Fantasi dan Ideologi Dalam Teks Sastra

Teks merupakan simbol interpretasi tak terbatas seperti yang diungkapkan Barthes dalam Kersik Bahasa. Teks juga merupakan simbol yang memuat ideologi penulis, seperti yang diungkapkan dalam aliran analisis kritis wacana terkhusus dalam pengertian diskursif marginal Foucault. Dengan asumsi belakang seperti itu, seorang penulis —terkhusus dalam karya sastra— menunjukkan ideologinya di dalam teks. Perkataan ini selaras dengan apa yang disebut sastra menurut Eagleton: sebuah analisis teks secara garis besar baik internal maupun eksternal karya sastra yang menghasilkan sebuah konstruksi ideologi pada teks tersebut (Herman and Eagleton 1998). Pendapat ini diperkuat dengan adanya sifat mirror of reality  dalam karya sastra seperti dalam bukunya M.H Abrams “The Mirror and The Lamp”.

Konstruksi ideologi dalam teks sastra bisa terdeteksi secara eksplisit, maupun implisit. Konstruksi ideologi sendiri diperjelas dengan pendapat Slavoj Žižek: ideologi bukan hanya sistem kepercayaan atau doktrin-doktrin politik tertentu yang mempengaruhi individu atau kelompok. Melainkan sebuah fondasi awal untuk memahami dunia dan posisi individu di dalamnya, ideologi sendiri bekerja di bawah sadar, yang mempekerjakan persepsi individu terhadap realitas juga mempengaruhi suatu tindakan tanpa disadari individu tersebut. Ideologi juga beroperasi pada praktik sosial, budaya, dan sastra yang tidak disadari, sehingga terkadang individu tersebut akan mengalami sinisme terhadap ideologi itu sendiri (Slavoj Žižek 1989).

Dengan adanya pemahaman tersebut, sastra secara tidak langsung merupakan arena gladiator ideologi. Membawa karya sastra sama dengan membawa senjata pembunuh massal, hal ini bisa ditelisik melalui sejarah pemberangusan buku di Indonesia, dimana karya sastra yang bermuatan paham kiri diberangus oleh pemerintah saat itu.  Melalui hal tersebut ideologi bukan melulu tentang pertarungan sosial-ekonomi-politik, akan tetapi soal eksistensi yang menciptakan common sense.

Fantasi dan Ideologi

Seorang pemikir otentik, boleh disebut sebagai New-Left yaitu Slavoj Žižek. Slavoj sendiri lahir pada tahun 1949 di Slovenia, ia dikenal sebagai pemikir dan kritikus budaya. Seperti yang dilansir Britannica “Žižek belajar filsafat di Universitas Ljubljana, tempat ia memperoleh gelar sarjana (1971), magister (1975), dan doktor (1981) serta menjabat sebagai peneliti dan profesor sejak 1979. Pada akhir tahun 1970-an, minatnya beralih dari teori sosial Mazhab Frankfurt, yang memberinya kritik psikoanalitik dan Marxis terhadap ideologi, ke teori psikoanalitik Jacques Lacan. Pada awal tahun 1980-an, ia belajar psikoanalisis di Universitas Paris VIII, dan menerima gelar doktor kedua (1985) untuk interpretasi Lacanian yang tidak ortodoks terhadap Hegel, Karl Marx, dan Saul Kripke. Saat di Paris, ia juga menjalani psikoanalisis dengan menantu dan pewaris intelektual Lacan, Jacques-Alain Miller. Selama tahun 1980-an, Žižek aktif terlibat dalam oposisi demokratis terhadap rezim sosialis independen di Yugoslavia, yang saat itu Slovenia merupakan bagiannya. Melalui pengajaran dan tulisannya, termasuk kolom mingguan untuk surat kabar Mladina, ia membantu mendefinisikan orientasi teoretis banyak aktivis mahasiswa, memperkenalkan motif dari idealisme Jerman (subjek disertasi doktoral pertamanya), dan strukturalisme Prancis Marxisme khususnya karya Louis Althusser), dan psikoanalisis Lacanian. Sejak awal tahun 1990-an, ia menjabat sebagai profesor tamu di berbagai universitas di Eropa dan Amerika Serikat.” Melalui rekam jejak pendidikanya, Slavoj mengelaborasi teori Lacan tentang tiga tatanan subjek; Imajiner, Real, Simbolic. Dengan elaborasi tersebut, ia menciptakan sebuah konsep disebut dengan Sinisme Ideologis dan Fantasi Ideologis.

Sinisme Ideologis Slavoj, bukan seperti sinisme umum yang berkutat dalam sikap keraguan semata. Tetapi, Slavoj menginterpretasi lebih jauh tentang sinisme, menurutnya: Sinisme bukanlah pesimis, ataupun skeptis. Sinisme merupakan kesadaran palsu yang dipaksa terhadap individu, di mana individu tersebut sadar bahwasanya ideologi tersebut salah, akan tetapi ia terus mengikuti ideologi tersebut, untuk mencari sebuah kesenangan ataupun rasa aman dalam ideologi tersebut. Inilah yang disebut sinisme ideologis. Sehingga munculah sebuah fantasi ideologis yang palsu pada individu tersebut (Slavoj Žižek 1991). Melalui interpretasi tersebut, sinisme merupakan tindakan totaliter seseorang karena ketertundukan subjek atas simbol.

Setelah mencapai sinisme tersebut, subjek akan terpengaruh dengan fantasi ideologi. Slavoj menjelaskan bahwa Fantasi ideologi merupakan fantasi individu tentang harapan indah yang bertentangan dengan realita yang ada. Fantasi ideologis ini dicontohkan seperti seseorang yang sedang mengalami sakit hati karena pengkhianatan, dalam hubungan antara pria dan wanita, akan tetapi masih mencari alasan rasional untuk berhubungan kembali. Sehingga pada akhirnya fantasi ini hanya sebatas sebuah peralihan untuk menghibur diri dari rasa sakit yang ada. Fantasi ideologis ini berlaku hanya untuk memenuhi harapan semata, walaupun realita yang ada berbeda (Žižek 1997). Dengan arti lain, Fantasi ideologis merupakan tindakan pelarian diri subjek untuk menciptakan sebuah ilusif, atau fetish pada tatanan imaginer, sehingga Slavoj menyebutnya sebuah Jouissance.

Dengan melewati dua tahap tersebut, subjek akan menyadari sebuah situasi batas. Situasi batas tercipta karena ketidakpuasan subjek terhadap tatanan real. Subjek yang menyadari akan situasi batas atau disebut ruang ketidakpuasan —The Lack— akan melewati tatanan real dengan radikal. Slavoj menyebut tindakan tersebut dengan Subjek Radikal atau perusakan tatanan Fantasi Ideologi. Dengan tindakan tersebut subjek melampaui situasi batas, dengan cara merusak fetish mereka, dan menciptakan tindakan radikal proaktif yang bertentangan dengan ideologi yang beratribusi dengan diri mereka.

Secara singkat sinisme ideologi merupakan kesadaran palsu yang dipaksa terhadap subjek karena sifat ketertundukan pada tatanan simbol. Kemudian, sinisme tersebut menghasilkan sebuah fantasi ideologi sebagai cara pelampiasan atau pelarian diri subjek dengan melakukan tindakan ilusif dalam tatanan imaginer atau Slavoj menyebutnya sebagai Jouissance. Setelah subjek mulai merasakan adanya kekurangan terhadap ilusif mereka, terciptalah sebuah situasi batas atau ruang ketidakpuasan subjek terhadap fetish mereka. Kekurangan tersebut memicu tindakan radikal, Slavoj menyebutnya dengan subjek radikal, dimana subjek radikal akan melakukan tindakan proaktif yang menghancurkan tatanan imaginer si subjek karena ruang ketidakpuasan subjek terhadap fetishnya.

Sastra, Fantasi, Ideologi

Melalui teks, sastra menciptakan unsur estetika yang unik. Sastra pun dimaknai sebagai jalan juang oleh Rendra, maka sastra secara tidak langsung merupakan arena perang ideologi. Melalui kajian interdisipliner, sastra berkembang sedemikian rupa, salah satunya dengan teori Slavoj. Melalui teori yang diluncurkan terhadap khalayak, Slavoj mengembangkan tradisi marxis dalam sastra.

Melalui tiga tahap teorinya — Sinisme, Fantasi, Subjek Radikal— seorang kritikus atau peneliti sastra dapat mulai mengembangkan kajian sastra marxisnya. Peneliti dapat mengaplikasikan teori tersebut melalui bagaimana seseorang menulis sebuah teks dalam karya sastra. Karena teks merupakan simbol atau petanda yang tidak mempunyai batasan untuk diinterpretasi — ketika seorang pembaca mulai mengguratkan, maka disitulah penulis mulai mati, seperti Barthes bilang. Dengan analisis dan interpretasi teks, peneliti dapat mengidentifikasi alur tiga tahap subjek menurut Slavoj. Terkhusus dalam penokohan dalam intrinsik sastra. Melalui penokohan, penulis secara eksplisit mencerminkan perasaan ataupun The Other mereka.

Secara implisit transformasi sastra semakin luas, dengan kajian multi ataupun interdisipliner. Akan tetapi, ketika melakukan pengkajian multi ataupun interdisipliner, peneliti harus paham betul akan ruang-lingkup pembahasan sastra ataupun ilmu lain yang dipakai dalam penelitian. Agar, tidak terjadinya impunitas terhadap suatu ilmu. Akhir dari pada tulisan ini, sastra merupakan pengekspresian diri, baik dalam karya ataupun penelitian. Sastra merupakan tempat kebebasan, juga arena perang. Melalui kebebasan, sastra menjelma menjadi medium untuk melimpahkan emosi yang tidak bisa tersampaikan di realita. Melalui arena perang, sastra secara tidak langsung tidak bebas nilai, karena dalam sebuah teks sastra, termuat kandungan ideologi seorang penulis yang dicurahkan.