POKOK PEMIKIRAN 3:
MARXISME, HEGEMONI GRAMSCI-ALTHUSSER, KESADARAN KELAS GEORGE LUKACS
Peta Pemikiran Karl Marx Materialisme Dialektika
Inti materialisme dialektis adalah pemutlakan materi yang bergerak dalam waktu dan ruang atau pengukuhan terhadap becoming (menjadi) yang ada tanpa suatu sebab. Selanjutnya, ontologi materialisme dialektis hanya bisa membangun sejenis realisme tetapi bukan monisme materialistis. Juga, realitas yang berkontradiksi dengan dirinya sendiri, dan inilah yang dituntut oleh dialektika materialistis, sama sekali tidak ada (non-eksistent). Filsafat Alam>proses menggelarnya fikiran-fikiran. Dari fikiran timbul proses alam, sejarah manusia, organisme dan kelembagaan masyarakat. Bagi Hegel materi kurang riil dari pada jiwa, karena jiwa/ pikiran adalah esensi dari alam. Marx membalikkan filsafat Hegel: MATERI merupakan pokok, bukan JIWA atau IDE. Materi diperlihatkan oleh organisasi ekonomi masyarakat serta cara produksi>menentukan kelembagaan politik dan sosial. Marx & Engels menolak idealisme Hegel tetapi menerima metodologi filsafatnya.
Materialisme Historis
Perkembangan sejarah adalah history (sejarah). History ditentukan oleh materi. Oleh karena itulah filsafat Marx disebut sebagai historis materialisme. Bagi Marx faktor ekonomi adalah faktor yang menentukan dalam perkembangan sejarah manusia. sejarah digambarkan sebagai pertempuran kelas, dimana alat-alat produksi, didistribusi dan pertukaran barang dalam struktur ekonomi dari masyarakat menyebabkan perubahan dalam hubungan kelas, dan ini semua mempengaruhi kebiasaan dalam tradisi politik, sosial, moral dan agama. Pikiran dasar materialisme historis adalah arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan atau dideterminasi oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang materiil.
Hubungan Struktur Sosial: Mode of Production
Suatu bentuk khusus dari cara produksi kapitalisme. Kapitalisme mendasarkan diri pada hubungan produksi yang memisahkan kelas sosial antara mereka yang bekerja dan hanya mendapat upah atas kerjanya itu, dengan mereka yang memiliki modal, alat produksi dan surplus yang dihasilkan. Para pekerjanya tidak memiliki ikatan dengan alat dan teknologi produksi, bahan baku, tempat produksi, termasuk hasil yang diproduksi.
Kritik Ekonomi Politik; Proses Produksi Kapital
[1] Proses Produksi Kapital, adalah suatu pembahasan yang mendalam tentang ekonomi politik yang ditulis oleh Karl Marx. Marx melakukan suatu analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi; [2]
Marx percaya bahwa para ekonom politik dapat mempelajari hukum-hukum kapitalisme dalam cara yang “obyektif”, karena perluasan pasar pada kenyataannya telah mengobyektifikasikan sebagian besar hubungan ekonomi: cash nexus membuang semua ilusi keagamaan dan politik sebelumnya (namun kemudian menggantikannya dengan ilusi jenis lain—fetishisme komoditi). Marx juga mengatakan bahwa ia memandang “formasi ekonomi masyarakat sebagai suatu proses sejarah alam”. [3] Analisis Marx dalam Das Kapital, difokuskan terutama pada kontradiksi-kontradiksi struktural, daripada antagonisme kelas, yang mencirikan masyarakat kapitalis–“gerakan kontradiktif” (gegensätzliche Bewegung) yang berasal pada sifat ganda pekerjaan,” bukannya dalam perjuangan antara tenaga buruh dan modal, atau antara kelas pemilik dan kelas pekerja. Lebih jauh, kontradiksi-kontradiksi ini beroperasi (seperti yang digambarkan oleh Marx dengan menggunakan suatu ungkapan yang dipinjam dari Hegel) “di belakang punggung” kaum kapitalis maupun buruh, artinya, sebagai akibat dari aktivitas-aktivitas mereka, namun demikian tidak dapat diminimalkan ke dalam kesadaran mereka baik sebagai individu maupun sebagai kelas.
Formulasi Teoretik Hukum Gerakan Ekonomi
Menurut Marx masyarakat kapitalis akan runtuh dan hukum sejarah sosialis akan menggantikannya. Pokok soal ini menjadi puncak kritiknya terhadap sistem ekonomi “pasar bebas”. Karenanya menjelang keruntuhan dimaksud, Marx merumuskan formulasi teoretisnya dalam tiga hukum gerakan ekonomi:
Pertama: Hukum Akumulasi Modal (The Law of Capitalist Accumulation). Dalam masyarakat kapitalis terdapat dorongan yang memperbesar modal. Perusahaan-perusahaan kecil terus-menerus ditelan oleh perusahaanperusahaan menengah dan perusahaan-perusahaan menengah lambat laun ditelan—dengan cara dibeli atau persaingan yang mematikan—oleh perusahaan besar. Kalau hal ini terjadi maka hanya beberapa perusahaan raksasa yang menguasai seluruh aktivitas ekonomi masyarakat.
Kedua: Hukum Konsentrasi Modal (The Law of the Concentration Capital). Penjabarannya adalah dengan konsentrasi modal, maka kekayaan berada di tangan segelintir manusia, kapitalis kecil gulung tikar dan menjadi buruh kapitalis kuat. Dipihak lain segera terlihat bahwa dibelakang kapitalis besar ini berdiri massa rakyat yang tidak mempunyai harta akibat penghisapan yang berjalan simultan.
Ketiga: Hukum Bertambahnya Kemelaratan (The Law of Increasing Misery). Sesudah teori akumulasi, yakni pemusatan kekayaan di tangan segelintir orang, maka perusahaan raksasa akhirnya terdiri dari mesin-mesin saja, mengakibatkan meningkatnya pengngguran atau kalau kaum buruh tetap ingin memilih bekerja, berarti ia akan mendapatkan upah tidak memadai.
Pemikiran Hegel tentang Dialektika Negara
Proses perubahan dialektis melalui tiga fase: [1] Tesis (afirmasi) Negara Diktatur. Kehidupan masyarakat diatur dengan baik, tetapi warga negara tidak mempunyai kebebasan berekspresi. [2] Antitesis (Negasi) Negara Anarki. Warga negara mempunyai kebebasan tanpa batas, tetapi kehidupan rakyat jadi kacau, menegasikan otoritas negara. [3] Sintesis (Integrasi) Negara Demokrasi Konstitusional. Kebebasan negara dan kehidupan masyarakat dijamin dan dibatasi oleh UU. Dalam negara ini diktatur/ anarkhi dijadikan ‘aufgehoben’ (dicabut, ditiadakan, tidak berlaku lagi).
Konsep Hegemoni Gramsci
Konsep ini diambil secara dialektis melalui dikotomi tradisional yang berkarakteristik pemikiran Italia, yakni dari: Machiavelli (Force); Pareto (Consent); Lenin (Strategy). Dasar epistemologi gramsci tentang hegemoni didasarkan pada kesadaran. Suatu keyakinan baru yang dimasukkan secara terselubung, pembiasaan maupun dengan doktrinasi kedalam atmosfer kesadaran kolektif-massif, yang kemudian memunculkan kesadaran yang relatif baru. Hegemoni merupakan kondisi sosial dalam semua aspek kenyataan sosial yang didominasi atau disokong oleh kelas tertentu, hal yang demikian ini telah terkonstruk dengan sendirinya pada kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Dalam hal ini Gramsci mencoba memperluas pengertian hegemoni sehingga tidak hanya menjelaskan relasi antar kelas-kelas politik (rulling class/ ruled class), akan tetapi relasi-relasi sosial yang lebih luas, seperti relasi gender, ras, agama bahkan gaya hidup.
Antonio Gramsci juga membedakan antara: dominasi (kekerasan) dengan kepemimpinan moral dan intelektual suatu kelompok sosial, bisa, bahkan harus, menjalankan kepemimpinan sebelum merebut kekuasaan pemerintahan (hal ini jelas merupakan salah satu sarat utama untuk memperoleh kekuasaan tersebut). Teori hegemoni Gramsci pada dasarnya merupakan kritik terselubung terhadap reduksionisme dan essensialisme yang melekat pada penganut Marxisme maupun pemikiran non–Marxisme, yakni konsep yang mereduksi dan menganggap esensi terhadap suatu entiti tertentu sebagai satu-satunya kebenaran mutlak. ex; perselisihan tafsiran konsep seputar basic (ekonomi) dan super struktur (ideologi, politik, pendidikan, budaya), dimana tafsiran ortodoks Marxisme percaya bahwa basic ekonomi menentukan superstucture. Akibatnya sosialisme direduksi menjadi gerakan ekonomisme, dan bahkan perjuangan kelas direduksi menjadi hanya kelas ekonomi, sehingga gerakan itu hanya gerakan buruh, dan mengabaikan gerakan lainnya.
Louis Althusser
Teori Althusser tentang Apparatus (Aparatus Negara) menjelaskan bagaimana kelas penguasa (borjuis) mempertahankan dominasinya melalui dua mekanisme: Repressive State Apparatus yang memaksa secara fisik (apparat militer, polisi, tentara). Ideological State Apparatus yang memanipulasi kesadaran (pendidikan, agama, media, keluarga). Represif & Ideologi bekerja membentuk individu menjadi “subjek” yang patuh, menciptakan kesadaran palsu yang menormalisasi eksploitasi & memastikan kelangsungan sistem kapitalis.
Konsep Kesadaran Kelas Georg Lukacs
Sumber pokok perbedaan kelas alat produksi. Perbedaan dimensi kelas subyektif dan obyektif adalah kepentingan kelas. [1] Kesadaran Kelas Subyektif. Kesadaran kelas merupakan satu kesadaran subyektif, akan kepentingan kelas obyektif yang mereka miliki bersama dengan orang lain dalam sistem produksi. [2] Kepentingan Kelas Obyektif. Kelas seseorang secara objektif ditentukan oleh kedudukannya dalam hubungan sosial yang terdapat dalam produksi dan kesempatan untuk memperoleh berbagai alat produksi. Kelas utama dlm masyarakat kapitalis: [1] Buruh Upahan, [2] Kapitalis, 3] Pemilik Tanah. Proses gerak maju sistem 2 kelas: [1] Borjuis, [2] Proletar.
Reifikasi (Marxisme)
Dalam filsafat Marxis, Reifikasi (Verdinglichung), “membuat menjadi suatu benda”) adalah proses di mana hubungan sosial manusia dipandang sebagai atribut inheren dari orang-orang yang terlibat di dalamnya, atau atribut dari beberapa produk dari hubungan tersebut, seperti komoditas yang diperdagangkan. Sebagai praktik ekonomi, Reifikasi mengubah objek menjadi subjek dan subjek menjadi objek, sehingga subjek (manusia) menjadi pasif (identitasnya telah ditentukan), sedangkan objek (komoditas) menjadi faktor aktif yang menentukan sifat suatu hubungan sosial. Secara analogis, istilah hipostatisasi menggambarkan efek Reifikasi yang dihasilkan dari asumsi keberadaan setiap objek yang dapat dinamai dan asumsi keberadaan objek yang dikonsepkan secara abstrak, yang merupakan kekeliruan Reifikasi interpretasi ontologis dan epistemologis. Reifikasi secara konseptual berhubungan dengan, tetapi berbeda dengan teori alienasi Marx dan teori fetisisme komoditas; alienasi adalah kondisi umum keterasingan manusia; Reifikasi adalah bentuk spesifik dari alienasi; dan fetisisme komoditas adalah bentuk spesifik dari reifikasi.
Reifikasi (Georg Lukács)
Ketidakpastian dan ketidakjelasan tidak lain adalah gejala dari krisis masyarakat borjuis. Sebagai produk kapitalisme, kelas proletariat harus tunduk pada cara mengada yang ditetapkan oleh pembuatnya. Cara mengada ini adalah ketidakmanusiawian (inhumanity) dan reifikasi. Kelas proletariat harus melakukan kritik atas reifikasi. Kedasaran yang teReifikasi akan terjebak tanpa daya dalam dua kutub yang berlwanan: empirisisme kadar & utopianisme abstrak. Konsep Reifikasi muncul melalui karya Lukács dalam esainya “Reifikasi dan Kesadaran Proletariat”, yang dimuat dalam bukunya Sejarah dan Kesadaran Kelas (1923). Lukács memperlakukan Reifikasi sebagai masalah masyarakat kapitalis yang terkait dengan prevalensi bentuk komoditas, melalui pembacaan mendalam terhadap “Fetisisme Komoditas dan Rahasianya” dalam jilid pertama Kapital (1867).
Mereka yang telah menulis tentang konsep ini antara lain Max Stirner, Guy Debord, Raya Dunayevskaya, Raymond Williams, Timothy Bewes, Fredric Jameson, dan Slavoj Žižek. Humanis Marxis Gajo Petrović (1965), mengambil dari Lukács, mendefinisikan Reifikasi sebagai: Tindakan (atau hasil dari tindakan) mengubah sifat, hubungan, dan tindakan manusia menjadi sifat, hubungan, dan tindakan benda-benda buatan manusia yang telah menjadi independen (dan yang dibayangkan sebagai awalnya independen) dari manusia dan mengatur kehidupannya. Juga transformasi manusia menjadi makhluk seperti benda yang tidak berperilaku seperti manusia tetapi menurut hukum dunia benda. Reifikasi adalah kasus ‘khusus’ dari alienasi, bentuknya yang paling radikal dan meluas merupakan ciri khas masyarakat kapitalis modern.
Reifikasi Konteks Marxisme
Reifikasi berasal dari kata Latin res (benda), Reifikasi secara harfiah berarti “membuat menjadi benda” atau pembendaan. Dalam konteks Marxisme: konsep ini sangat erat dengan teori Karl Marx dan dikembangkan oleh Georg Lukács, yang berargumen bahwa kapitalisme mengubah hubungan manusia menjadi hubungan antarbarang/komoditas. Memandang aturan birokrasi, hukum pasar, atau norma sosial sebagai hal yang “sudah kodratnya begitu” dan tidak bisa diubah, padahal sebenarnya adalah hasil kesepakatan manusia. Dampaknya manusia menjadi pasif (kontemplatif) dan terasing (alienasi) dari hasil karyanya sendiri. Reifikasi membuat produk sosial (seperti uang atau struktur sosial) seolah-olah memiliki kekuatan mandiri, padahal sejatinya ia dihasilkan oleh manusia.
Reifikasi = Fetisisme Komoditas
Dalam sosiologi, Reifikasi (dari bahasa Latin res yang berarti “benda”) adalah sebuah konsep di mana fenomena sosial, hubungan antarmanusia, atau abstraksi mental dianggap dan diperlakukan seolah-olah mereka adalah benda mati atau hukum alam yang tidak bisa diubah. Secara sederhana, Reifikasi adalah proses “pembendaan” sesuatu yang sebenarnya merupakan hasil ciptaanmanusia. Karakteristik Utama Reifikasi. Lupa akan Peran Manusia: Individu lupa bahwa institusi sosial (seperti hukum, pasar, atau tradisi) sebenarnya diciptakan oleh tindakan manusia. Dianggap Sebagai Takdir: Sesuatu yang bersifat sosial dianggap sebagai “kodrat” atau sesuatu yang tidak bisa diubah (seperti cuaca atau gravitasi). Kekuatan yang Mengontrol: Manusia justru merasa dikendalikan oleh sistem yang mereka buat sendiri.
Konsep ini sangat erat kaitannya dengan tradisi teori kritis dan Marxisme: (1) Karl Marx (Fetisisme Komoditas): Marx menjelaskan bahwa dalam sistem kapitalis, hubungan antarmanusia berubah menjadi hubungan antarbarang. Misalnya, nilai sebuah sepatu tidak lagi dilihat sebagai hasil kerja keras pengrajin, melainkan dianggap sebagai sifat “alami” dari sepatu itu sendiri di pasar. (2) Georg Lukács: Tokoh yang mempopulerkan istilah ini. Ia berpendapat bahwa dalam masyarakat modern, hampir semua aspek kehidupan mengalami reifikasi, di mana manusia menjadi obyek yang tunduk pada hukum ekonomi yang kaku. (3) Peter L. Berger & Thomas Luckmann: Dalam sosiologi konstruksi sosial, mereka menyebut Reifikasi sebagai “tingkat ekstrem dari objektivasi,” di mana dunia yang dikonstruksi manusia kehilangan hubungannya dengan pembuatnya.






