Infeksi ketercanduan massal, distopia keberlanjutan, dan perakus memenuhi dunia, entah mengapa yang saya pikirkan hanya satu, menulis dengan perasaan. Zona keterbatasan, memicu moodyian saya untuk berekspresi. Tapi, lain sisi, saya melihat keimpotenan sastra menghadapi kontrol zaman. Dengan jalan ninja, berkontemplasi bersama guling dan tembok, saya mencoba melakukan pencegahan dini dari keimpotenan. Diskursif terbatas, tentang romantisme murahan, melankolis kematian, penghapus harapan, juga pembius ketertundukkan, saya melihat sastra hari ini seperti itu. Bayangkan jika itu terus dilanjutkan, bagaimana medium kejujuran dapat melanggeng di arena simbolik. Melalui paranormal atau di luar kewarasan, saya mencoba menghadirkan sastra sebagai sesuatu yang berbeda, alegori dari tanah subur segala pemikiran, itulah yang saya pahami tentang sastra.
Zona ketidakjelasan, memicu sastra untuk bersembunyi pada selera kontrol massa, Memicu stagnasi, dan kehancuran diri sendiri. Dari pada itu, bahasa memaku sastra untuk diam di tempat, tak bisa berlari dari kamus-kamus yang menyebalkan. Makna hanya didapat, ketika regulasi administratif terpenuhi, selain itu, bukan disebut dengan makna. Melalui diskursif kehancuran sampai pada titik perdamaian, kali ini saya membawa sastra berada di zona terluar kewajaran. Karena, semakin terkikisnya sastra oleh zaman, medium kejujuran dapat tergantikan dengan medium kewajaran. Fungsi reflektif teralienasi oleh topeng kelabu, dan sastra tak dapat mencapai artian sejatinya.
Oleh karenanya, saya mencoba menyatupadukan dari berbagai pemikiran yang ada. Bertujuan memperlihatkan sastra, tak hanya soal selera dari genre-genre, melainkan ladang luas untuk dipenuhi rumput hijau. Paranormal bukan artian mistis bagi saya, melainkan sebuah pembeda dari yang sudah ada. Meredefinisi sastra tanpa ada pakuan tertentu, hanya dengan bahasa jiwa dan hasrat.
Ini bukan uraian kesimpulan pada lembaran akhir, melainkan awal dari pembaharuan. Menjadi skincare untuk mencegah penuaan dini dari sastra. Pembaharuan yang tak terpaku dalam kamus, dan kekakuan. Melainkan laboratorium untuk melakukan eksperimen—bukankah suatu teori tercetus melalui asumsi liar.
Pada sebuah komprehensif, mulai dari wacana kehancuran, hingga perdamaian. Saya mencoba, untuk mengembalikan sastra sebagai medium kejujuran, dan arena lalu-lintas pemikiran yang terus berkembang. Dengan gaya moodyian saya, saya mencoba menuangkan pemikiran yang terkadang melebihi batas kenormalan. Membawa pembaca, untuk menelusuri diskursif sastra yang belum terjamah. Dan menegaskan, bahwa sastra belum memasuki masa menopause, ia masih terus berlanjut mengikuti dinamika kejelimetan dunia yang utek-utekan.
Akhir pada sequel sastra, tanpa rubrikasi selera. Sebuah eksperimen, untuk membangun gaya fikmi yang nyentrik. Bukan berarti slang, melainkan memacu pembaca untuk berpikir dalam kejelimetan permainan bahasa. Dengan itu, saya tak bertujuan khusus untuk menunjukkan kebenaran, melainkan proses pencarian makna. Karena, setiap orang mempunyai kacamata untuk melihat dunia. Ya, karena saya harus melanjutkan untuk berkontemplasi—sejujurnya malas formal sih, mari kita akhiri Paranormal Sastra. Juga, selamat untuk mengarungi lautan diskursif yang terus berkembang di tanah subur yang menunggu rumput-rumput untuk ditanamkan, yaitu sastra.







