BUNG MAHBUB: “AKU INGIN MENULIS HINGGA TAK MAMPU LAGI MENULIS”

Wilujeng Ngajadi Ngadaun Ngora, PMII..
Happy Birthdays yang ke-66..


Tahun 2009, ketika masih kuliah semester dua di UIN SGD Bandung, takdir melesakkanku untuk menjadi anggota PMII (Pergerakkan Mahasiswa Islam Indonesia). Menjadi anggota organisasi ekstra yang satu ini bukan tanpa resiko, sebab aku harus berhadapan langsung dengan ibu kandungku yang seorang dosen: dia merupakan kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) saat masih menjadi mahasiswa.

Waktu itu yang kutahu, di kampus, hubungan HMI dan PMII seperti Tom and Jerry atau Bernard Bear dan Si Congcorang: kurang akur. Untungnya, aku dan ibuku telah kenyang menikmati perbedaan yang tumbuh dalam keluarga. Jadi kami santai-santai saja, ketika bendera hijau melahirkan bendera kuning. Kesantaian dalam perbedaan itu kubuktikan kembali, ketika kunikahi pacarku yang merupakan anggota HMI. Entah nanti anakku, mungkin kusuruh dia jadi pemain Real Madrid.

Dibandingkan kader-kader PMII lain, aku adalah salah satu yang amat santai menjalani kegiatan organisasi. Aku kerap kurang semangat jika diajak demonstrasi, jarang mengikuti kegiatan diskusi keilmuan, dan kurang bertanggung jawab saat menjadi pengurus rayon serta komisariat. Namun, sejarang-jarangnya seorang Muslim salat lima waktu, bukan berarti dia tidak menyayangi agama Islam. Atau segampang-gampangnya seorang hamba bermaksiat, itu tidak lantas menggugurkan cintanya kepada Gusti Allah dan Rasul-Nya.

Aku pun demikian, sampai hari ini masih menderas di gendang telingaku lagu Mars PMII, masih mengental di pemikiranku ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, masih terasa getaran semangat saat berteriak ‘Tangan terkepal dan maju ke muka. Lawan!’ Dan aku tak bisa melupakan sebuah nama yang amat familiar di telinga para kader PMII: Bung Mahbub Djunaidi. Dia adalah salah satu pendiri dan pernah menjadi ketua umum PB PMII selama tiga periode, sekaligus pencipta lagu Mars PMII dan Gerakan Pemuda Ansor.

Dari keseluruhan dimensi diri Bung Mahbub Djunaidi, satu hal yang paling kujaga dari semangat hidupnya sampai hari ini, yaitu tulis-menulis. Dalam dunia kepenulisan, betapa nama Mahbub sangat diperhitungkan di masanya bahkan hingga hari ini. Banyak kolom, puisi, dan esai yang lahir dari tangannya, terbit di banyak media masa. Bahkan novelnya ‘Dari Hari Ke Hari’, pernah menjadi juara sayembara novel DKJ. Hingga sekarang, buku-bukunya masih terus dicetak ulang.

“Aku akan menulis dan terus menulis sampai tak mampu lagi menulis,” demikianlah fatwa yang ia hujamkan pada dirinya sendiri. Maka ruh kepenulisannya, dengan kekhasan satire dan humor, tak pernah hilang meski dirinya telah menjadi seorang agamawan, politisi, organisatoris dan budayawan. ‘Kolom demi Kolom’, ‘Angin Musim’, ‘Dari Hari Ke Hari’, ‘Asal Usul’, ‘Humor Jurnalistik’, adalah beberapa buku yang dilahirkannya.

Tak sekedar novel atau esai, Bung Mahbub pun penulis cerpen yang handal. Beragam majalah dan surat kabar merekam jejak karya sastranya dalam bentuk cerpen antara lain: “Kalau Sore-Sore” dalam Merdeka (1955), “Lahirnya Seorang Petani” dalam Siasat (1955), “Manisku Mau ke Mana?” dalam Forum (1955), “Tamu dari Timur” dalam Prosa (1955), “Mati dalam Senyum” dalam Star Weekly (1956), dan “Lagu Sebelum Tidur” dalam Kisah (1957). Sedang dalam bentuk sajak yang misalnya: “Doa”, “Gadis Main Piano”, “Makam Pahlawan Karet”, “Pertemuan dan Perpisahan”, dan “Anak yang Kematian” pernah terbit di Siasat (1952-1953).

Di awal Orba berkuasa, ketika tulisannya dinilai terlalu tajam, dia harus mendekam di balik ngerinya jeruji besi selama satu tahun. Jasad boleh terpuruk, tapi nalar menulisnya ternyata tak bisa punah. Di penjara inilah ia menerjemahkan ‘Road To Ramadhan’ karya Husen Haikal, dan menulis novel ‘Maka Lakulah Sebuah Hotel’. Para penguasa kerap lupa dawuh Marquis de Sadde, bahwa seniman, termasuk penulis, justru dalam ketertekanan, akan tetap berkembang.

Presiden Soekarno adalah salah seorang yang jatuh cinta pada tulisan pemikiran Bung Mahbub, apalagi ketika Bung Mahbub berani menulis, “Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence” Si Bung sampai pernah mengundang Bung Mahbub Djunaidi ke Istana negara. Pada pertemuan inilah Bung Mahbub menjadi dekat dan cukup terpengaruh dengan nasionalisme Soekarno. Ini dibuktikan ketika ia menghadiri pertemuan wartawan di Vietnam, meski fasih berbahasa Inggris dan Perancis, Bung Mahbub tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana berkomunikasi. “Bahasa Prancis bukan bahasa lu, bahasa Inggris bukan bahasa gua!” begitu katanya. Kalem tapi menohok dada.

Tak cuma menulis, Bung Mahbub pun terkenal sebagai penerjemah. “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” karya Michael H. Hart, “Binatangisme” alias ‘Animal Farm” karya George Orwell, adalah sebagian buku megah yang diterjemahkannya. Kelihaian inilah yang tak kupunya. Sebab kemampuanku dalam berbahasa asing, lebih buruk daripada ketika aku tidur ngorok di dalam bus kota.

Sebagai salah satu bentuk tabarruk kepada sahabat Mahbub Djunaidi, pada awal aku jualan kaos tokoh tahun 2012, satu tahun setelah menjadi Tukang Buku, wajah dialah yang pertama kali menjadi gambar dessain, sekaligus menyelipkan kata-katanya yang cukup terkenal: ‘DEMOKRASI BISA MATI DI NEGERI DEMOKRAT DENGAN CARA YANG DEMOKRATIS’