Hidup manusia selalu dikelilingi oleh mitos. Ia tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya berganti rupa. Jika pada masa lalu mitos hadir dalam kisah para dewa, roh alam, dan kekuatan adikodrati, maka hari ini ia tampil lebih sederhana, lebih akrab, dan justru lebih sulit disadari. Mitos itu kini menyelinap ke dalam layar gawai, ke notifikasi yang berbunyi tengah malam, dan akhirnya berdiam tenang di keranjang belanja kita.
Masyarakat modern sering merasa dirinya telah sepenuhnya rasional. Kita hidup di zaman sains, data, dan teknologi. Segala sesuatu tampak dapat dihitung, diukur, dan diprediksi. Namun, di balik kepercayaan diri itu, tersimpan satu ironi: semakin maju peradaban, semakin halus pula cara mitos bekerja. Kita tidak lagi mempersembahkan sesaji kepada dewa, tetapi kita rela menunggu jam tertentu, tanggal kembar, atau hitungan mundur demi sebuah diskon yang diyakini membawa kebahagiaan.
Budaya belanja massal—flash sale, harbolnas, diskon besar-besaran—telah menjadi semacam ritual bersama. Ia dirayakan, ditunggu, dan dipatuhi tanpa banyak tanya. Banyak orang membeli bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan yang sulit dijelaskan secara rasional. Ada rasa takut ketinggalan, ada janji kepuasan instan, dan ada keyakinan samar bahwa kesempatan itu “tidak akan datang dua kali”. Dalam suasana semacam ini, akal budi sering kali diminta menyingkir sejenak.
Tulisan ini hendak membaca fenomena tersebut bukan dari sudut ekonomi semata, melainkan dari cara manusia berpikir dan memaknai tindakannya. Dengan meminjam kerangka klasik peralihan dari mitos ke logos—sebagaimana diperkenalkan oleh Thales—tulisan ini ingin menunjukkan bahwa konsumerisme modern bukan sekadar persoalan gaya hidup, melainkan cermin dari cara berpikir manusia masa kini. Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah kita benar-benar telah meninggalkan mitos, atau justru sedang hidup nyaman di dalamnya, dengan keranjang belanja sebagai altar barunya?
Ritual Konsumsi dan Kehidupan Sehari-hari
Belanja, pada dirinya sendiri, adalah aktivitas yang biasa. Ia lahir dari kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Namun dalam praktik masyarakat modern, belanja tidak lagi berhenti pada pemenuhan kebutuhan. Ia berkembang menjadi peristiwa sosial, bahkan perayaan. Pada momen-momen tertentu—tanggal kembar, akhir tahun, atau tengah malam—belanja berubah menjadi sesuatu yang “harus dilakukan”, seolah-olah ada yang kurang jika dilewatkan.
Fenomena ini mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang rela begadang demi menunggu jarum jam menunjuk angka tertentu. Notifikasi dipantau dengan cermat. Jari-jari bersiap di layar ponsel, berharap lebih cepat dari orang lain. Dalam hitungan detik, barang masuk ke keranjang, transaksi terjadi, dan euforia singkat pun hadir. Semua berlangsung cepat, nyaris tanpa jeda untuk berpikir.
Menariknya, banyak keputusan konsumsi diambil bukan karena kebutuhan yang nyata, melainkan karena dorongan emosional yang kuat. Bahasa yang digunakan dalam promosi memainkan peran penting: “kesempatan terakhir”, “stok terbatas”, “diskon terbesar tahun ini”. Kalimat-kalimat ini bekerja seperti mantra. Ia tidak memerintahkan secara langsung, tetapi membujuk dengan halus, menciptakan rasa takut kehilangan dan harapan akan kepuasan.
Dalam suasana seperti ini, belanja menjadi ritual modern. Ada waktu yang dianggap istimewa, ada objek yang dikejar, dan ada janji kebahagiaan yang menyertainya. Barang yang dibeli sering kali tidak segera digunakan, bahkan kadang terlupakan. Namun yang dicari sebenarnya bukan benda itu sendiri, melainkan perasaan: rasa puas karena berhasil “mendapatkan”, rasa aman karena tidak tertinggal, atau sekadar hiburan sesaat di tengah rutinitas hidup yang melelahkan.
Jika dicermati lebih jauh, pola ini memperlihatkan kesamaan dengan praktik-praktik mitologis pada masyarakat tradisional. Ada kepercayaan bahwa tindakan tertentu—dalam hal ini membeli pada waktu yang tepat—akan membawa hasil yang lebih baik. Ada pula ketundukan pada aturan yang tidak sepenuhnya dipahami, tetapi diterima begitu saja karena “semua orang melakukannya”. Konsumerisme, dengan demikian, tidak hanya membentuk perilaku, tetapi juga cara berpikir.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam masyarakat yang terus didorong untuk mengonsumsi sebagai ukuran keberhasilan dan kebahagiaan. Kepemilikan barang sering kali dijadikan penanda pencapaian hidup. Dalam kondisi seperti ini, belanja bukan lagi soal perlu atau tidak, melainkan soal makna dan pengakuan. Keranjang belanja menjadi ruang simbolik tempat harapan, kecemasan, dan identitas diri bertemu.
Di titik inilah fenomena konsumerisme layak dibaca secara lebih kritis. Bukan untuk menolak belanja sebagai aktivitas manusiawi, melainkan untuk memahami bagaimana ia telah berubah menjadi praktik yang sarat makna, keyakinan, dan pengulangan. Sebelum melangkah lebih jauh, perlu diajukan pertanyaan mendasar: apakah semua ini masih dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, atau justru menandai hadirnya mitos baru dalam kehidupan modern?
Antara Mitos dan Logos dalam Budaya Konsumsi
Sejak awal peradaban, manusia selalu berusaha memahami dunia yang dihidupinya. Pada masa-masa awal, usaha itu diwujudkan dalam bentuk mitos. Melalui mitos, manusia menjelaskan asal-usul alam, bencana, keberuntungan, dan nasib hidupnya. Mitos memberi rasa aman dan kepastian, meskipun tidak selalu dapat diuji kebenarannya. Ia diterima, diwariskan, dan dijalani sebagai sesuatu yang sudah seharusnya demikian.
Sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, muncul sebuah cara berpikir yang berbeda dalam kebudayaan Yunani Kuno. Salah satu tokoh penting dalam perubahan ini adalah Thales dari Miletos (sekitar 624–546 SM). Thales hidup pada masa ketika penjelasan tentang dunia masih sangat didominasi oleh kisah para dewa. Namun, ia mengambil jarak dari cara berpikir tersebut. Ia tidak lagi puas dengan penjelasan mitologis dan mulai bertanya: apakah alam semesta ini dapat dipahami dengan akal budi manusia?
Dalam menjawab pertanyaan tentang prinsip dasar (arkhē) dari segala sesuatu, Thales mengajukan jawaban yang sederhana namun revolusioner: air. Bukan dewa, bukan kekuatan gaib, melainkan sesuatu yang konkret, nyata, dan dapat diamati. Air, menurut Thales, menjadi dasar dari segala yang ada karena darinya kehidupan muncul dan kepadanya segala sesuatu kembali. Terlepas dari benar atau tidaknya jawaban tersebut menurut ilmu pengetahuan modern, yang terpenting adalah cara berpikir yang digunakannya. Thales memperkenalkan logos—akal budi—sebagai sarana untuk memahami realitas.
Logos, dalam pengertian ini, bukan sekadar kemampuan berpikir, melainkan keberanian untuk mempertanggungjawabkan penjelasan tentang dunia secara rasional. Dunia tidak lagi diterima begitu saja sebagai misteri yang tak tersentuh, tetapi dipahami sebagai sesuatu yang dapat diselidiki. Dengan demikian, filsafat lahir bukan dari penolakan total terhadap mitos, melainkan dari ketidakpuasan terhadap penjelasan yang tidak memberi ruang bagi akal.
Kerangka pemikiran inilah yang dapat digunakan untuk membaca budaya konsumsi modern. Konsumerisme hari ini bekerja dengan cara yang, pada tingkat tertentu, serupa dengan mitos lama. Ia menawarkan narasi yang tampak masuk akal, tetapi jarang dipertanyakan. Diskon, promo, dan flash sale tidak sekadar informasi ekonomi, melainkan cerita tentang kebahagiaan, keberhasilan, dan rasa cukup. Dalam narasi ini, membeli bukan lagi tindakan rasional semata, melainkan jalan menuju makna diri.
Keputusan konsumsi sering kali tidak lahir dari pertimbangan logos, melainkan dari dorongan yang dibungkus bahasa persuasif. Ungkapan seperti “mumpung murah” atau “takut kehabisan” bekerja lebih kuat daripada pertanyaan sederhana: apakah ini sungguh saya butuhkan? Dalam situasi ini, manusia modern tidak jauh berbeda dengan manusia arkhais yang menggantungkan keselamatannya pada ritual. Bentuknya berubah, tetapi struktur berpikirnya tetap sama: percaya lebih dulu, berpikir belakangan.
Logos ala Thales menuntut hal sebaliknya. Ia menuntut manusia untuk memberi alasan atas tindakannya. Mengapa membeli? Untuk apa? Apa dampaknya bagi hidup saya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering tenggelam dalam hiruk-pikuk konsumsi. Manusia lebih memilih mengikuti arus pasar, menyerahkan keputusan pada tren, algoritma, dan janji kepuasan instan. Dalam proses ini, akal budi pelan-pelan tersisih.
Budaya konsumsi juga menciptakan ketergantungan yang halus namun kuat. Hasrat tidak lagi lahir dari kebutuhan nyata, melainkan diproduksi dan dipelihara secara terus-menerus. Apa yang sedang tren dianggap sebagai apa yang perlu. Rasionalitas digantikan oleh pengulangan: jika banyak orang melakukannya, maka itu dianggap wajar dan benar. Logos kehilangan daya kritisnya, sementara mitos baru bekerja dengan rapi.
Namun, sebagaimana pada masa Thales, logos selalu membuka kemungkinan lain. Dengan akal budi, manusia dapat mengambil jarak dari dorongan sesaat, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh apa yang berhasil dibeli. Logos membebaskan manusia dari ketundukan pada narasi pasar, sebagaimana dulu ia membebaskan manusia dari penjelasan mitologis tentang alam.
Dengan demikian, konsumerisme modern dapat dipahami sebagai medan pergulatan lama yang hadir dalam wajah baru: antara mitos dan logos, antara menerima dan mempertanyakan. Mitos tidak pernah benar-benar lenyap; ia beradaptasi dengan zaman. Tantangan manusia hari ini bukan menolak konsumsi, melainkan menempatkannya dalam horizon kebijaksanaan—agar akal budi tetap menjadi penuntun, bukan penonton.
Apakah Konsumerisme Sepenuhnya Irasional?
Kritik terhadap budaya konsumsi tidak boleh berhenti pada penghakiman sepihak. Akan terlalu mudah mengatakan bahwa konsumerisme modern sepenuhnya irasional, seolah-olah setiap tindakan belanja selalu lahir dari kebodohan atau kelemahan berpikir. Kenyataannya, hidup manusia tidak pernah bergerak hanya dalam wilayah rasio murni. Ada emosi, ada kelelahan, ada kebutuhan untuk merayakan diri setelah hari-hari yang panjang dan melelahkan. Dalam konteks ini, belanja kerap menjadi jeda, pelarian kecil yang memberi rasa senang, meski sementara.
Konsumerisme juga memiliki fungsi sosial yang tidak dapat diabaikan. Ia menciptakan ruang perjumpaan, bahan obrolan, bahkan rasa kebersamaan. Diskon besar-besaran sering kali menjadi peristiwa kolektif yang menghubungkan banyak orang dalam pengalaman yang sama. Dalam batas tertentu, hal ini memperlihatkan bahwa konsumsi tidak selalu bersifat individualistik. Ia dapat menjadi sarana membangun relasi, berbagi cerita, dan menegaskan keberadaan diri di tengah komunitas.
Di titik ini, mitos tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif. Sebagaimana dalam kebudayaan tradisional, mitos kerap berfungsi memberi makna, arah, dan rasa keteraturan. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, narasi-narasi konsumsi mungkin menjadi cara manusia modern menenangkan diri dan mengisi kekosongan. Masalah muncul ketika mitos tersebut tidak lagi disadari sebagai simbol, melainkan diterima sebagai kebenaran mutlak yang mengatur seluruh tindakan hidup.
Karena itu, persoalan utama bukanlah ada atau tidaknya mitos, melainkan sejauh mana manusia memberi ruang bagi logos untuk bekerja. Konsumerisme menjadi problematis ketika ia menguasai nalar, bukan ketika ia sekadar hadir sebagai bagian dari kehidupan. Sikap reflektif diperlukan agar manusia tetap dapat menikmati konsumsi tanpa kehilangan kebebasan berpikir. Logos tidak dimaksudkan untuk mematikan hasrat, melainkan untuk menjaga agar hasrat tidak berubah menjadi ketundukan.
Dengan demikian, kritik terhadap konsumerisme seharusnya mengarah pada keseimbangan. Mitos dan logos tidak selalu berada dalam hubungan yang saling meniadakan, melainkan dapat saling mengoreksi. Dalam kesadaran inilah manusia modern dapat menjalani hidup yang lebih jujur terhadap dirinya sendiri: menikmati dunia tanpa larut di dalamnya, dan berpikir tanpa kehilangan rasa.





