kepada Tuhan. Beragam manuskrip mencatat doa-doa, jimat, dan petunjuk ritual dalam Pegon, menegaskan fungsinya sebagai medium barakah (berkah). Dengan demikian, Pegon tidak hanya mensakralkan pengetahuan kanonik, tetapi juga religiositas populer.
Di luar fungsi tekstualnya, Pegon turut membentuk disiplin belajar yang menjadi etos pesantren. Tindakan hati-hati dalam menuliskan makna gandul di pinggiran teks merupakan latihan spiritual yang melatih ketelitian, kesabaran, dan sikap hormat terhadap ilmu. Banyak alumni pesantren mengisahkan bahwa aktivitas fisik menulis Pegon tidak dapat dipisahkan dari proses internalisasi adab dalam mencari ilmu. Dengan cara ini, Pegon bukan sekadar aksara netral, melainkan teknologi pedagogis yang mendisiplinkan tubuh dan pikiran dalam suasana kesakralan pesantren.
Dimensi mnemonik Pegon juga sangat signifikan. Para santri kerap menggunakannya sebagai alat bantu untuk menghafal ayat-ayat al-Qur’an, hadis, dan teks-teks klasik. Catatan interlinear memungkinkan mereka melafalkan makna sembari mempertahankan penunjuk visual dalam buku catatan atau manuskrip. Dinamika oral–tulisan ini menunjukkan bagaimana Pegon menjembatani dunia kognitif, memelihara kesucian teks Arab sekaligus memudahkan penjelasan Sunda. Praktik semacam ini mengingatkan kita bahwa literasi dalam Islam tidak pernah terlepas dari tubuh: ia hadir dalam suara, gerak, dan ritme recitation kolektif.
Peredaran manuskrip Pegon di jaringan pesantren juga memperlihatkan perannya dalam membentuk komunitas tafsir. Para santri yang berpindah dari satu guru ke guru lain membawa catatan-catatan mereka, sehingga glosa Pegon menjadi arsip yang memuat banyak suara interpretatif. Seiring waktu, catatan pinggir tersebut memperoleh otoritas tersendiri dan turut membentuk cara baca generasi berikutnya. Dalam pengertian ini, Pegon bukan medium statis, melainkan wahana pembelajaran dialogis yang membuat kesakralan terus diperbarui melalui praktik menulis, membaca, dan melagukan secara kolektif.
Selain itu, Pegon turut memfasilitasi demokratisasi pengetahuan. Sementara penguasaan bahasa Arab tetap menjadi pencapaian ilmiah yang prestisius, Pegon memungkinkan lingkaran pembelajar yang lebih luas—santri pemula, warga kampung, bahkan kalangan artisan—untuk berinteraksi dengan teks-teks suci Islam. Aksesibilitas ini membuat ajaran Qur’ani, fikih, dan tradisi mistik dapat masuk ke kehidupan sehari-hari melampaui kalangan ulama. Penyebaran Pegon dengan demikian mengaburkan batas antara pedagogi formal dan religiositas komunal, menjadikan kesakralan sebagai fondasi budaya bersama, bukan monopoli kelas ilmiah.
Akhirnya, keberadaan Pegon dalam pesantren tidak dapat dipisahkan dari praktik budaya yang lebih luas mengenai memori dan performativitas. Pembacaan publik, pengajian kelompok, dan bahkan pertunjukan tradisional kadang menggunakan teks Pegon sebagai rujukan. Teks-teks Pegon bukan hanya berfungsi sebagai catatan pedagogis, tetapi juga pemantik bagi tradisi lisan kolektif. Dengan demikian, Pegon dapat dipahami sebagai aksara yang hidup—hadir bukan hanya di atas halaman, tetapi juga di dalam praktik tubuh komunitas yang terus memperbarui maknanya melalui performa, devosi, dan transmisi.

(Sundanese Pegon, buku “Parukunan Gede Sunda”, halaman 113, berisi fikih Islam.)
Sumber: koleksi pribadi
Pegon Sunda dalam Kosmopolis Samudra Hindia
Untuk memahami Pegon Sunda, kita perlu menempatkannya dalam konteks jaringan Islam di kawasan Samudra Hindia. Dari Gujarat hingga Aceh, dari Hadramaut hingga Makassar, adaptasi aksara Arab tumbuh subur: Jawi di dunia Melayu, Ajami di Afrika Barat, Arwi di komunitas Muslim berbahasa Tamil, serta Pegon di Jawa dan Sunda. Setiap adaptasi tersebut menghadirkan proses lokalisasi atas aksara suci Arab sekaligus mengintegrasikan bahasa-bahasa lokal ke dalam lingkup ummah Islam yang transregional.
Namun, Pegon Sunda memiliki karakteristik tersendiri. Berbeda dengan Jawi, yang berkembang menjadi aksara resmi bagi administrasi dan kesusastraan, Pegon lebih banyak hidup dalam ranah keagamaan dan pedagogis. Keterbatasan penggunaan ini menunjukkan bahwa literasi sakral di Tatar Sunda lebih terikat dengan jaringan pesantren ketimbang institusi negara. Dengan demikian, kesakralan berfungsi sebagai infrastruktur: aksara Pegon tidak sekadar merekam kata-kata, tetapi juga membentuk cara umat Muslim Sunda berjumpa dengan wahyu, hukum, dan ritual. Pola pelokalan ini sejalan dengan gagasan Michael Laffan (2011) mengenai “masa lalu sufistik” Islam Indonesia, di mana hubungan kosmopolitan melebur dalam bentuk-bentuk keagamaan yang bersifat lokal. Pegon memperlihatkan bagaimana skala global dan lokal kesakralan dipertemukan: Al-Qur’an dalam bahasa Arab tetap menjadi teks suci tertinggi, tetapi Pegon memungkinkan maknanya beredar dalam realitas keseharian orang Sunda.
Menempatkan Pegon dalam arus besar Samudra Hindia juga memperjelas bahwa Islam Sunda tidak pernah terisolasi, melainkan terus terhubung dengan arus wacana yang lebih luas. Kehadiran para ulama Hadrami di Jawa, lalu lintas para saudagar Gujarat di pesisir Sunda, dan hubungan intelektual dengan jaringan Melayu menciptakan kondisi di mana Pegon berfungsi sebagai jangkar lokal dalam samudra intelektual Islam. Tindakan menulis dalam Pegon sendiri menautkan kaum Muslim Sunda dengan rantai tradisi literasi yang membentang dari Afrika hingga Timur Tengah dan Asia Selatan, tanpa menanggalkan kekhasan ekspresi kesundaan.
Ciri lain yang menonjol dari posisi Pegon dalam dunia Samudra Hindia ialah sifat adaptasinya yang selektif. Sementara Jawi melahirkan kanon sastra yang luas—mencakup dekret kerajaan, kronik, hingga puisi istana—penggunaan Pegon yang terbatas justru menandai pilihan kultural: mengutamakan yang sakral daripada yang sekuler, yang pedagogis daripada yang administratif. Hal ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan cerminan orientasi masyarakat Muslim Sunda dalam mempertahankan ortodoksi keagamaan dan tradisi mistik. Pegon, dengan demikian, menjadi aksara pensakralan, bukan aksara birokratis, sehingga membentuk ekonomi tekstual yang khas di dalam kosmopolis Samudra Hindia.
Akhirnya, Pegon Sunda memperlihatkan bagaimana masyarakat Muslim lokal menginternalisasi sekaligus menafsir ulang estetika Islam global. Bentuk grafisnya—huruf Arab yang dimodifikasi dengan tanda diakritik untuk mewakili fonetik Sunda—memperlihatkan ketegangan kreatif antara universalitas dan kekhususan. Ia menunjukkan kesetiaan pada kesakralan visual aksara Arab, namun sekaligus menegaskan kebutuhan akan keterbacaan dalam bahasa vernacular. Hibriditas semacam ini menjadikan Pegon bukan semata artefak linguistik, tetapi pernyataan budaya dan teologis: bahwa Islam Sunda dapat menjadi bagian penuh dari ummah Samudra Hindia, sembari tetap berakar kuat dalam dunia lokalnya sendiri.

(Pegon Sunda, kitab “Parukunan Gede Sunda”, halaman 36, berisi materi fikih.)
Sumber: koleksi pribadi
Manuskrip dan Studi Kasus
Sejumlah manuskrip memperlihatkan dengan jelas fungsi-fungsi sakral Pegon Sunda. Salah satu manuskrip Tafsir Jalalayn yang tersimpan di berbagai koleksi pesantren menampilkan glosa antarbaris dalam Pegon Sunda, memperlihatkan bagaimana para santri mengakses penafsiran Al-Qur’an (Behrend 1998). Manuskrip lain berupa kitab fikih beraksara Pegon menunjukkan bagaimana hukum-hukum mazhab Syafi‘i diadaptasi ke dalam kategori-kategori sosial Sunda. Sementara itu, puisi-puisi mistik seperti Suluk Seh juga dituliskan dalam Pegon, sehingga metafisika tasawuf terjalin dalam estetika kesusastraan Sunda. Bahkan doa-doa perlindungan serta rajah turut hadir dalam sejumlah manuskrip Pegon, menegaskan betapa cairnya batas antara yang sakral, yang mistik, dan yang sehari-hari. Keseluruhan contoh tersebut menunjukkan bahwa Pegon bukan hanya milik para sarjana elite, tetapi juga menjadi medium pensakralan kehidupan sehari-hari.
Contoh-contoh ini menegaskan bahwa Pegon merupakan suatu ekologi tekstual yang merangkul ortodoksi maupun heterodoksi, teologi tingkat tinggi sekaligus ritual populer. Seperti diingatkan Ginanjar Sya’ban, kajian atas manuskrip semacam ini menyingkap “jiwa Islam Nusantara” sebagai dialog berkelanjutan antara lokalitas dan kosmopolitanisme. Salah satu hal yang menonjol dalam tradisi manuskrip Pegon adalah lapisan pedagogisnya. Satu manuskrip dapat memuat glosa tafsir antarbaris, puisi devosional, serta formula magis dalam satu jilid yang sama. Hal ini tidak hanya mencerminkan peran multifungsi Pegon, tetapi juga menampilkan karakter religiusitas Sunda yang holistik. Peralihan pembaca dari komentar Qur’ani ke puisi mistik atau ke doa perlindungan merupakan bagian dari perjumpaan yang berkesinambungan dengan yang sakral, di mana teologi, spiritualitas, dan perlindungan sehari-hari tidak terpisahkan.
Selain itu, dimensi visual manuskrip Pegon turut memperkuat kesakralannya. Aksara Pegon kerap dihiasi tanda-tanda dekoratif, rubrikasi, dan kadang iluminasi di tepi halaman yang menandai bobot sakral teks tersebut. Dalam beberapa manuskrip, ayat-ayat tertentu ditulis lebih besar atau disorot dengan tinta merah untuk menegaskan kekuatan protektif atau otoritasnya. Interaksi antara teks dan ornamen ini sejalan dengan tradisi manuskrip Islam di kawasan Samudra Hindia, namun gaya khas Pegon Sunda sekaligus menegaskan estetika devosional masyarakat Sunda.
Lebih jauh, peredaran manuskrip Pegon di lingkungan pesantren maupun rumah tangga mengungkap perannya sebagai simpul jaringan memori dan transmisi. Manuskrip bukanlah objek statis; ia terus disalin, diberi anotasi, dan ditafsir ulang lintas generasi. Setiap catatan di pinggir halaman—baik glosa penjelas, doa pribadi, maupun catatan kepemilikan—mengabadikan pengalaman pembacanya. Dengan cara ini, manuskrip Pegon Sunda tampil sebagai palimpsest memori sakral, memuat bukan hanya pengetahuan Islam formal, tetapi juga kehidupan religius yang intim dari para penggunanya.
Tidak kalah penting ialah kehidupan sosial manuskrip-manuskrip Pegon di luar tembok pesantren. Banyak keluarga di Jawa Barat menyimpan manuskrip Pegon sebagai pusaka, diyakini membawa berkah dan perlindungan. Kesaksian lisan menyebutkan bahwa sekalipun anggota keluarga tidak lagi fasih membacanya, keberadaan fisik manuskrip itu sendiri dianggap mengandung baraka. Ini menunjukkan bahwa manuskrip Pegon berada di antara dimensi tekstual dan material kesakralan—dipandang suci bukan hanya karena isi semantiknya, tetapi juga karena kehadirannya sebagai artefak sakral.
Adaptabilitas manuskrip Pegon juga mencerminkan ketahanannya menghadapi perubahan rejim literasi. Ketika aksara Latin dan media cetak modern mulai mendominasi, teks-teks Pegon tulisan tangan tetap beredar di kalangan pesantren, menjaga keberlanjutan tradisi interpretatif yang tidak mudah dipindahkan ke dalam format cetak. Ketahanan ini memperlihatkan bahwa Pegon bukan semata alat tulis-menulis, melainkan medium kontinuitas budaya yang mengikat komunitas pada masa lalu sembari membuka ruang bagi lahirnya lapisan-lapisan tafsir baru dari generasi ke generasi.
Relevansi Kontemporer dan Tantangan
Memasuki abad ke-20, alfabet Latin secara bertahap menggantikan Pegon di bawah rezim kolonial maupun pascakolonial. Namun demikian, Pegon tidak lenyap. Ia tetap bertahan di lingkungan pesantren, dalam manuskrip ritual, dan kini semakin hadir di ruang digital melalui para penggiat yang mengembangkan huruf Pegon dalam bentuk font maupun alat transliterasi daring. Kebangkitan Pegon pada masa kini mencerminkan perdebatan yang lebih luas mengenai warisan budaya, identitas, dan kesakralan.
Seniman dan aktivis budaya di Jawa Barat turut memanfaatkan Pegon sebagai simbol identitas Islam sekaligus bentuk resistensi terhadap homogenisasi global. Melalui penghadiran Pegon dalam karya seni rupa, instalasi, hingga media digital, mereka kembali menyakralkan aksara ini sebagai warisan dan inspirasi, memperlihatkan bagaimana Pegon bergerak melampaui ranah pedagogis keagamaan menuju ekspresi budaya yang lebih luas.
Pada saat yang sama, kebangkitan Pegon merupakan bagian dari gelombang kebudayaan Islam Nusantara yang tengah menguat. Para akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal melakukan digitalisasi naskah Pegon untuk melindungi warisan Islam dari kepunahan. Beberapa pesantren telah mengembangkan perpustakaan digital yang memuat manuskrip Pegon, sementara universitas kembali membuka mata kuliah filologi yang secara kritis mengkaji sumber-sumber Pegon. Berbagai inisiatif ini menegaskan bahwa Pegon adalah sumber hidup bagi identitas dan keilmuan Muslim, bukan sekadar artefak masa lalu.
Penggunaan kreatif Pegon dalam dunia seni juga memperlihatkan perannya sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas. Kaligrafer Sunda bereksperimen dengan bentuk Pegon dalam lukisan dan desain grafis, sementara para musisi memasukkan lirik beraksara Pegon ke dalam karya mereka. Praktik-praktik ini menempatkan Pegon sebagai simbol estetika yang lentur dan kaya makna, yang merundingkan kenangan, iman, dan kebanggaan budaya—menjadikannya lambang kesinambungan sekaligus inovasi.
Meski demikian, sejumlah risiko tetap mengintai. Jika Pegon dirayakan hanya sebagai motif dekoratif tanpa pemahaman mendalam terhadap akar filologis dan teologisnya, dimensi kesakralannya berpotensi tereduksi. Karena itu, revitalisasi Pegon harus menggabungkan apresiasi kreatif dengan beasiswa yang ketat, pengajaran antargenerasi, dan keterlibatan komunitas yang berkelanjutan. Pendekatan seperti inilah yang dapat memastikan Pegon tetap menjadi warisan pengetahuan suci sekaligus sumber inspirasi budaya kontemporer.
Penutup
Tulisan ini berargumen bahwa Pegon Sunda mewujudkan kesakralan sekaligus sebagai teks dan sebagai infrastruktur kebudayaan. Secara historis, Pegon melokalkan huruf Arab ke dalam bahasa Sunda, sekaligus menanamkan komunitas lokal ke dalam kosmopolis Islam Samudra Hindia. Secara pedagogis, Pegon berfungsi sebagai mediator antara teks-teks kanonik berbahasa Arab dan pemahaman lokal. Secara devosional, Pegon menyakralkan puisi, ritus, dan praktik keseharian umat.
Dengan meninjau kembali Pegon Sunda, kita tidak hanya membuka arsip terabaikan dari khazanah Islam Nusantara, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai hakikat kesakralan itu sendiri—bukan sebagai esensi yang statis, melainkan sebagai proses dinamis yang dimediasi melalui teks, lisan, dan performativitas. Dalam konteks Samudra Hindia, Pegon memperlihatkan bagaimana yang sakral senantiasa bersifat universal sekaligus lokal, global sekaligus intim: menghubungkan umat beriman lintas lautan, namun pada saat yang sama mengakar kuat dalam lanskap budaya masing-masing.
Lebih jauh, ketahanan Pegon membuktikan bahwa literasi sakral tidak pernah sekadar perangkat teknis; ia terjalin erat dengan kuasa, memori, dan imajinasi. Aksara ini menopang tradisi intelektual pesantren, membentuk ritme praktik kerohanian, serta menjadi medium bagi kerinduan mistikal dan kesalehan sehari-hari. Mempelajari Pegon, dengan demikian, berarti mempelajari bagaimana umat Muslim di Tatar Sunda hidup, membayangkan, dan merundingkan iman mereka sepanjang berabad-abad.
Dalam konteks masa kini, Pegon juga menawarkan sumber ketangguhan budaya sekaligus kreativitas. Kebangkitannya di platform digital, dalam praktik seni, serta dalam berbagai inisiatif pelestarian menunjukkan bahwa Pegon terus menginspirasi komunitas dalam merumuskan posisi mereka di tengah modernitas dan globalisasi. Alih-alih menjadi peninggalan masa lampau, Pegon tampil sebagai aksara yang hidup, yang merundingkan hubungan antara tradisi dan inovasi, antara otoritas pengetahuan sakral dan kebebasan ekspresi budaya.
Penelitian mendatang perlu memperdalam studi naskah, memperluas perspektif komparatif, dan terlibat secara kritis dalam gerakan revitalisasi kontemporer. Upaya-upaya tersebut akan memastikan bahwa Pegon Sunda tidak terpinggirkan dalam sejarah, tetapi diakui sebagai saksi hidup atas imajinasi kesakralan komunitas Muslim. Dengan demikian, para peneliti, penggiat budaya, dan pendidik keagamaan dapat turut menjaga Pegon sebagai warisan Islam Nusantara sekaligus kesaksian yang terus berkembang atas daya tahan teks-teks suci dalam membentuk identitas kolektif.
Daftar Pustaka
Asad, Talal. 1986. Gagasan tentang Antropologi Islam. Washington, D.C.: Center for Contemporary Arab Studies.
Azra, Azyumardi. 2004. Asal-usul Gerakan Pembaruan Islam di Asia Tenggara: Jaringan Ulama Melayu-Indonesia dan Timur Tengah pada Abad ke-17 dan 18. Honolulu: University of Hawai‘i Press.
Behrend, T. E. 1998. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Bruinessen, Martin van. 1990. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.
Corbett, Rosemary R., dan Katherine Pratt Ewing (ed.). 2020. Sufi Modern dan Negara: Politik Islam di Asia Selatan dan Sekitarnya. New York: Columbia University Press.
Drewes, G. W. J. 1955. “Cahaya Baru tentang Kedatangan Islam ke Indonesia?” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 111 (4): 433–459.
Ginanjar Sya’ban, Ahmad. 2018. Filologi Nusantara: Naskah, Teks, dan Konteks. Jakarta: Prenadamedia.
Hurgronje, C. Snouck. 1906. Orang Aceh. Terj. A. W. S. O’Sullivan. Leiden: E. J. Brill.
Johns, A. H. 1993. “Islamisasi di Asia Tenggara: Refleksi dan Pertimbangan Ulang dengan Rujukan Khusus pada Peran Tasawuf.” Southeast Asian Studies 31 (1): 43–61.
Laffan, Michael. 2011. Pembentukan Islam Indonesia: Orientalisme dan Penuturan Masa Lalu Sufistik. Princeton: Princeton University Press.
Mulyati, Sri. 2010. Naskah Pegon dan Peranannya dalam Tradisi Islam di Jawa Barat. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati Press.
Peacock, James L. 1978. Puritan Muslim: Psikologi Gerakan Reformis dalam Islam Asia Tenggara. Berkeley: University of California Press.
Ricklefs, M. C. 2007. Polarisasi Masyarakat Jawa: Islam dan Pandangan-pandangan Lain, 1830–1930. Singapura: NUS Press.
Sinha, Vineeta. 2011. Agama dan Komodifikasi: Ruang Sosial yang “Dikomersialisasi”. New York: Routledge.
Steenbrink, Karel A. 1984. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Jakarta: LP3ES.
Woodward, Mark R. 1989. Islam di Jawa: Kesalehan Normatif dan Mistisisme dalam Kesultanan Yogyakarta. Tucson: University of Arizona Press.
Zoetmulder, P. J. 1974. Kalangwan: Tinjauan atas Kesusastraan Jawa Kuno. Den Haag: Martinus Nijhoff.








