Satu ketika di penghujung kelas satu tsanawiyah, santri seangkatan saya mengaji kitab Safinah dengan Ajengan Syahid. Ayah. Seperti biasa, beliau akan menyelingi pengajian dengan bercerita mengenai Kanjeng Nabi Muhammad. Dan kali ini, adalah tentang makhluk bernama Qalam yang ditugaskan Allah menuliskan nasib umat para nabi.
Ajengan Syahid bercerita:
Allah berkata, “Hai Qalam, tulislah! Umat Adam yang beribadah pada-Ku akan dimasukkan dalam sorga, sedangkan yang mendurhakai-Ku akan diseret ke dalam neraka.”
Qalam pun menuliskan apa yang Allah titahkan.
Allah kemudian menyuruh Qalam menuliskan hal yang serupa untuk umat Nabi Idris, Nabi Nuh, Hud, Sholeh, Ibrahim, Luth, Ishaq, Ismail, Yakub, sampai Isa alaihissalam. Namun, ketika Qalam menuliskan hal serupa untuk umat Nabi Muhammad, bahwa yang taat masuk sorga dan yang durhaka masuk neraka, Allah justru murka.
“Sopanlah kamu kepada umat Muhammad, wahai Qalam!” kata Allah. “Tulis olehmu, bahwa umat Muhammad yang beribadah pada-Ku tempatnya adalah sorga, dan barangsiapa yang mendurhakai-Ku, maka pintu ampunan-Ku masih terbuka.”
Sampai di sini, Ajengan Syahid terdiam. Beliau menutup mata dan mencoba menahan tangis yang tetap saja tumpah. Tubuhnya terguncang, sedangkan saya bergetar. Nyaris setiap bercerita tentang Kanjeng Nabi, beliau akan terdiam untuk kemudian menangis. Bahkan, cerita Kanjeng Nabi yang ikut memanggul batu-bata saat pembangunan masjid di Madinah, dimana bagi saya waktu itu biasa saja, beliau ceritakan dengan lelehan air mata.
Cerita-cerita itu seolah langsung keluar dari hatinya yang kangen pada Sang Junjungan. Kelak di saat saya sekolah Aliyah di Al-Musaddadiyah Garut, saya menulis buku pertama saya, yaitu menghimpun potongan-potongan kisah Kanjeng Nabi Muhammad yang diambil dari banyak buku, yang saya beri judul “Aku Bukanlah Pelaknat”. Ah, naskah dengan ketebalan 200 halaman itu hilang entah kenapa.
Oh ya, cerita Qalam di atas, saya pun menemukan kisah yang semakna dalam buku “Dan Muhammad Adalah Utusan Allah” karya Annemarie Schimmel. Di sana ada sebuah riwayat seperti ini: Allah menulis sebuah naskah seribu tahun sebelum penciptaan dunia. Kemudian Dia meletakkannya di atas Singgasana-Nya dan berfirman: “Wahai umat Muhammad, lihat, rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku. Aku memberikannya kepada kalian sebelum kalian meminta, dan mengampuni kalian sebelum memohon ampunan-Ku. Setiap orang di antara kalian yang berjumpa dengan-Ku dan berkata: “Tidak ada tuhan kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”– akan Kutuntun masuk ke dalam sorga!”
Demikianlah…
Ajengan Syahid memang ingin menancapkan cinta kepada para santri, juga supaya kami bangga menjadi umatnya Kanjeng Nabi, dan berharap mendapat syafaatnya. Ini terlihat, waktu saya mondok di Al-Falah, saya diajarkan Kitab Tarikh Khulasoh, sejarah Kanjeng Nabi, yang diampu oleh putra beliau: KH. Muhamad Nawawi Syahid (Kang Muna). Usai khataman kitab itu, olehnya kami diajak nonton film Nabi Muhammad: The Message (Ar-Risalah). Lalu setiap malam Jumat, kami membaca Maulid Azab dipimpin Ayah, sebuah kitab maulid seperti Maulid Al-Barjanzi dan Maulid Diba. Kemudian setiap menjelang azan, selawat dan pujian pada Kanjeng Nabi akan dilantunkan para santri. Bahkan di kalangan santri, ada grup marawis yang jika ada acara besar di pondok, akan menyenandungkan selawat-selawat Nabi. Sungguh, banyak sekali jenis selawat yang dikenalkan Ayah kepada kami.
Ajengan Syahid telah mengalirkan nama Kanjeng Nabi cukup kuat di hati saya, sehingga membaca selawat menjadi sesuatu yang wajib dalam mengarungi hari. Bahkan dalam pembacaan buku, tema yang paling saya cintai adalah buku-buku yang berkaitan dengan Kanjeng Nabi Muhammad. Waktu itu Ayah pernah bilang, “Kanjeng Nabi Muhammad sangat mencintai umatnya..” Saat mengenang ucapan ini dan cerita tentang Qalam di atas, saya teringat dengan petikan syair Fariduddin Aththar dalam kitabnya “Ilahinama”, dimana ia menggambarkan Kanjeng Nabi saat Mi’raj. Ketika berhadapan dengan Tuhan, Kanjeng Nabi dianugerahi firman-Nya:
____________________________
“Engkaulah tujuan dan maksud-Ku dalam penciptaan.
Dan apa pun yang kau inginkan, mintalah, wahai mata yang memandang!”
Muhammad berkata:
“Duhai Yang Mahatahu tanpa Bagaimana.
Duhai Yang Rahasia secara batin,
Yang Misteri secara lahir—
Engkau tahu keinginan terdalamku:
Aku mohon kepada-Mu kini untuk umatku!
Berdosa umatku,
tetapi mereka mengingat-Mu,
anugerah tak terbatas-Mu.
Mereka tahu samudra cinta dan anugerah-Mu—
Bagaimana kalau Engkau ampuni mereka semua?”
Lagi, Allah Mahatinggi berfirman kepadanya:
“Aku telah mengampuni semuanya, Sahabat:
Tak perlu kau khawatirkan umatmu,
karena Rahmat tak terbatas-Ku
lebih besar dari dosa-dosa mereka.”
________________________________
Wallahu A’lam bishawwab..








