Mengajarkan Anak Tangguh atau Mengajarkan Anak Memendam Emosi 

Pada suatu hari ketika aku sedang berjalan kaki untuk membeli makanan, aku melihat  seorang anak kecil yang sedang menangis bersama ibunya. Aku tidak mengetahui apa yang  sebenarnya terjadi. Mungkin anak itu sedang kecewa, mungkin sedang lelah, atau mungkin  ada sesuatu yang membuatnya sedih. 

Hal yang menarik perhatianku bukanlah tangisan anak itu, melainkan respons dari sang ibu.  Ia meminta anaknya untuk diam dan berhenti menangis. Pemandangan tersebut membuatku  berpikir cukup lama. 

Aku bertanya dalam hati, mengapa anak yang sedang menangis sering kali diminta untuk  diam? Mengapa ekspresi sedih, marah, kecewa, atau takut seolah menjadi sesuatu yang harus  segera dihentikan? 

Sebagai manusia, anak juga memiliki perasaan. Mereka bisa kecewa ketika keinginannya  tidak terpenuhi. Mereka bisa marah ketika merasa diperlakukan tidak adil. Mereka bisa sedih  ketika kehilangan sesuatu yang berharga bagi mereka. Emosi tersebut merupakan bagian  alami dari kehidupan manusia. 

Ketika seorang anak menangis lalu langsung diminta untuk diam tanpa diberi kesempatan  mengungkapkan apa yang dirasakannya, aku membayangkan apa yang mungkin terjadi di  dalam pikirannya. Mungkin ia akan berpikir bahwa menangis adalah sesuatu yang salah.  Mungkin ia akan belajar bahwa kesedihan harus disembunyikan. Bahkan mungkin ia akan  menyimpulkan bahwa perasaannya tidak penting. 

Hal serupa sering terjadi pada emosi lain. Tidak sedikit anak yang mendengar kalimat seperti,  “Tidak boleh marah kepada orang tua,” atau “Jangan cengeng,” atau “Anak laki-laki tidak  boleh menangis.” Kalimat-kalimat tersebut mungkin diucapkan dengan niat baik, tetapi  terkadang tanpa disadari membuat anak belajar untuk memendam emosinya.

Menurut pandanganku, ada perbedaan antara mengajarkan anak mengendalikan emosi dan  melarang anak memiliki emosi. Mengendalikan emosi berarti membantu anak memahami apa  yang ia rasakan dan mengekspresikannya dengan cara yang sehat. Sebaliknya, melarang  emosi berarti membuat anak merasa bahwa apa yang ia rasakan tidak boleh muncul sama  sekali. 

Aku membayangkan bahwa ketika emosi terus-menerus ditekan, emosi tersebut tidak benar benar hilang. Ia hanya tersimpan. Seorang anak mungkin terlihat tenang dan patuh di luar,  tetapi di dalam dirinya tersimpan banyak kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan yang tidak  pernah mendapatkan ruang untuk dipahami. 

Ketika anak tersebut tumbuh dewasa, emosi yang selama ini dipendam bisa muncul dalam  berbagai bentuk. Ada yang menjadi mudah marah. Ada yang melampiaskannya kepada orang  lain. Ada yang melampiaskannya pada benda-benda di sekitarnya. Ada pula yang menyimpan semuanya sendirian hingga merasa sangat tertekan. 

Tentu saja tidak semua orang yang mengalami hal tersebut akan mengalami gangguan mental  atau perilaku agresif. Namun menurutku, kemampuan mengenali dan mengungkapkan emosi  merupakan keterampilan yang penting untuk dipelajari sejak kecil. 

Karena itulah aku sering berpikir, bagaimana jika ketika anak menangis, kita tidak langsung  menyuruhnya diam? Bagaimana jika kita membiarkannya menangis sejenak, lalu setelah  emosinya mulai mereda kita berkata, “Kamu sedih ya?” atau “Coba ceritakan apa yang  terjadi.” 

Mungkin dengan cara itu anak belajar bahwa emosinya diterima. Ia belajar bahwa menangis  bukanlah tanda kelemahan. Ia belajar bahwa marah dan kecewa adalah perasaan yang wajar,  selama disampaikan dengan cara yang baik. 

Dari pemikiran tersebut, aku sampai pada kesimpulan bahwa ilmu mengenai pengasuhan  anak sangatlah penting. Tidak semua orang tua memperoleh pengetahuan tentang pengasuhan  yang sehat. Banyak orang tua membesarkan anak berdasarkan pengalaman yang mereka 

terima dari generasi sebelumnya. Akibatnya, pola pengasuhan tertentu terus diwariskan tanpa  pernah dipertanyakan apakah masih relevan atau tidak. 

Menurutku, menjadi orang tua bukan hanya soal memiliki anak, tetapi juga tentang kesiapan  untuk terus belajar. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi mereka  membutuhkan orang tua yang mau memahami bahwa anak juga manusia yang memiliki  perasaan, kebutuhan emosional, dan hak untuk didengarkan. 

Catatan: Aku bukan seorang psikolog. Tulisan ini merupakan refleksi dan opini pribadiku  berdasarkan pengamatan serta pemikiranku mengenai pentingnya ruang bagi anak untuk  mengekspresikan emosinya.