Menemukan Tuhan di Tengah Macet

Bagaimana suatu yang sakral bisa muncul dalam hal-hal biasa


Kadang, di keseharian kita yang hampir template dengan bumbu-bumbu kehidupan yang kita lakukan setiap hari, kita menemukan suatu hal yang sakral. Tapi, sering kali kita tidak sadar. Ada saat-saat di hidup ini ketika doa tidak terucap di atas sajadah, tapi di antara klakson dan lampu merah Kiaracondong misalnya.

Ketika napas kita tertahan bukan karena khusyuk, melainkan karena udara pengap di perempatan. Kemudian, entah bagaimana, di tengah kemacetan itu kita mulai berdialog dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Mungkin Tuhan memang tidak hanya menunggu di tempat ibadah

Ia juga hadir di jalan yang macet, di hati yang sabar menunggu, di dada yang menahan keluh. Barangkali, Ia sedang duduk diam di kursi penumpang, tersenyum melihat kita berjuang menenangkan diri. Di tengah ramainya suara kendaraan dan iklan yang berlalu-lalang, kita belajar bahwa kesabaran adalah bentuk ibadah yang paling sederhana.

Kita menekan gas, lalu rem perlahan, lalu diam.

Begitu pun dengan hidup, ada waktunya berjalan, ada waktunya berhenti, ada waktunya menerima bahwa semua orang punya kecepatan masing-masing untuk sampai di tujuan. Kadang aku berpikir, mungkin doa paling jujur justru muncul di antara detik-detik kesal itu: Saat kita ingin cepat sampai, tapi tidak bisa; Saat kita ingin marah, tapi justru terdiam.

Di situlah muncul ruang hening yang jarang kita sadari, ruang tempat batin kita berserah, meski tidak disebut doa.

Tuhan tidak selalu hadir lewat keajaiban yang besar

Ia juga muncul lewat tangan ojol yang tetap sabar, lewat tukang sapu jalanan yang tersenyum di panas siang, lewat anak kecil yang menatap langit sambil tertawa. Mungkin Ia hadir lewat pandangan kita sendiri yang mulai pelan belajar melihat, bukan sekadar menatap saja. Di tengah macet, hidup memperlihatkan wajahnya yang paling jujur: semrawut, bunyi klakson yang saling bersahut, macet sepanjang jalan dan kadang bikin marah.

Tapi di situ juga ada jeda untuk menyadari bahwa semua orang sedang berjuang pulang, dan mungkin, perjalanan pulang itulah bentuk paling manusiawi dari ibadah. Maka lain kali ketika kamu terjebak di jalan, jangan buru-buru kesel dengan keadaan, matikan musik sebentar. Tarik napas dalam-dalam. Lihat disekitarmu, ada kehidupan yang berjalan pelan-pelan. Ada manusia lain yang sama lelahnya, sama berdoanya.

Mungkin di sanalah Tuhan sedang menunggu, bukan untuk dilihat, tapi untuk disadari.