Sebagai warga Jakarta yang terpapar hiruk-pikuk rutinitas, hidup saya barangkali tak ada bedanya dengan jutaan pejuang nafkah lainnya. Setiap hari adalah pertaruhan untuk bertahan hidup. Namun, rutinitas sering kali menjadi pencuri yang lihai. Ia mencuri energi, menyisakan jenuh, hingga terkadang membuat saya abai pada ritual harian sebagai seorang muslim. Padahal, saya bukan orang asing dalam dunia agama. Jelek-jeleknya dulu pernah mondok dan saya juga jebolan UIN. Sejak kecil, doktrin bahwa meninggalkan shalat adalah dosa besar sudah terpatri kuat. Bahkan, satu dekade silam, saya adalah orang yang aktif di mimbar; mulai dari pengajian kampung, menjadi khatib Jumat, hingga mengisi ceramah di acara besar.
Kini, saya memilih menepi dari panggung-panggung itu. Tentu bukan karena perkara “amplop” yang tak seberapa, melainkan karena beban moral dan pergulatan batin yang kian meruncing. Saya mulai mempertanyakan praktik keberagamaan di sekitar saya-dan mungkin kegalauan ini juga menghantui Anda. Pernahkah Anda merasa bahwa keberagamaan kita hari ini terjebak dalam riuh rendah simbolik? Di media sosial, kita menyaksikan religious flexing atau pamer kesalehan yang masif, namun di saat yang sama, krisis moral, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan sosial tetap langgeng.
Umat Islam secara sosial seolah gagap mewujudkan ajaran luhurnya. Jangankan bicara keadilan yang megah, untuk mengimplementasikan hadis pendek “Annadhofatu minal iman” (kebersihan adalah sebagian dari iman) saja kita sering kali gagal total.
Kenyataan ini memicu pertanyaan krusial: masih relevankah cara kita mengekspresikan agama? Apakah kesalehan ritual jauh lebih mulia dibanding kesalehan sosial? Apakah dosa meninggalkan shalat memang lebih besar daripada membuang sampah sembarangan?
Secara doktrin, keduanya memang dosa. Namun, saya berani berpendapat bahwa dalam konteks dampak, membuang sampah sembarangan bisa jadi lebih fatal. Meninggalkan shalat adalah urusan privat antara hamba dan Sang Khaliq yang Maha Pemaaf; sekali bertobat, selesai perkara. Namun, merusak lingkungan adalah dosa “multi-dimensi”. Dampaknya luas, korbannya banyak, dan urusannya tidak hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan alam dan sesama manusia yang haknya kita rampas.
Kritik pedas Karl Marx bahwa “agama adalah candu” seolah menemukan pembenarannya di sini. Agama sering kali hanya menjadi mekanisme pelarian—bagaikan opium yang meredakan nyeri sementara tanpa menyembuhkan penyakitnya. Ia meninabobokan orang-orang yang tertindas dengan janji surga agar mereka menerima eksploitasi di dunia. Senada dengan itu, George Orwell dalam Animal Farm melalui sosok Moses si gagak, terus menggulirkan dongeng tentang “Gunung Permen Gula”. Itu adalah simbol bagaimana narasi agama digunakan untuk menjaga kepatuhan meski di tengah penderitaan yang nyata.
Di internal Islam, kegelisahan ini sebenarnya sudah lama diantisipasi. Al-Ghazali dalam Ihya telah lama mengkritik formalisme ritual yang “mati” karena kehilangan esensi batinnya. Sementara itu, pemikir seperti Abdolkarim Soroush membedakan dengan tegas antara “agama” yang suci dan “pengetahuan agama” yang merupakan produk pemikiran manusia yang relatif dan bisa salah.
Secara teoretis, jalan keluar agar agama tetap relevan adalah kembali pada esensi Maqasid al-Shariah. Beragama bukan sekadar menjaga simbol (hifz ad-din), tetapi juga melindungi jiwa (hifz an-nafs), memerdekakan akal (hifz al-‘aql), menjamin masa depan generasi (hifz an-nasl), dan menciptakan keadilan ekonomi (hifz al-mal).
Menyembah Allah atau Menyembah Ego?
Namun, mari kita jujur pada diri sendiri. Sering kali penjelasan teoretis dan pembelaan apologetis itu hanya menjadi tameng. Kita perlu bertanya jauh ke dalam lubuk hati yang paling sunyi: benarkah selama ini kita sedang menyembah Tuhan? Ataukah jangan-jangan, dalam setiap sujud dan simbol yang kita pamerkan, kita sebenarnya hanya sedang memanjakan “ego” kita sendiri?
Ego yang ingin dianggap saleh, ego yang ingin merasa lebih selamat dari orang lain, atau ego yang menggunakan Tuhan untuk melegitimasi kenyamanan kita di atas penderitaan sesama. Jika agama tak lagi membuat kita peka terhadap tumpukan sampah di pinggir jalan atau ketidakadilan di depan mata, maka mungkin agama telah berubah menjadi hobi, bukan lagi pengabdian. Pada akhirnya, keberagamaan yang sejati seharusnya meruntuhkan ego, bukan malah memberinya mahkota.




