Kehidupan manusia modern, dengan segala kemajuan teknologi, urbanisasi, dan deregulasi nilai-nilai tradisional, telah menciptakan kondisi eksistensial yang berbeda dari peradaban sebelum nya. Namun, alih-alih memberikan rasa kebebasan dan pemenuhan diri, peradaban kali ini justru menampilkan wajah baru dari krisis yang lebih dalam: yakni krisis eksistensial. Rollo May, seorang tokoh utama dalam aliran psiko-eksistensialis, melihat bahwa manusia modern sering kali mengalami alienasi dari dirinya sendiri, dari sesama manusia, dan dari makna hidup itu sendiri. Dalam bukunya The Meaning of Anxiety (1950) dan Man’s Search for Himself (1953), May menggambarkan bagaimana modernitas justru memperdalam kecemasan eksistensial, bukan menyembuhkannya.
May menekankan bahwa krisis eksistensial bukan sekadar gejala psikologis, melainkan merupakan respon manusia terhadap kondisi eksistensial yang absurd, ambigu, dan penuh ketidakpastian. Manusia modern dihadapkan pada kebebasan yang nyaris tak terbatas, yang justru membuat manusia tercekik oleh tuntutan untuk “menjadi seseorang yang sebagai” dalam sistem sosial yang impersonal. Menurut May, manusia kehilangan orientasi hidup karena nilai-nilai eksternal (seperti prestasi, konsumsi, dan status sosial) menggantikan pengalaman otentik tentang keberadaan manusia yang empiris dan romantis. Yaa dii tengah ketidakpastian tersebut, kecemasan menjadi bentuk kesadaran yang menyakitkan namun diperlukan—karena dari kecemasanlah lahir potensi untuk perubahan dan pertumbuhan manusia.
Dalam pandangan psiko-eksistensialis May, makna hidup tidak diberikan secara apriori, melainkan harus ditemukan dan diciptakan melalui keterlibatan otentifikasi manusia dengan dunia. Manusia tidak bisa hanya menjadi penonton pasif kehidupan; ia harus berani mengambil risiko, menanggung kesendirian, dan menghadapi ketidakpastian untuk dapat menjadi diri yang sejati. Di sinilah muncul konsep keberanian untuk “eksis”, yang oleh May disebut “the courage to be.” Keberanian ini bukan tentang tidak takut, tetapi tentang mampu bertahan dan bertumbuh meskipun diliputi rasa takut, terutama rasa takut akan ketidakbermaknaan hidup.
Kondisi objektif manusia abad ke-21 ini menguatkan relevansi pemikiran May. Fenomena seperti kesepian digital, kesakitan kontemporer, depresi eksistensial di kalangan anak muda, dan hilangnya rasa empati dalam masyarakat individualistik menandakan bahwa persoalan eksistensial bukan masalah usang, melainkan semakin menggejala dan semakin nyata. Meskipun secara fisik manusia hidup lebih nyaman dibanding masa lalu, secara eksistensial banyak orang merasa hampa, kehilangan arah, dan terperangkap dalam rutinitas tanpa makna. Ini menunjukkan bahwa kesehatan mental di era modern tak bisa dilepaskan dari krisis makna hidup. bukan semata-mata dari ketidakseimbangan struktur politik atau tekanan sosialogis saja.
Dengan demikian, Rollo May mengingatkan kita bahwa jalan keluar dari krisis eksistensial tidak terletak pada pelarian ke kesenangan instan atau pencapaian luar, tetapi pada keberanian untuk hidup secara otentik—menemukan, mencipta, dan mempertanggungjawabkan makna hidup secara personal. Psikologi eksistensial bukan menawarkan solusi cepat, melainkan pencerahan akan realitas terdalam manusia sebagai makhluk yang bebas sekaligus terbatas. Dalam dunia yang terus berubah, pesan May tetap relevan: “bahwa menjadi manusia bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga tentang bertanya—dan menjawab—apa arti dari hidup itu sendiri.”







