Umar Kayam

Mungkin kita adalah Sri Sumarah yang lain. Yang menyerahkan kehidupannya pada tuturan jalan yang sebetulnya tak ditutur juga akan kita lewati dengan sendirinya. Dalam ceritanya, Umar Kayam (Selanjutnya: Kayam) menuliskan Sumarah dengan tokoh yang ayu, mudah menerima wangsit jadi guru pijit. Menerima kehidupan dengan sederhana, walau sekadar hidup, kehidupannya bisa benar-benar hidup.

Sebagai pembuka jalan realisme sosialis, Kayam berhasil menemukan sebuah sisi sastra yang sulit ditemukan pada penulis kontemporer saat ini, atau hipotesis kedua: aku saja yang kurang banyak baca. Bukan dengan menggunakan banyak diksi yang kuat, mencecar kehidupan yang dar-der-dor, Kayam lebih bersahaja daripada itu. Dirinya berhasil mepende pembaca dengan kehidupan Indonesia yang realis, bukan sekadar permainan imaji, kalo kata Aprinus Salam: “hidup yo ngene tok wis alhamdulillah”.

Aku selalu terpikat pada Kayam, baik tuturan, sastra, maupun kehidupan. Sejujurnya sulit menemukan kebersahajaan itu di buku lain, cerita lain, pun pemakanaan kisah yang lain. Seolah-olah hasratku mudah terisi tatkala sedang membaca tajuk tarian cerita-cerita Kayam. Selalu saja aku coba meniru tulisannya dengan bahasa yang (menurutku) unik, sederhana namun dalam maknanya; ternyata, sulit dan gagal.

Begitu pula salah satu jalan pandangan sastra yang kupilih, tatkala banyak akademisi yang berlomba untuk membuat dan meneliti kedigdayaan sastra dengan berbagai macam pandangan. Aku lagi-lagi mengikuti jalan mereka, sama-sama meneliti, berpikir, dan berada di wasatiyyah. Tidak ke kanan atau ke kiri, ke depan atau ke belakang. Pokoknya mirip-mirip kayak Mangan Ora Mangan Kumpul, kalau ga mirip jangan marah, bukankah manusia tak luput dari salah dan dosa?.

Namun ya sebagaimana yang telah diuraikan, rasa-rasanya pikiranku masih ada di zaman Kayam bersahaja, masih berkutat pada permasalahan yang sejak dahulu ingin aku kuasai, sebelum melangkah lebih jauh. Perlu ditekankan, hal ini tidak mendiskreditkan akademisi lain yang sudah melesat jauh, melihat sastra dengan berbagai macam perspektif, paduan antara sastra dan ilmu lain, pergulatan sastra dengan pandangan lain. Tapi boleh, kan, aku berendam dalam lautan diksi Kayam? Tidak ada kecenderungan pada pikiran-pikiran yang berat layaknya poskolonial, psikoanalisis, sosiologi, naratologi, aesthetic response, atau apalah itu. Ga suka, nanti saja kalau mau buat jurnal.

Cerita yang ditulis Kayam adalah karya besar, anestesi tatkala menghadapi kehidupan yang amat sangat. Sastra menjadi arena kritik sosial, pengisian gagasan, penyuaraan pendapat, sampai bentuk perlawanan. Sastra dengan kelenturannya bisa menjadi apa saja yang diperlukan, dari suka pindah ke duka, dari kebenaran sampai usaha pembongkaran dusta, semua bisa dilakukan oleh tulisan yang berimaji. Kalau kata Bernadya,

yang kuingat saat itu, yang kulakukan hanya menggerutu, angkuh