Jam dinding terus berdetak, menunjukkan pukul delapan malam. Diriku bersimpuh diri, membuka kembali lembaran di bulan Agustus yang disakralkan sebagai hari jadi Indonesia. Namun, ku melihat catatan bulan Agustus semenjak ia duduk di singgasana emas, menunjukkan catatan hitam di lembaran putih hari jadi Indonesia.
Tepat di bulan Agustus tahun kemarin, gejolak gelombang massa aksi yang dinamai a29-s1 menimbulkan catatan historis yang kelam di bumi pertiwi ini. ratusan bahkan ribuan orang ditangkap dengan cara guilty by association, korban berjatuhan, dan salah satunya seorang pemuda yang bekerja sebagai pengemudi online, yaitu Affan Kurniawan.
Pemuda gigih, yang harus meregang nyawa sebab ia muak dengan keadaan dan turun ke jalanan sebagai bentuk keresahan dan penyampaian aspirasi. Namun nahas takdir berkata lain, ia ditabrak oleh mobil taktis dan harus meregang nyawa. Lalu bagaimana dengan aspirasi yang disampaikan? Ia terbang disapu bersih oleh angin, dan kehidupan mencatatnya sebagai sebuah peristiwa. Pedih bukan, aspirasi yang seharusnya dipertimbangkan kemudian direalisasikan, disapu bersih oleh angin, dan kehidupan berjalan seperti biasanya, Affan dikenang sebagai pahlawan, dan tak pernah ada yang tercatat sebagai musuh bersamanya.
Villain, tak pernah dicatat dalam peristiwa, sungguh mirislah keadaan ini. Para demonstran dicap sebagai biang keladi kematian Affan, masyarakat dipecah belah sebab demonstrasi katanya, nyawa harus meregang. Dan nama pemerintah tetaplah bersih nan suci, dicap sebagai pahlawan mistis yang legendaris karena telah membersihkan para biang keladi yang dicap hantu Anarko.
Sungguh, panggung stand up comedy yang mengalahkan sejagat raya komedi. Para mahasiswa, aktivis, dan pejuang demokrasi harus dibekam dalam jeruji dingin, dan pemerintah yang seharusnya dicap sebagai biang keladi masih duduk di singgasana emasnya, ber-AC beralaskan busa di bawah pantatnya, dan bekerja lalai seperti biasanya. Keadaan amat terbalik yang dirasakan para mahasiswa, aktivis, dan pejuang demokrasi, ia harus duduk di lantai kotor, ditemani angin dingin dari ventilasi, dan hidup dijeruji layaknya seorang kriminal. Betul memang yang dikatakan pepatah dalam bukunya, sesuatu yang disebut kejahatan, tergantung dilihat melalui sudut pandang seorang pemegang kuasa.
Memang aneh, mungkin kejadian tersebut hanya one and only di Indonesia. Villain sang dalang utama tak pernah diusut tuntas, kematian seorang dicap sebagai pahlawan, dan kematiannya bukan menjadi peringatan akan busuknya keadaan, dan mereka yang berjuang dicap sebagai pelaku teror yang ganas seakan-akan mereka sudah menyiapkan senjata nuklir untuk membumi hanguskan dunia, simbol hitam dan kata Anarko menjadi angker di mata masyarakat sebagai dedengkot kejahatan abadi di sebuah cerita legendaris. Memang sungguhlah mereka, tak ada kesungguhan yang benar-benar bersungguh seperti perilaku mereka. Drama yang dibuat oleh Amerika pun akan kalah epic bila drama yang ada di Indonesia ini disebarkan ke penjuru dunia.
Dan Agustus Tahun ini
Tahun kemarin, ku berdoa semoga Agustus kemarin tak pernah terulang kembali dan menjadi pengingat bagi kita semua yang ada di belahan dunia. Dan ku berdoa semoga Agustus tahun depan, pemangku keramat di kursi nyaman pencetak kiamat dapat berbenah agar Indonesia dapat maju dan sejahtera. Namun, seakan-akan sejarah mencintai tanah makmur yang diliputi oleh kekayaan alam ini, saking cintanya ia tak mau melepas peristiwa-peristiwa yang bersejarah.
Tetapi takdir seakan berulang dan bercengkrama erat di tahun ini, bulan Agustus tetap diisi oleh duka dan catatan hitam. Mulai dari peristiwa kebakaran hutan yang melanda beberapa wilayah kepulauan, gempa yang mengakibatkan terputusnya komunikasi dan kehancuran, dan tak luput gejolak aksi yang lagi-lagi menimbulkan kematian dan mungkin penangkapan besar-besaran lagi.
Tentu di tulisan, bukan berarti ku menyepelekan peristiwa kebakaran hutan dan gempa yang juga cukup merusak dan membuat nyawa tercabut, tetap peristiwa yang terjadi dicap sebagai sebuah peristiwa dan tak ada pengkerdilan untuk sebuah peristiwa yang menimbulkan banyak kerugian, dan ku berdoa semoga yang dilanda oleh musibah dapat secepatnya untuk kembali berbahagia dan kembali pada kehidupan yang selayaknya juga tak luput seluruh kerugian dapat kembali seutuhnya.
Kembali lagi pada gejolak aksi yang terjadi di Agustus tahun ini, aksi yang mengusung pada tema dan tuntutan yang sama, yaitu perampasan aset bagi para koruptor. Kembali terjadi, seakan-akan aspirasi-aspirasi yang disampaikan hanyalah kicauan burung yang tak perlu digubris secara seksama. Aksi tahun ini, terdapat beberapa polemik, mulai dari pemblokiran dana dari donasi untuk aksi, hingga lagi-lagi kematian, ya betul Kematian.
Aksi yang membawa agenda-agenda kebaikan untuk negeri, kembali harus menumbalkan nyawa seseorang. Aksi yang memanas di Jakarta mempunyai pola baru, yaitu ormas melawan masyarakat. Orang-orang yang berpakaian hitam dan ikat kepala putih terlihat menaiki beberapa truk untuk mendatangi lokasi aksi. Terlihat mereka membawa balok kayu, padahal mereka melewati kerumunan polisi yang sedang berjaga, namun respon dari kerumunan tersebut tak mengindahkan seakan-akan kerusuhan sengaja diciptakan. Sebaliknya, bila ada peserta aksi yang memakai pakaian hitam, jangankan bawa kayu balok, mereka akan diperiksa lalu diamankan bahkan disinyalir sebagai sang Anarko yang jahat dan perusak tatanan dunia.
Setelahnya, kerusuhan tak dapat dihindari, hingga menyebabkan seorang warga Pejompongan harus meregang nyawa. Katanya, kasus ini sedang diselidiki oleh pihak yang berwenang. Namun, yang perlu di garis bawahi ialah aksi Agustus yang kembali memakan korban. Seakan-akan nyawa merupakan harga termurah untuk dibayar sebagai tiket dari penyampaian aspirasi, dan belum tentu warga Pejompongan yang meregang nyawa merupakan massa aksi kemarin.
Ironis memang, penyampaian aspirasi yang seharusnya menjadi hak konstitusi sebagai warga negara harus dibayar dengan nyawa. Sebagai penutup, dari catatan hitam bulan Agustus, semoga apa yang terjadi hari ini, kemarin, juga tahun lalu, dapat menjadi sebuah bara api untuk memperjuangkan kembali lagi hak-hak yang telah dirampas. Karena keadaan tak mungkin berubah, bila tak ada yang berani menyuarakan ketidakadilan. Dan untuk seluruh pejuang demokrasi yang turun ke jalan, haruslah ingat bahwa kalian mesti kembali dengan selamat dan sentosa, semoga perjuangan yang dilakukan dapat mencapai harapan yang semestinya. Akhir kata, jika jalan perjuangan dipenuhi darah yang berceceran, biarlah aku merasakan dan menikmatinya, dan pastikanlah kakiku tetap tegap untuk berjalan di atasnya.







