Mendedah Metapsikologi dalam Pemikiran Freud (Bagian 1)

Pembahasan tentang metapsikologi bukanlah hal yang mudah, karena luasnya pandangan ini dan minimnya refrensi yang tersedia dan tersistematis. Maka menjadi hal lumrah, jika istilah metapsikologi sendiri bagi komunitas non-psikologis (bahkan kalangan psikologi) masih terdengar samar-samar, atau sangat asing. Padahal, hampir dalam tubuh karya-karya Freud, yang konon digadang-gadang sebagai penggagas dari konsep ini, mengandung muatan metapsikologi.

Saya sendiri harus mengakui kelemahan saya dalam menjelaskan konsep metapsikologi. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran yang tak putus, dalam mengurai konsep ini, khususnya hubungannya dengan Freudian Psychoanalysis, dan pandangan metapsikologis dalam Freudian Psychoanalysis. Mungkin saran saya, seperti anjuran kebanyakan para psikoanalis lainnya, jika ingin mempelajari metapsikologi secara mendalam, yang pertama-tama harus dilakukan, adalah dengan membaca karya otentik Freud dalam Complete Work, dan yang paling penting juga dengan menganalisis diri kita sendiri.

Dengan demikian, dalam pembahasan kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskan konsep metapsikologi sesuai dengan apa yang telah saya pelajari. Secara ringkas, metapsikologi merupakan suatu teori klasik. Bisa pula disebut sebagai gagasan mendasar atau fondasi dari seluruh bangunan studi kejiwaaan. Istilah metapsikologi pertama kali dicetuskan oleh Freud yang merujuk pada sejumlah konsep atau sudut pandang yang menjadi dasar psikonalisis. Ada lima sudut pandang di dalamnya yang saling berkait kelindan: dinamis, topografis, ekonomis, struktural, dan genesis.

Sedangkan tujuan atau agenda utama dari metapsikologi sendiri adalah untuk menentang atau men“dekonstruksi” pandangan “psikologi kesadaran” Wilhelm Wundt yang sangat dipengaruhi oleh gagasan warisan Zaman Pencerahan (Age of Enligtenment). Psikologi kesadaran ala Wundt ini menjadikan psikologi bersifat empiris, membuat studi kejiwaan hanya pada wilayah yang dapat diamati atau diukur melalui observasi di labotarium yang berkutat pada perihal kesadaran semata. Pandangan ini tentu sangat reduktif, dan oleh itu metapsikologi hadir sebagai corak baru dalam studi kejiwaan. Sehingga psikologi bukan hanya sekedar studi mengenai kesadaran, tapi juga studi mengenai perihal yang melampaui kesadaran itu sendiri. maka Freud sendiri mengatakan bahwa metapsikologi merepresentasikan tujuan terdalam yang dapat dicapai psikologi.

Metapsikologi pun tidak hanya menjelaskan mengenai aktivitas mental manusia dengan gangguan kejiwaannya (neurotik), melainkan juga pada orang yang tampak normal. Implikasi yang harus diterima oleh psikoanalisis dengan metapsikologi adalah label “psikologi jeroan atau psikologi mendalam”. Dengan demikian, untuk memahami perihal metapsikologi yang dicetuskan Freud, ada baiknya kita menapaki lima hipotesis yang saling berkaitan di dalamnya. Akan tetapi, dalam artikel pertama perihal metapsikologi ini, saya hanya akan mengurai ketiga konsep utama terlebih dulu, sedangkan dua konsep terakhir akan saya coba diskusikan di artikel selanjutnya.

Hipotesis Dinamis

Dalam hipotesis dinamis yang menjadi objek kajian Freud adalah perihal ketaksadaran. Freud merumuskan bahwa ketaksadaran adalah dinamis dan determinis. Hal ini yang membedakan pembahasan perihal ketaksadaran dengan para pendahulu Freud seperti Eduard von Hartman, Schopenhauer, Leibniz, dan Nietzsche. Sejarahwan psikologi berpendapat bahwa konsep ketaksadaran pertama-tama mengacu pada diskusi Leibniz mengenai apa yang mereka sebut sebagai “petite perception” (persepsi-persepsi kecil). Dalam studi ini, Leibniz menggunakan pesan-pesan terselubung yang dapat mempengaruhi manusia secara tidak langsung, atau yang saat ini dikenal dengan subliminal message. Sekalipun demikian, Schopenhauer konon disebut sebagai tokoh yang pertama kali menggagas studi perihal ketaksadaran. Ia berbicara mengenai insting dan sifat dasar manusia yang irasional.

Maksud dari gagasan Freud bahwa ketaksadaran adalah dinamis dan determinis, yaitu ketaksadaran selalu bersifat lentur, luwes, dan memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan kita. Pikiran-pikiran atau perasaan-perasaan yang mengganggu, entah memalukan, menyakitkan, dan menyedihkan, karena mungkin bertentangan dengan kondisinya, masyarakat, moralitas, dsb., yang awalnya direpresi menuju ketaksadaran sebenarnya tidaklah hilang. Muatan atau materi-materi ini tetap hidup, saling berkompromi, saling bertentangan satu sama lain, dan berupaya untuk menampilkan dirinya pada kesadaran. Dan tentu saja, seperti yang dijelaskan pada materi sebelumnya, seluruh muatan ini harus menghadapi resistensi (yang merupakan bagian esensial dari mekanisme pertahanan) untuk menghambat atau menyensornya.

Namun, muatan-muatan tersebut melakukan penyamaran atau kedok agar dapat lolos dari sensor resistensi. Fenomena seperti mimpi, slip lidah atau salah ucap, salah tulis, salah dengar, lelucon, telah menjadi studi awal Freud dan koleganya mengenai gejala-gejala yang timbul sebagai representasi penyamaran dari muatan ketaksadaran. Pada akhirnya, seluruh kehidupan kita digerakkan oleh daya-daya dalam ketaksadaran. Kita bukan lagi tuan atas diri kita sebagaimana slogan terkenal Cartesian (Cogito ergo Sum, “Aku sadar [berpikir], maka aku ada”).

Dalam hipotesis dinamis ini ada dua aspek esensial di dalamnya yang dikenal dengan istilah konflik intrapsikis dan determinisme psikis. Dua aspek esensial ini terdapat juga dua kualitas utama yang mendasarinya yang menjadi karakteristik dari hipotesis dinamis, yakni besarnya dan arahnya. Pada level konflik intrapsikis mencakup seberapa besar dan dinamisnya. Semakin kuat konflik antar daya dalam diri seseorang, semakin besar pula unsur dinamisnya. Sedangkan arahnya mengacu pada pengaruh daya-daya ketaksadaran dalam hidup psikis kita, sehingga menggerakan kita untuk mengejar kenikmatan dan menjauhi penderitaan. Sebab itu, hipotesis dinamis sesungguhnya merupakan hasil observasi terhadap afeksi—yang merupakan representasi mental dari somatik. Ini menjadi salah satu yang membedakan psikonalisis Freudian dengan pendekatan psikologi lainnya. Psikoanalisis Freudian menganggap pentingannya antara jiwa (psike) dan tubuh (soma). Dua aspek yang tidak dapat dipisahkan dan bergerak saling berkelindan. Hipotesis dinamis ini memiliki pengaruh yang sangat luas terhadap hipotesis lainnya, yang nantinya bakal kita temui dalam hipotesis berikutnya dalam bagian 2.

Tinggal di Bandung. Belajar di Arena Studi Apresiasi Sastra UPI, Lingkar Studi Filsafat Nahdliyyin, dan Asosiasi Psikoanalisis Indonesia. Meminati kajian filsafat, sastra, psikoanalisis, dan tasawuf.