Penulis: Lin Yi-Han
Genre: Fiksi realis & psikologi — Asian Literature
Penerbit : Shira Media, 2025
⚠️ Sensitif konten: Child grooming, sexual harassment
Setelah membaca buku ini, aku butuh beberapa waktu untuk bisa membukanya lagi dan mulai menanggapi.
Secara keseluruhan, buku ini adalah jeritan perasaan dan pemikiran yang berkecamuk terlalu dalam dan sesak, milik seorang gadis bernama Si-Chi.
Si-Chi dan Yi-Ting adalah sepasang sahabat dengan banyak kesamaan. Keduanya lahir di keluarga baik-baik, hidup dalam kondisi ekonomi yang berada, bersekolah di tempat dan angkatan yang sama, serta sama-sama hobi membaca sastra dan menulis. Seolah takdir menuntun banyak hal untuk mempertemukan mereka. Namun ada satu hal kecil yang membuat orang lain memandang mereka berbeda. Alih-alih dikenal cerdas seperti Yi-Ting, Si-Chi hanya dipandang sebagai “gadis cantik”. Dan begitulah semua orang melihatnya.
Kecerdasan Si-Chi dalam bermain bahasa, harga diri yang tinggi, serta kegemarannya membaca sejarah dan sastra justru mengantarkannya pada pengalaman traumatis yang merenggut jiwa dan tubuhnya. Semua bermula karena ia merasa akhirnya menemukan seseorang yang mampu melihat “ke dalam dirinya”: seorang pria dewasa yang Si-Chi putuskan untuk kagumi, Guru Lee. Eh maaf, mungkin yang lebih tepat adalah “predator biadab Lee”.
Si-Chi dan Yi-Ting secara bergantian, satu kali seminggu, menyerahkan PR menulis untuk dikoreksi Guru Lee. Tentu saja, Guru Lee memberikan pengajaran yang “berbeda”.
Lee Guo Hua atau Guru Lee adalah seorang tutor bimbingan belajar di Taiwan berusia sekitar 50 tahun. Ia punya reputasi bagus, kariernya melejit, dan pandai membual untuk memikat para muridnya. Murid-murid bimbingannya yang lelah dengan tekanan persaingan masuk perguruan tinggi, sehingga banyak yang terperangkap dalam ilusi surga yang tak benar-benar mereka pahami. Beberapa di antara mereka memilih bunuh diri. Sebagian lain terpaksa menelan kenyataan menjijikkan bahwa orang yang mereka percayai telah merenggut tubuhnya secara paksa.
Kalian bisa tebak bagaimana perasaan Guru Lee melihat akibat perbuatannya? Puas.
Berbicara soal “hubungan intim” atau seks, baik secara harfiah maupun sebagai pengalaman kekerasan, masih dianggap tabu. Ini jadi keuntungan bagi para pelaku, karena kebanyakan orang lebih memilih berpura-pura tidak tahu daripada menerima kenyataan pahit bahwa dunia bisa sangat kejam, terutama terhadap korban.
Akibatnya, pelaku tetap bebas berkeliaran sebagai predator yang siap memangsa domba kecil yang malang.
Fang Si-Chi’s First Love Paradise adalah karya pertama sekaligus terakhir Lin Yi-Han. Ia dikabarkan bunuh diri setelah menulis buku ini. Ibunya mengaku bahwa Si-Chi adalah Lin Yi-Han itu sendiri.
Banyak korban kekerasan seksual yang bungkam. Perasaan korban grooming jarang benar-benar terungkap, sehingga kita sering merasa kesal dan cenderung menyalahkan korban yang diam, tanpa pernah benar-benar mengerti apa yang mereka rasakan.
Di buku ini, penulis mengeksplorasi perasaan korban paling dalam dan membawa kita ke bayangan kelam, berat, hampa, dan sesak yang tak berkesudahan. Ketakutan dan kekalutan yang tertuang di sini mungkin hanya sebagian kecil dari apa yang benar-benar dirasakan korban. Ada rasa penasaran, bingung, dan hancur yang diam-diam mereka toleransi. Kehilangan diri sendiri, jijik, dan merasa bersalah.
Sampai-sampai aku pribadi tidak benar-benar paham perasaan jatuh cinta seperti apa yang Si-Chi rasakan, selain: “Rasa cinta ini membuatku tidak nyaman.”
Meski ini karya satu-satunya, penulis berhasil membuat alur cerita yang memikat, berputar-putar, dan memberikan resolusi yang menggeramkan. Cara penulis menuturkan kisah Si-Chi lewat buku hariannya membuat pembaca tertampar dan terpelintir menuju jurang kengerian.
Awalnya aku merasa berat menyimpan buku ini di rak. Rasanya ingin segera melepasnya ke pemilik baru. Tapi eksplorasi rasa dari korban sexual harassment di sini terasa mahal dan langka. Aku jadi tertarik mendalami sisi psikologisnya lebih baik lagi.
Terdapat beberapa kesalahan ketik yang cukup mengganggu, tapi tidak sampai merusak esensi cerita.
Dan terakhir, buku ini tidak cocok untuk semua orang.






